
"Apa dia sakit? tapi kenapa ... tubuh dan wajahnya terlihat segar, tidak seperti orang kesakitan. Atau, aku yang tidak tahu. Lebih baik, aku tanyakan ini pada El, mungkin dia bisa membantuku," sambungnya lagi.
Setelah berhasil mencari ponsel istrinya, Dave membuka beberapa pesan dan berusaha menyadap ponsel istrinya agar terhubung dengan ponselnya. Tak lupa, Dave menyimpan satu butir obat dan membungkusnya dengan tissue agar tidak rusak.
Setelah semuanya selesai, Dave meletakkan ponsel istrinya ke tempat semula, dan dia berjalan keluar ruangan menuju rumah sakit di tempat sahabatnya bekerja.
"Dave, kau mau kemana?" tanya Excel saat melihat sahabatnya terburu-buru.
Mendengar pertanyaan dari sahabatnya, tiba-tiba Dave menghentikan langkahnya dan memberikan obat yang dia ambil di dalam tas istrinya kepada Excel.
"Tolong, cari tahu obat apa ini!" titah Dave.
"Obat?" gumam Excel mengambil tissue yang terlipat menjadi beberapa bagian, "Biar aku cek dulu. Siapa tahu, aku mengetahui obat ini," sambungnya lagi.
"Kita ke ruanganku sekarang," titah Excel.
Setelah berada di dalam ruangan sekertarisnya, Dave menjatuhkan bokongnya dan menunggu sahabatnya mengecek obat yang baru saja dia berikan.
"Sebenarnya, kau tahu tidak! Jika tidak, biar aku tanyakan pada El," kesal Dave setelah menunggu beberapa menit tidak ada jawaban.
"Aku sedang memastikan, tunggulah sebentar!" ketus Excel mengetik sesuatu dilayar ponselnya.
"Aku sudah mengetahuinya."
"Apa?" tanya Dave penasaran, badannya sudah dicondongkan ke depan menatap layar ponsel sahabatnya. Matanya terbuka lebar, berulang kali Dave menatap obat yang berada di atas meja dan foto obat di layar ponsel Excel. Tangannya mengepal erat menunjukkan bahwa dia sedang marah.
"Jadi, dia melakukan cara ini?" ujar Dave, napasnya menggebu-gebu, "Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus memberikannya pelajaran," sambungnya lagi yang beranjak dari tempat duduknya.
"Tunggu Dave, jangan ceroboh. Bagaimana ... jika kita membuat sedikit permainan yang bisa mengejutkan istrimu?" cegah Excel.
"Maksudmu apa?"
"Duduklah, biar aku bisikan permainan yang sangat menguntungkan untukmu, tanpa sepengetahuan istrimu, itu?" ucap Excel membuat Dave menjatuhkan bokongnya kembali.
Setelah mendapat bisikan dari sahabatnya, tiba-tiba kedua sudut bibir Dave tertarik ke atas.
"Bagaimana? ideku sangat cemerlang, bukan?" ucap Excel diangguki Dave.
"Sekarang, kau urus semuanya. Aku percayakan semuanya padamu," jawab Dave bangkit dari duduknya dan berjalan keluar ruangan.
__ADS_1
Sebelum Dave membuka pintu, Dave menoleh pada sahabatnya yang sedang menatap kepergiannya, "Ingat, hari ini juga, kau harus lakukan semuanya," ucap Dave.
"Siap, aku akan pergi, tapi lebih baik kau rahasiakan ini pada El, aku takut, dia akan merusak rencana kita," jawab Excel menyilangkan kedua kakinya di atas meja.
"Baiklah!" ucap Dave kemudian keluar ruangan.
Tak terasa, hari sudah sore, dan jarum jam sudah menunjukan pukul 4 sore, semua karyawan di kantor bergegas untuk pulang, termasuk juga Dave. Dia baru saja menyelesaikan tugasnya dan sekarang, dia sedang berada di kamar pribadinya. Pandangannya tak lepas dari wajah Vera yang sedang terlelap.
Di saat Dave sedang memandang istrinya, tiba-tiba ponsel Vera berdering mengagetkan Dave yang berada di lamunannya.
Mata Vera perlahan terbuka, dan meraba mencari ponselnya di atas meja, Dave yang melihat istrinya terbangun pun segera berjalan dan menjatuhkan bokongnya di sofa empuk kamarnya.
