Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 6


__ADS_3

Sesampainya di kamar mandi, Vera langsung menumpahkan isi perutnya di wastafel.


"Aku kenapa ya, akhir-akhir ini tubuhku terasa lemas. Dan di mana kamu Put, aku merindukanmu," gumam Vera mengingat kekasihnya yang hampir sebulan ini tidak memberikan kabar.


"Ayah, Ibu, Adit, kenapa kalian tidak membawaku pergi bersama kalian hiks ... hiks ... kenapa kalian pergi tanpa mengajakku," sambungnya lagi menghapus air matanya mengalir di pipi.


Merasa sudah tenang, Vera keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan Kakaknya, Zena.


"Kak Zen, aku akan menganggap mu sebagai kakak ku. Jika kak Zen mau membawaku pulang ke rumah. Aku tidak mau di sini" gumam Vera, dia mencari keberadaan Zena di ruang tamu yang baru saja Dave gunakan untuk ijab.


"Kenapa sepi tidak ada orang. Kemana semua orang, dan kemana kak Zen," sambungnya lagi.


Melihat bibi melintas memasuki dapur, Vera segera berlari mengejar Bibi, "Bi ...," panggil Vera pada ketua pelayan yang bernama Tati.


Bi Tati menoleh pada sumber suara, "Iya Nyonya .. ," jawabnya menghentikan langkahnya memasuki dapur.


"Di mana Kak Zena, Bi," tanya Vera.


"Non Zena bersama suaminya sudah kembali. Mereka bilang hari ini akan melakukan penerbangan ke Indonesia," jawab Bibi tersenyum lalu kembali berjalan menuju dapur.


"Deg!"


"Ke-kembali, mereka kembali ke Indonesia tanpa mengajakku," gumam Vera meremas gaun pernikahannya.


"Aku harus mengejarnya. Mungkin mereka masih di sekitar sini," lirih Vera berlari menuju pintu utama.


Mata Dave tak sengaja melihat wanita yang baru saja menjadi istrinya berlari keluar rumah, "Cegah dia! Bawa dia masuk ke kamarnya," ucap Dave saat panggilan sudah terhubung pada salah satu anak buahnya yang berjaga di depan pintu utama.


"Baik Tuan," jawab bodyguard yang bernama Deni.


"Cegat Nyonya, dan seret dia ke kamarnya. Karena Tuan sudah menunggu di kamarnya," ucap Deni pada rekan kerjanya.


"Siap 45!"


Setelah berbicara pada rekan kerjanya, Deni melihat istri dari Tuan nya berlari. Dengan sigap Deni menghadang pergerakan Vera.


"Nyonya, anda sudah ditunggu oleh Tuan di kamar," titah Deni.


"Minggir, aku mau menemui Kakakku," teriak Vera menerobos.

__ADS_1


"Seret dan bawa masuk Nyonya," ucap Deni pada rekan kerjanya.


"Lepasin aku! Lepasin!"


"Kalian tidak berhak mengatur hidupku! Aku ingin menemui Kakakku!" pekik Vera memberontak.


Seakan tuli, kedua bodyguard itu menyeret paksa Vera dan membawanya ke kamar Dave yang berada di lantai dua.


"Masuk! Tuan sudah menunggu Nyonya!" ucap Deni membukakan pintu untuk Vera.


"Tidak! Aku tidak mau masuk! Aku mau ikut Kakakku!" bentak Vera.


Mendengar penolakan, Deni menarik paksa lengan Vera dan membawanya masuk menuju Tuan nya.


"Lepaskan dia, biarkan aku yang mengurus istriku ini," ucap Dave mengangkat tangannya mengusir Deni.


"Baik Tuan," jawab Deni keluar kamar Tuan nya.


Setelah kepergian anak buahnya, Dave berdiri lalu menghampiri wanita yang baru saja menjadi istrinya, "Hai isteri ku," ucap Dave mengusap rambut panjang Vera.


