
"Siapa juga yang tergoda! Cepat pakai, pakaianmu! Jangan membuat dosenmu menunggu lama!" titah Dave, berjalan melewati istrinya.
'Kenapa dia bisa se sexxy ini! Dan kenapa, junior juga berdiri tegak? Padahal, semalam aku sudah bermain dengannya. Aku benar-benar candu akan tubuhnya. Dan aku, tidak bisa menahan terlalu lama, lagi!' gumam Dave dalam hati, kemudian memutar tubuhnya agar menghadap istrinya.
Vera tersenyum sinis, saat ekor matanya melihat sang suami menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Apa Mas Dave meninggalkan sesuatu?" ucap Vera, sembari memakai dalamaaannya.
"Iya, aku meninggalkan sesuatu dan harus aku tuntaskan sekarang juga," ujar Dave, berjalan lalu melingkarkan tangannya di pinggang istrinya, "Boleh kan, aku melakukannya," sambung Dave lagi, tangannya mulai menjelajahi setiap inchi tubuh istrinya.
Vera meleguh saat tangan suaminya mulai berkeliaran di ditubuhnya, "A-aku harus be-belajar Mas," jawab Vera terbata-bata. Tangannya berusaha menepis tangan suaminya yang tengah menerobos masuk memainkan kedua gunung kembarnya.
"Em ... ssshh ... Mas, jangan memancingku! Aku ha-hanya becanda!" sambungnya lagi.
"Siapa yang memancing? Bukankah, yang mulai duluan itu, kamu. Sekarang, kita bermain. Aku janji, kita bermain tidak akan lama. Kamu bisa merasakan, kan? Juniorku sudah berdiri tegak?"
'Sial, kenapa jadi seperti ini. Aku hanya berniat menggoda Mas Dave, tapi kenapa aku hanyut dalam permainanku sendiri,' gumam Vera dalam hati, "Ta-tapi Mas,"
__ADS_1
"Aku tidak butuh tapi-tapian. Aku sudah tidak tahan lagi," ujar Dave, menuntut istrinya yang setengah polos itu ke kasur empuknya.
"Sebentar saja, Mas. Aku tidak mau dosenku mencurigai kita," ucap Vera yang mendapat anggukan dari suaminya.
"Baiklah. Sekarang, kita salurkan hasrat kita dulu. Untuk urusan dosen, biar itu urusan Excel dan Lord," ujar Dave, melepas sabuk yang melingkar di pinggangnya.
Vera tersenyum lalu membantu suaminya melepas sabuk suaminya, "Dan berjanjilah, jangan tinggalkan jejakmu di tubuhku. Aku tidak mau dosenku curiga,"
"Aku tidak bisa menjamin semua itu. Yang aku butuhkan, hanya kamu," jawab Dave, kemudian melempar sabuknya ke sembarang arah.
"Apa lagi!" ketus Dave.
"Jangan tinggalkan apapun di leherku!" titah Vera.
"Hem ...," jawab Dave, mencium aroma vanila yang menjadi wewangi kesukaan istrinya.
Di luar ruangan, terlihat Excel yang tengah kebingungan. Dia melihat dosen yang dipanggilnya tadi, sedang seorang diri.
__ADS_1
"Maaf, Apa Nona Vera belum keluar kamar?" tanya Excel.
"Sudah, dia sedang izin untuk membersihkan diri, dan sudah di susul oleh kakaknya. Mungkin, dia masih bersiap-siap," ucap dosen.
"Kakak?" gumam Excel, 'Apa yang dimaksud kakak itu, Dave? Kalau pun benar, pasti mereka sedang melakukan hal-hal aneh. Dan melupakan kehadiran dosen kampus Vera. Aku tidak bisa biarkan. Aku sudah capek-capek memanggilnya. Dan sekarang, mereka malah asik-asikan bermain kuda-kudaan. Apa waktu di malam hari terasa begitu cepat? Sampai-sampai, pagi hari pun jadi?' gumam Excel dalam hati.
"Biar saya panggilkan dulu. Mungkin, mereka lupa," ujar Excel, kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamar sahabatnya.
Di dalam kamar, terlihat Dave yang tengah menyetubbbuhhi istrinya dengan penuh gairah. Sentuhannya yang memabukan membuat Vera mabuk kepayang.
"Mas ... sshhh ... sudah, ahh ... masukkan! Jangan bermain terlalu lama. Ingat dosen, Mas!" ucap Vera yang sesekali mendeeessaah.
"Tunggu sebentar. Aku belum puas," jawab Dave, memainkan lidahnya di pucuk gunung kembar istrinya.
"Ta-tapi Mas ... sshhh ... masukan Mas. Aku tidak tahan!"
Bersambung 😘
__ADS_1