
"Menurutmu! Kenapa banyak tanya. Hujan sangat deras. Cepat bantu aku cari Vera!" titah Dave.
"Baiklah. Kau cari di lantai atas, dan aku cari di lantai bawah! Setelah itu, kita bertemu di sini. Ingat, di sini! Jika kau menemukan keberadaan istrimu, setidaknya beri kabar aku. Aku tidak mau seperti orang gila yang mencari sesuatu tidak jelas!"
"Itu urusan gampang. Sekarang, cari dia dulu!" titah Dave berjalan menaiki tangga.
Melihat Dave pergi. Excel terkikik. Dia menjatuhkan pantatnya di sofa sambil menonton televisi, 'Silahkan cari sampai esok, Dave! Aku akan menunggu sampai kau lelah. Baru aku beritahukan keberadaan istrimu!' batin Excel menatap acara televisi.
Dave mencari ke sekeliling lantai dua. Tetapi, dia tetap tidak menemukan keberadaan istrinya, "Kamu di mana? Apa kamu pergi dengan pria itu! Jika benar, aku akan kecewa!" gumam Dave berhenti sejenak. "Aku coba cek kamar! Siapa tahu, Vera sudah di kamar!" ujarnya lagi sambil berjalan menuju kamarnya.
Krek!
Pintu kamar terbuka dan Dave tidak melihat siapa pun di kamar, di tutupnya lagi pintu kamarnya.
"Masih kosong, di mana dia? Apa Excel sudah menemukan Vera atau belum?"
Merasa lelah karena tak menemukan keberadaan istrinya, Dave berjalan menuruni anak tangga.
Mata Dave membulat sempurna saat melihat Excel yang sedang tertidur di ruang tamu dengan televisi yang menyala.
__ADS_1
"Astaga, anak ini benar-benar kelewatan. Aku meminta dia mencari Vera, tapi kenapa dia malah tidur di depan televisi." geram Dave menarik telinga Excel, membuat Excel terbangun dan meringis kesakitan.
"Aw ... sakit! Siapa yang berani menarik telingaku!" geram Excel.
"Aku! Memangnya kenapa!" ketus Dave semakin menarik telinga Excel sampai berubah kemerahan.
"Dave, kau gila! Telingaku bisa copot! Lepas! Bisa lepasin telingaku sekarang juga!" teriak Excel kesakitan.
"Aku memintamu untuk mencari Vera. Tapi kenapa kamu malah enak-enak tidur di ruang tamu. Apa kamu tidak tahu, hujan di luar sana sangat deras! Bagaimana, kalau dia kabur, ha!"
"Itu bukan urusanku, Dave. Asal mula istrimu kabur karena siapa? Bukan karena aku, kan? Jadi, jangan tarik-tarik telingaku. Bisa copot telingaku!" geram Excel.
"Cepat bantu aku, atau aku usir kamu sekarang juga! Dia sedang hamil, boodoh!" ketus Dave.
"Oh, jadi kau yang menyembunyikan istriku, iya!"
"Eh, mana ada! Istrimu yang datang sendiri. Dia meminta bantuan padaku. Jangan salahkan aku, tapi salahkan kamu!" elak Excel.
"Di mana dia? Atau jangan-jangan, dia ada di kamarmu!" tanya Dave.
__ADS_1
"Tidak, dia tidak ada di kamarku. Lepaskan aku dulu, aku janji ... aku akan beritahu! Sakit!" rintih Excel membuat Dave melepas tangannya.
"Sakit, Dave! Apa kau mau, telingaku copot, ha!" kesal Excel mengusap telinganya yang merah.
"Cepat, beritahu di mana keberadaan istriku!"
"Aku tidak tahu!" jawab Excel.
"Oh, aku akan memecatmu dan mengusirmu dari rumahku sekarang juga! Cepat katakan!" pekik Dave membuat Vera yang sedang tertidur terbangun karena mendengar teriakan Dave dan Excel.
"Siapa sih yang berisik! Mengganggu tidurku saja!" geram Vera berjalan keluar kamar dan melihat suaminya sedang bertengkar.
"Di mana Vera!" tanya Dave.
"Untuk apa kamu mencariku, Mas? Sudah aku bilang, aku mau tidur!" ujar Vera membuat Dave mencari sumber suara.
"Itu istrimu, kan!" timpal Excel kesal, "Aku sama sekali tidak menyembunyikan istrimu!"
"Bilang pada suamimu, Ver! Aku tidak menyembunyikanmu!" ucap Excel.
__ADS_1
"Mas, Mas Excel tidak menyembunyikanku! Kamu apakan Mas Excel sampai dia meringis kesakitan, Hem?" tanya Vera, "Kamu apakan, Mas!"
"Masuk kamar!" titah Dave.