
Setelah beberapa menit mobil yang ditumpangi Dave dan Vera membelah jalanan ibu kota. Kini, mereka sudah sampai di depan rumah sakit.
"Ayo, turun. Akan ku buktikan semua ucapanku. Kalau aku tidak berbohong!" titah Dave membuka pintu mobilnya.
Dengan keberaniannya. Dia turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit.
Begitu pun dengan putra yang mengikuti mobil Vera dan Dave.
"Rumah sakit? Untuk apa mereka ke sini? Apa mereka ingin mengecek kandungan Vera? Berarti semua ucapan pria itu benar, Vera hamil anaknya. Dan aku tidak mungkin memiliki kesempatan lagi? Kesempatan itu hilang? Aku tidak bisa memiliki Vera seutuhnya." gumam putra melepas sabuk pengamannya, "Jika aku tidak bisa memiliki Vera seutuhnya, maka pria itu tidak boleh memiliki Vera seutuhnya. Aku tidak sanggup melihat kebahagiaan mereka. Apalagi, mereka sedang berbahagia karena kehadiran calon buah hatinya. Aku tidak bisa biarkan semua ini terjadi!" ujarnya lagi.
Putra turun dari mobil. Dia berjalan mengikuti Dave dan Vera berada. Tak ingin ketahuan, Putra mengikuti Vera dengan bersembunyi-sembunyi.
"Aku ke toilet dulu, Mas!" titah Vera di saat mereka sedang menunggu antrian.
"Aku temani!" ucap Dave yang mendapat tatapan tajam dari istrinya.
__ADS_1
"Kamu gila, Mas. Aku hanya pergi ke toilet sebentar. Tidak perlu di temani oleh mu." kesal Vera.
"Tapi, aku takut kamu kabur! Sudahlah, tidak ada salahnya, kamu ditemani suamimu sendiri."
"Tapi, aku tidak mau, Mas. Malu di lihat orang. Kamu tunggu di sini saja sama Mas Excel. Kasihan dia, seperti orang gila jika sendirian."
"Sudahlah. Apa kalian tidak malu berdebat di depan umum, ha! Aku saja, malu!" ketus Excel, "Dan kamu, Dave! Istrimu hanya pergi ke toilet. Biarkan saja! Mana mungkin, dia kabur. Dia akan berpikir dua kali jika kabur. Ingat, dia lagi hamil muda. Atau begini saja, biar aku saja yang menemani istrimu ke toilet, bagaimana?" tanya Excel.
Pletak!
Sentilan di lengan Excel terasa sangat pedas, "Aw ... kau gila, Dave. Ini kulit, bukan--"
"Aku tidak mau di temani olehmu. Jangan paksa aku!" geram Vera berjalan menuju kamar mandi.
"Hei, tunggu dulu! Aku iku--"
__ADS_1
"Duduk, dan tunggulah istrimu di sini. Sebentar lagi, nomor antrian kalian akan di panggil!" cegah Excel.
Sedangkan di satu sisi. Setelah sampai di depan toilet. Tiba-tiba ada tangan yang memegang pundaknya dari belakang, membuat Vera berpikir, jika suaminya lah yang memegangnya.
"Mas, aku sudah bilang berulang kali. Jangan temani aku ke toil--" ucapan Vera terhenti saat menoleh ke belakang dan melihat Putra yang sedang memegang pundaknya. "Pu-putra?" gumam Vera lirih, "Mau apa kamu?"
"Ver, ikut aku. Kita butuh waktu berdua untuk meluruskan semua masalah ini." ujar putra.
"Tidak ada yang perlu kita jelaskan lagi, Put. Semuanya sudah selesai!"
"Belum selesai. Ingat, kamu menerima tawaranku sebagai kekasihku lagi." jawab Putra mengingatkan wanita di hadapannya.
'Aah Siaal! Seharusnya, aku memperbolehkan Mas Dave untuk menemaniku. Jika sudah seperti ini. Aku juga yang bingung.' batin Vera.
"Ayo, ikut aku!" titah Putra.
__ADS_1
"Tidak bisa. Aku tidak bisa ikut denganmu sekarang. Aku dan suamiku sedang menunggu antrian untuk mengecek kandunganku ini. Kita bahas hubungan kita lain kali saja!" tolak Vera.
"Hanya sebentar!" paksa putra.