"Lepaskan aku hikss ... hiks," titah Vera.


"Rambutmu panjang dan halus," sambung Dave tersenyum sinis.


"A-aku sudah tahu," ketus Vera.


Prok ...


Prokk ....


"Bagus! Jika kamu sudah tahu maksudku menikahi mu. Maka diam dan patuhi semua aturan ku!" jawab Dave memainkan ujung rambut bagian depan milik istrinya.


"Lepaskan aku, aku akan meminta maaf pada Kakakku," lirih Vera.


"Baiklah, aku akan melepaskan mu tapi setelah aku bosan dan puas bermain denganmu," ucap Dave menarik ujung rambut Vera keras membuat rambut itu rontok.


"Aww sakit, lepaskan ... sakit!" ringis Vera berusaha melepaskan tangan Dave dari rambutnya.


"Sakit?"

__ADS_1


"Padahal aku tidak menggunakan tenaga sama sekali, coba aku tambahkan tekanannya lagi," ucap Dave semakin kencang menarik ujung rambut istrinya.


"Sa-sakit hikss ... hikss," pekik Vera, "Sakit ... lepaskan! tolong lepaskan!" pinta Vera diselingi isakan tangisnya.


"Dasar wanita lemah! baru di perlakuan seperti ini sudah merengek kesakitan!" ucap Dave melepas kasar tangannya membuat Vera terjatuh ke lantai.


Dave berjongkok, dia mensejajarkan tubuhnya dengan Vera, "Rasa sakitmu tidak seberapa dengan rasa sakit yang selama ini Zena rasakan!" ucap Dave mencengkram dagu Vera.


"Ma-maaf Mas ... Maaf," lirih Vera, "Sakit, perutku sakit Mas," sambungnya lagi memegang perutnya yang tidak bersahabat.


"Jangan alasan! Dasar ratu drama! Kamu tidak ada bedanya dengan Ayah mu itu!" ucap Dave.


"A-apa maksud Mas, Ayahku?" tanya Zena menahan kesakitan.


"Sudahlah, semakin aku membahas Ayahmu, maka semakin dalam rasa benciku terhadap keluargamu!" ujar Dave, "Sekarang bersihkan tubuhmu! Kita akan melakukan malam pertama kita," sambung Dave.


Vera menggelengkan kepalanya, "Sampai kapanpun aku tidak mau melayani mu. Aku tidak mencintaimu, dan sudah ku bilang ... jika aku sudah mempunyai kekasih," ucap Vera membuat Dave mengeratkan cengkeramannya.


"Memang apa urusanku? Sekarang kamu adalah isteri ku. Dan tugas istri adalah melayani suaminya," ujar Dave, "Cepat bersihkan dirimu!" sambung Dave melepas cengkeramannya kasar.


"Aww ... kau sungguh tak mempunyai hati nurani!" lirih Vera mengusap keningnya yang terbentur lemari.


"Hati nurani ku akan ku pakai kepada seseorang yang mempunyai hati nurani juga," ucap Dave berjalan dan duduk di sofa kamarnya. Dia mengambil ponsel lalu menghubungi wanita yang dicintainya.


"Hallo Zen," ucap Dave halus. Nada bicaranya sangat berbeda saat berbicara dengan Zena.


"Dave ...," jawab Zena diseberang sana.


Vera mengepal erat tangannya lalu masuk ke dalam kamar mandinya.


"Kak, aku tidak percaya karena mu aku terjebak dalam pernikahan yang mengerikan," gumam Vera menyalakan kran di wastafel.


"Pantas saja, Kakak merestui pernikahanku ini!"


"Aku benci Kak Zen! Aku benci!" pekik Vera. Perlahan tubuhnya merosot ke bawah.


Mendengar jeritan dari dalam kamar mandi, Dave segera menutup telfonnya.


"Hei! Apa di sini yang mempunyai telinga hanya kamu saja hah!" pekik Dave menggedor pintu kamar mandi.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2