
"Kita lihat saja nanti. Sekarang, cepat bersihkan tubuhmu dan aku akan mengantarkanmu ke kampus," titah Dave meraih dan memakai boxernya.
"Mas, aku mau tanya?" ucap Vera menghentikan pergerakan suaminya.
"Apa?"
"Apa wanita itu tahu, jika Mas Dave sudah mempunyai istri? atau Mas Dave masih merahasiakan pernikahan kita?"
"Dia tidak tahu mengenai pernikahan kita. Aku mengenalkan mu padanya dengan status kekasih Excel," jawab Dave kemudian berjalan keluar kamar.
'Kekasih Mas Excel? apa karena ini, Mas Excel pindah ke rumah ini,' batin Vera kemudian dia mulai menuruni ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Dave berjalan menuruni tangga dengan senyum bahagianya, dia berjalan menuju kamar sahabatnya yang berada di lantai dasar
Krek ...
Pintu dibuka dari luar, dan masuklah sosok Dave yang menyelinap masuk. Terlihat sahabatnya yang sedang terlelap dalam tidurnya.
"Dasar pemalas, sudah siang begini dia masih tidur!" gumam Dave menggelengkan kepalanya.
Samar-samar Excel mendengar suara gemercik di dalam kamarnya, dia memastikan pendengaran dengan mata terpejam. Setelah benar-benar mendengar suara gemercik air dan dirinya tidak bermimpi, Excel mengucek matanya berulang kali dan menggeliat merentangkan kedua tangannya.
"Siapa yang memakai kamar mandiku di pagi hari, hem!" gerutu Excel mengibaskan selimut dan menuruni ranjang.
"Woy, siapa! main pakai kamar mandi orang!" teriak Excel menggedor pintu kamar mandinya.
'Apa jangan-jangan setan. Secara kan, kamar ini sudah lama tidak ditempati,' batin Excel, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri tegak, "Kok, aku jadi merinding ya?" gumamnya lirih sambil pandangannya mengedar ke seluruh sudut kamarnya.
"Hei, bicara! yang di dalam orang kan? bukan setan atau iblis yang menyukaiku?" teriak Excel.
Setelah beberapa menit tidak ada jawaban dari dalam kamar mandi, perasaan Excel semakin takut, dia mencari sapu atau kayu di kamarnya, karena tiba-tiba suara gemercik air sudah hilang.
"Dave?" kau di dalam kan?" tanya Excel memastikan.
"Jangan buat aku takut, Dave!"
"Yang di dalam Dave, kan? Atau hantu Dave!"
__ADS_1
Krek ...
Pintu terbuka, munculah sosok pria dengan jubah mandinya, "Berisik, kau menganggu acara mandiku, saja!" ucap Dave berjalan dan menjatuhkan bokongnya di tepi ranjang sahabatnya.
"Huh!"
"Lain kali bicara dulu atau ... paling tidak, mengetuk pintu dulu, sebelum masuk ke dalam kamar orang. Beruntung, aku sedang memakai baju, jika tidak bagaimana?"
"Memangnya, siapa yang berselera dengan tubuhmu itu. Aku sudah mempunyai apa yang kamu punya. Jadi, cepat mandi! kita bisa telat!" ucap Dave beranjak dari kasur.
"Tunggu dulu Dave! kenapa kamu tidak menggunakan kamar mandimu yang berada di kamarmu? jika kamar mandimu rusak, kau bisa menggunakan kamar mandi setiap kamar yang kosong, kenapa harus kamar mandiku?" tanya Excel kesal.
"Aku tanya padamu, ini rumah siapa?"
"Kamu," jawab Excel.
"Yang berhak mengatur di rumah ini siapa?"
"Kamu, eh- tapi tidak bisa seperti itu, ini sudah menjadi kamarku!" ketus Excel, "Mulai besok, kau dilarang masuk ke dalam kamarku. Karena ini, bersifat privasi. Siapa tahu, aku sedang mabuk dan membawa seorang wanita, lalu kamu melihat semuanya. Aduh ... bisa kikuk kan!"
"Sekarang, cepatlah bersiap-siap! aku akan kembali ke kamarku," titah Dave.
"Aku belum selesai bicara, Dave! aku mencium aroma sekss dalam tubuhmu ini. Jangan bilang, semalaman kau bertarung dengan istrimu!"