"Aku di mana ini?" tanya Vera setelah melihat ruangan yang berbeda, perlahan ingatannya terkumpul, "Ponselku," sambungnya lagi.
Setelah berhasil menemukan ponselnya, mata Vera menyipit. Dia melihat nama kekasihnya di layar panggilannya.
'Bagaimana ini? Di sana ada Mas Dave,' batin Vera meletakkan ponselnya.
"Siapa? angkat saja, takut penting. Setelah itu, kita pulang," titah Dave memasukkan ponselnya dan beranjak dari tempat duduknya, "Biar aku saja yang mengangkatnya," sambung Dave membuat Vera mengambil dan menyembunyikan ponselnya.
"Tidak perlu Mas, ini teman kampusku. Paling cuma iseng, atau tanya tugas saja," tolak Vera.
"I-iya Mas," ucap Vera kemudian menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Hallo ...," ucap Vera saat panggilannya sudah terhubung.
"Sayang, kau benar-benar tidak mau menemui Ayahku? dia datang bersama kekasihnya," tanya Putra disebrang sana.
"Em ... maaf, bukannya aku tidak mau, tapi aku sibuk." ucap Vera, pandangannya menatap pada suaminya yang tengah memperhatikannya.
"Ada apa? kena--"
"Aku akan menelfonmu kembali, setelah aku sampai di rumah," potong Vera kemudian mematikan panggilannya.
Setelah panggilannya berakhir, Vera memasukkan ponselnya ke dalam tas, matanya menatap sang suami yang tengah menatapnya.
"Ada apa Mas? kenapa menatapku seperti itu?" tanya Vera, "Apa ada sesuatu, atau penampilanku berantakan?" sambungnya lagi.
"Tidak ada apa-apa. Bersiap-siaplah untuk pulang. Bibi sudah menyiapkan makan malam special menyambut kedatangan Excel di rumah kita," titah Dave beranjak dari kasur dan berjalan menuju pintu kamarnya.
__ADS_1
"Mas!" panggil Vera.
"Ada apa? apa ucapanku kurang jelas. Bersiap-siaplah kita akan pulang!" tegas Dave, amarah yang berusaha dia tahan, akhirnya keluar juga.
Deg!
Jantung Vera seketika berhenti berdetak saat mendengar suaminya membentaknya.
"I-iya Mas, maafkan aku," ucap Vera menundukkan kepalanya.
'Sabarkan hatimu, kau harus tenang, dave.' batin Dave berjalan menuju istrinya yang ketakutan.
"Maafkan aku, aku sangat lelah," ucap Dave mengusap pucuk kepala Vera.
"Tidak apa-apa Mas," jawab Vera kemudian turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi.
Melihat istrinya pergi, Dave kemudian berjalan keluar ruangan, tak ingin emosinya terpancing, Dave lebih memilih menghubungi sahabatnya, Excel.
Belum sempat panggilannya terhubung dengan sahabatnya, tiba-tiba Vera muncul dari balik pintu ruangan pribadinya dengan wajah yang tampak segar.
"Ayo Mas, kita pulang," ucap Vera berjalan menghampiri suaminya.
'Dia memang pandai berakting,' batin Dave beranjak dari tempat duduknya, "Ayo!"
'Syukurlah, Mas Dave masih bersikap seperti biasa. Kemungkinan besar, aku tidak mengucapkan apapun saat mabuk, tadi.' batin Vera tersenyum.
Setelah beberapa menit berada di dalam mobil, akhirnya mobil Dave sampai di kediamannya.
"Turun!" titah Dave.
"Mas Dave tidak turun?" tanya Vera memecahkan keheningan.
"Em ... aku ingin menghubungi seseorang. Lebih baik, kau turunlah dulu, aku akan menyusul," titah Dave yang diangguki Vera.
Setelah istrinya keluar dari mobilnya, Dave langsung memukul stir mobil itu dengan keras. Wajahnya diusap berulang kali,
"Bodoh! kenapa aku tidak bisa bersikap seperti biasa, ha! kenapa setiap melihat wajahnya, aku selalu ingin marah! kenapa!" teriak Dave.
"Aku akan membalas semua perbuatan mu, Vera! kau sudah berani mengkhianati ku dan kau sudah berani meminum pil KB di belakangku. Akan ku balas semua itu. Tunggu saja!" gumam Dave sambil menyeringai.
__ADS_1
Bersambungš