Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 140


__ADS_3

"Ini vitaminnya. Totalnya semuanya menjadi dua ratus ribu rupiah." titah pegawai apotik.


Vera menyenggol lengan Putra. "Put, aku boleh minta tolong ... aku lupa bawa uang. Kamu adakan uang dua ratus ribu?" bisik Vera.


"Tunggu sebentar. " jawab putra mengeluarkan uang pecahan seratus ribu senilai 2 dua lembar. "Biar saya yang bayar." ucap Putra lagi sambil memberikan uangnya pada pegawai apotik.


'Syukurlah, akhirnya Putra mau membayar vitaminku ini tanpa tahu, kalau vitamin ini adalah vitamin penguat kandungan.' batin Vera.


"Ayo, kita kembali ke taksi. Dan kita cari bakso untukmu. Katamu, kamu mau bakso kan?" titah Putra.


"Tapi kita mau makan di mana, Put? Dan kita mau cari bakso itu di mana?"


"Kita coba cari di restoran saja!" jawab putra menggandeng tangan Vera berjalan masuk menuju taksinya.


'Restoran. Jangan! Jangan sampai Putra membawaku ke restoran. Bisa-bisa, aku tidak jadi kabur. Aku harus mencari tempat lainnya. Bukankah di dekat sini ada taman? Aku bisa mengajak Putra ke taman itu. Pasti di sana banyak orang!' batin Vera.


"Jalan, pak! Kita ke restoran terdekat!" titah Putra pada supir taksi.


"Put, jangan! Aku tidak mau makan di restoran!" tolak Vera sambil menggelengkan kepalanya.


"Lalu, kamu mau makan di mana, Ver?"


"Em, kita ke taman aja, ya! Kemarin aku lihat tukang bakso di taman. Dan baunya sangat wangi! Aku mau makan bakso taman aja!" titah Vera yang mendapat gelengan dari Putra.


"Aku tidak mengizinkanmu. Kemarin kita sudah beli makanan di sana. Kita tidak boleh terlalu sering membeli makanan ringan di taman, Ver! Aku tidak mau kamu sakit!" ucap Putra, "Kita ke restoran terdekat aja!" sambungnya lagi.


"Tapi, Put! Aku kepengin banget bakso yang ada di taman. Aku boleh ya! Makan bakso di taman itu! Please!" mohon Vera. "Aku janji, sedikit saja! Atau kita bungkus saja. Kita makan di rumah." tawar Vera membuat Putra berpikir sejenak.


"Sedikit?" tanya Putra yang mendapat anggukan kecil dari wanita di sampingnya.


"Iya, sedikit!" jawab Vera tersenyum manis.


"Di bungkus, kan? Aku tidak mau, kamu makan di taman. Banyak sekali orang, aku takut ... ada yang mengenalimu!"


"Memangnya kenapa, kalau ada yang mengenaliku, put?" tanya Vera. 'Iyalah, kau takut aku meminta pertolongan pada orang-orang di sana kan!' batin Vera.


"Aku takut kamu pergi lagi dariku, Ver! Tapi demi keinginanmu dan aku tidak mau mengecewakanmu. Maka, aku setuju ... kita beli bakso di taman dengan catatan ... di bawa pulang dan kamu harus pegang tanganku terus! Aku tidak mau, ada pria yang menggodamu di sana!" titah Putra.

__ADS_1


"Okeh. Aku bersedia." jawab Vera, 'Akhirnya, aku ke taman juga. Semoga saja, aku bisa menemukan celah untuk kabur. Aku tidak mau bersama putra terlalu lama. Kasihan calon anakku!' batin Vera.


"Pak, kita ke taman dekat sana, ya!" titah putra menggenggam tangan Vera erat.


"Terimakasih, Put! Kamu memang teman terbaikku!" ucap Vera.


"Aku tidak mau dianggap teman olehmu, Ver! Aku sangat mencintaimu. Dan aku tidak mau orang yang aku cintai bersedih karenaku!" jawab Putra menarik tubuh Vera ke dalam pelukannya. Berulang kali putra menci um pucuk kepala Vera dengan lembut.


"Put! Lepaskan. Kamu tidak boleh bersikap seperti ini. Aku wanita bersuami, Put!" ujar Vera berusaha menarik tubuhnya dari pelukan Putra.


