
Setelah sampai di depan ruang praktek dokter kandungan. Vera menjatuhkan pantatnya di samping Excel.
"Dari mana saja kalian? Apa kalian tidak tahu, aku malas di sini!" kesal Excel.
"Aku habis menemani Mas Dave kencan dengan selingkuhannya!" ucap Vera.
"Kencan?"
"Iya, kencan dengan dokter wanita cantik!"
"Oh, mungkin El?" jawab Excel terkikik.
"Nah, itu. El! Selingkuhan Mas Dave kan?" ucap Vera dengan wajah di tekuk.
"Hahaha ... dari mana kamu tahu, kalau dia selingkuhan suamimu? Apa kamu pernah memergoki Dave bermain gila dengan wanita yang bernama El?" ujar Excel yang lagi dan lagi membuat Dave menatapnya tajam.
"Tidak mungkin aku memergoki mereka, Mas. Aku selalu di kurung di rumah. Tapi, jika aku memergoki mereka, aku dan Mas Dave akan bercerai!"
"Hei, sejak kapan berani mengucapkan kata seperti itu, ha!" ketus Dave.
"Ya, biar Mas tahu saja. Walaupun, aku suka selingkuh, tapi aku tidak mau di selingkuhin, Mas. Karena rasanya sakit sekali. Aku pernah menelan kenyataan pahit, Putra selingkuh di belakangku dan itu rasanya sakit. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi." keluh Vera.
"Aku tahu, hukuman apa untuk suami tukang selingkuh!" ucap Excel membuat Vera tertarik dengan ucapannya.
__ADS_1
"Apa, Mas!" tanya Vera penasaran.
"Hei, kau! Jangan racuni otak istriku dengan ucapan kotormu!" kesal Dave menarik istrinya untuk duduk di sampingnya.
"Jangan tarik-tarik, Mas. Malu sama yang lain."
"Iya Dave, istrimu lebih nyaman duduk bersamaku. Biarkan istrimu duduk di sini!" titah Excel tersenyum manis.
Tak ingin meladeni ucapan Excel, Dave mengambil ponselnya dan memainkan permainan online nya sampai tak terasa, kini giliran nama Vera di panggil.
"Ibu Vera, silahkan!" titah suster membuat Vera beranjak dari tempat duduknya.
"Mas, namaku sudah di panggil!" ujar Vera.
"Mas, ayo! Main game nya nanti saja! Jangan malu-maluin! Ingat, kita di rumah sakit!" kesal Vera setelah semenit menunggu suaminya bermain game.
"Sebentar lagi! Ayo menang! Cepat, serang!" ujar Dave matanya tak berkedip menatap layar ponselnya.
"Ish, menyebalkan! Mas Excel, lebih baik Mas saja yang menemaniku." ajak Vera.
"Eh, jangan-jangan. Enak saja! Biar aku yang menemanimu, tapi tunggu sebentar. Aku mau memenangkan game ini!" cegah Dave.
"Mas Excel ayo! Biarkan Mas Dave bermain game. Kasihan dokternya sudah menunggu lama!" rengek Vera, membuat Excel tak tega.
__ADS_1
"Baiklah. Aku akan menemanimu. Tapi, jika terjadi sesuatu padaku, kamu harus menjadi tameng ku!" ujar Excel.
"Iya, Mas!" jawab Vera menarik tangan Excel masuk ke dalam ruang praktek dokter dan meninggalkan Dave yang tengah bermain game online.
Setelah Excel dan Vera masuk, mereka di sambut hangat oleh dokter Grace, dokter spesialis kandungan di rumah sakit ini.
"Silahkan Tuan dan Nyonya duduk!" titah dokter Grace.
Vera dan Excel menjatuhkan pantatnya di kursi yang berhadapan dengan dokter wanita itu.
"Dok, suamiku bilang, kalau aku hamil. Tapi, aku tidak merasakan jika aku hamil. Hanya pusing, mual, tapi dia memintaku untuk memeriksa kejelasan tersebut!" ujar Vera.
"Kapan terakhir kali Nyonya datang bulaan dan apa Nyonya sudah mencoba testpack?" tanya dokter Grace yang mendapat gelengan dari Vera.
"Belum dok! Dan terakhir aku dataang bulan itu, bulan lalu." jawab Vera.
"Baiklah. Kita coba cek." titah dokter memberi satu buah testpack, "Silahkan Nyonya gunakan testpack ini untuk memastikannya. Jika Nyonya takut, Nyonya bisa di dampingi oleh suami Nyonya." titahnya lagi, "Tuan bisa ikut menemani istri anda!"
"Aku?" ujar Excel tak percaya.
"Iya." jawab dokter Grace.
"Eh, tidak boleh. Enak saja! Dia bukan suaminya. Akulah suaminya!" kesal Dave yang baru saja masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1