"Bukan urusanmu! mau aku bertarung atau bertengkar, itu bukan urusanmu. Aku takut, kau iri denganku," sindir Dave membuat Excel Memonyongkan bibirnya.
"Awas saja, nanti aku akan mencari pujaan hatiku, dan aku ... aku akan memperkenalkan padamu, aku akan mencari yang lebih cantik dan lebih seemmokk melebihi istrimu itu," ketus Excel menarik paksa tubuh Dave agar keluar dari kamarnya.
"Buktikan ucapanmu, baru aku percaya. Statusmu yang terlalu lama menjomblo membuatku tidak mempercayai semua ucapanmu." teriak Dave saat pintu kamar Excel sudah tertutup rapat.
Setelah sampai di kamarnya, Dave bisa melihat istrinya yang tengah berdandan. Memoles wajahnya dengan sedikit make up yang baru saja dibelikan olehnya.
Wajahnya terlihat cantik, pipinya yang sedikit chubby menambah kesan imut dan menggemaskan di mata Dave.
"Mas, Mas Dave cepat siap-siap! aku bisa telat aku ada jam kuliah di pagi hari," ucap Vera saat melihat suaminya mematung di depan pintu.
"Tunggulah di meja makan. Bibi sudah menyiapkan makan serta bekal untukmu," ucap Dave membuat ver8 mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Tumben sekali Mas, tidak perlu menyiapkan bekal untukku. Aku bisa membeli makan di kantin atau di tempat makan terdekat," jawab Vera memoles bibirnya dengan lipstik berwarna nude.
"Aku tidak ingin dibantah. Dan jika mau protes, proteslah pada Bibi. Aku sudah putuskan, mulai hari ini, setiap hari kau harus membawa bekal. Paham?"
"Tapi, aku bukan anak kecil, Mas! aku bukan anak PAUD yang harus dibawakan bekal," kesal Vera, "Tidak sekalian bawakan aku air minum dan pengasuh!"
"Hahaha ... bagus juga idemu, aku akan meminta Bibi membawakan botol minum dan aku akan meminta Lord mengetatkan penjagaan."
"Terserah mu saja, Mas!" ketus Vera berjalan keluar kamarnya tak lupa dia mengambil tas beserta ponselnya yang berada di atas ranjang.
"Lama-lama bisa gila, jika aku mempunyai suami seperti Mas Dave!" gerutu Vera yang masih bisa di dengar oleh Dave.
"Aku akan membuatmu gila! sampai-sampai tak bisa melupakanku!" gumam Dave tak bisa di dengar oleh istrinya.
Setelah selesai dari sarapan paginya, Dave, Vera dan Excel berangkat menggunakan satu mobil, dengan Excel sebagai supirnya.
"Mas, botolnya kenapa berwarna pink. Memangnya, aku anak kecil!"
"Aku lebih suka warna kuning atau ungu," gerutu Vera menenteng satu set bekalnya yang berwarna pink.
"Excel yang memilihkannya, bukan aku," jawab Dave.
"Mas Excel, Mas Excel senang ya, aku diperlukan seperti anak kecil oleh Mas Dave!" gerutu Vera, matanya menatap punggung Excel yang sedang menyetir.
"Saya mempersiapkan untuk anak Nyonya kelak, tapi Bibi membutuhkannya. Ya sudah, aku berikan pada Bibi," jawab Excel terkikik.
Mata Vera membulat sempurna, "Anakku? jangan berpikir yang aneh-aneh, mana mungkin aku hamil!"
"Semua bisa terjadi, ingat Nyonya, setiap malam anda bertempur di atas ranjang dengan Dave!" jawab Excel.
"Mas! kau menceritakan semuanya pada sekertarismu itu?" tanya Vera tak percaya.
Dave menggelengkan kepalanya kemudian menendang kursi yang di duduki Excel, "Jaga bicaramu. Jika aku menempurnya setiap hari, lalu apa masalahnya? dia istriku! aku berhak atas seluruh tubuhnya!" ucap Dave.
"Mas, jaga ucapanmu. Aku malu dengan Mas Excel!" ucap Vera menyembunyikan wajahnya di balik jas suaminya.
Bersambungš
__ADS_1