Putra melepas pelukannya. Dia tersenyum manis saat melihat Vera kesal padanya. "Kamu lucu kalau lagi marah." ucap Putra.


"Lucu dari mana? Jangan aneh, Put!"


"Ya, lucu saja. Sedari dulu, aku suka lihat kamu marah, menggemaskan!" ucap Putra lagi.


"Aku menggemaskan? Kata siapa aku menggemaskan." ketus Vera merapikan penampilannya lagi. 'Syukurlah, Putra tidak menyentuh perutku. Bisa ketahuan kalau aku sedang hamil.' batin Vera.


Setelah beberapa menit taksinya membelah jalanan ibu kota. Akhirnya, taksi yang di tumpangi Vera dan putra telah sampai di depan taman.


"Ramai sekali, Ver!" ucap putra.


"Iya, ramai sekali. Sudah lama aku tidak melihat banyak orang seperti ini. Sewaktu kita ke sini kemarin tidak seramai ini, ya!" jawab Vera dengan senyum manisnya. 'Aku harus bisa kabur!' batin Vera.


Di satu sisi. Setelah memakan baksonya. Dave dan Excel akhirnya bergegas untuk pulang dengan sebelumnya Excel membayar bakso pesanan dirinya juga sahabat menggunakan uang sahabatnya.


"Sudah, Dave! Sebaiknya kita pulang! Sudah siang, aku tidak mau kulitku gosong karena sinar matahari di kota ini yang terlalu panas!" titah Excel.


Dave beranjak. Dia berjalan keluar tenda. Dan berjalan keluar taman.


Begitu juga Vera. Dia berjalan masuk ke dalam taman sambil tangannya menggenggam tangan putra.


'Bagaimana caraku untuk kabur?' batin Vera berpikir sejenak.


"Kamu mau makan bakso yang mana, Ver?" tanya Putra membuyarkan lamunan Vera.


"Em, apa Put?" tanya Vera tak mendengar dengan jelas pertanyaan pria di sampingnya.

__ADS_1


"Kamu mau makan bakso yang mana, Ver?" tanya Putra sekali lagi.


"Oh, terserahmu saja, Put! Intinya, aku mau makan bakso yang enak!" ucap Vera sambil memperlihatkan senyum manisnya.


"Baiklah, kita coba makan di sana, ya!" tunjuk putra yang mendapat anggukan kecil dari Vera. Mereka berjalan menuju tukang bakso yang ramai pengunjung.


Di saat Vera dan Putra sedang berjalan menuju penjual bakso. Tiba-tiba Vera menabrak anak kecil yang sedang berdiri di hadapannya.


"Tante!" pekik anak kecil tersebut.


"Aw!" lirih Vera, "Maaf, Tante tidak sengaja."


"Tidak sengaja bagaimana, Tante! Tante ini sudah menabrakku!" kesal anak kecil tersebut.


Vera mensejajarkan tubuhnya dengan anak kecil yang berjenis kelamin laki-laki itu.


"Maaf ya, anak ganteng. Tante tidak sengaja." ucap Vera mengusap kening anak kecil yang berkeringat.


"Ver! ayo!" ajak Putra.


"Kamu pesan dulu, Put! Aku tunggu di sini sambil menenangkan anak kecil ini." jawab Vera.


"Tapi, Ver! Aku takut kamu kabur!"


"Aku tidak mungkin kabur. Bahkan, kamu bisa melihatku di sini. Percaya denganku, Put! Aku tidak mungkin kabur!" ucap Vera meyakinkan Putra.


"Awas kalau kamu kabur, ya! Aku akan memantaumu dari sini!" jawab putra lalu berjalan beberapa langkah menuju penjual bakso yang ramai.


Vera tersenyum tipis. Dia menenangkan anak kecil yang di tabraknya.


Sedangkan di satu sisi. Dave menghentikan langkahnya saat mendengar suara yang tak asing.


"Dave, ada apa?" tanya Excel saat melihat Dave menghentikan langkahnya.


"Aku seperti mendengar suara Vera!" jawab Dave, ekor matanya mencari sumber suara di sekitar taman.


"Jangan aneh, Dave! Vera tidak ada di sini. Sebaiknya, kita pulang! Aku tidak mau kulitku menjadi hitam!" ajak Excel

__ADS_1


__ADS_2