
"Hei, siapa yang mengizinkan mu masuk ke kamarku!" pekik Excel.
Tak ingin berdebat dengan Excel, Dave pun menutup dan mengunci pintu kamar Excel dan berjalan menuju kamar mandi.
Kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membuat senyuman yang sangat manis, "Dasar wanita, memangnya aku tidak tahu, rencana mu?" gumam Dave melucuti semua pakaiannya dan berendam di bathup milik Excel.
"Tapi, aku bisa memanfaatkan kesempatan ini. Aku akan tanam benihku di dalam rahimnya," sambungnya kembali.
Setelah 30 menit berada di dalam kamar mandi masing-masing. Dave dan Vera dipertemukan kembali di meja makan.
"Aku akan berangkat, aku sudah telat," ucap Vera setelah beberapa menit keadaan hening.
"Dave, kita ada meeting 1 jam lagi," titah Excel saat melihat jam dipergelangan tangannya.
"Aku akan mengantarnya dulu, setelah itu ... kita ke kantor!" titah Dave meminum kopi nya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Mas, Mas tidak perlu mengantarku. Aku bisa pergi sendiri!" ujar Vera.
"Benar Dave, bukankah istrimu biasanya diantar dengan Lord?" timpal Excel.
"Kau, kau tidak perlu ikut campur urusanku. Jika, kau ingin ikut denganku, maka diamlah!" titah Dave sambil mengancingkan jasnya, "Aku tunggu di mobil!" sambungnya lagi menatap istrinya.
"Iya Mas," jawab Vera pasrah.
"Ada apa dengan Dave? Apa kalian bermain sampai pagi?" tanya Excel kepada Vera.
"Mas Excel yang terhormat, itu rahasia aku dan suamiku. Jadi, kau tidak perlu tahu. Aku takut, kau menginginkannya," ucap Vera mengedipkan salah satu matanya dan berjalan menghampiri suaminya.
"Apa mereka sudah akur? Jika benar, bagaimana nasibku? Aku bisa dihina karena statusku yang single," keluh Excel berjalan keluar rumah, "Tapi tunggu, aku merasakan bau-bau kecemburuan di sini. Aku tadi sempat melihat Dave menaiki tangga terburu-buru saat melihat CCTV di depan rumahnya. Apa jangan-jangan ini ada kaitannya dengan pria itu?" gumam Excel.
"Mas Dave, tidak perlu repot-repot mengantarkan ku ke kampus. Aku bisa meminta Lord atau naik taksi, Mas," ucap Vera setelah berada di dalam mobil.
Dave melirik sekilas lalu kembali menatap layar iPadnya, "Sekali lagi berbicara seperti itu. Aku akan keluarkan dan pindahkan kamu ke fakultas lainnya," jawab Dave.
"Jangan Mas, jangan ... aku sudah nyaman dan mempunyai teman yang banyak di Fakultas ini. Aku akan diam, Mas," ujar Vera membuka dan mengecek ponselnya.
__ADS_1
'Tidak ada panggilan atau pesan dari Putra. Apa dia benar-benar marah padaku?' batin Vera.
Setelah menempuh jarak beberapa kilometer, akhirnya mobil yang ditumpangi Dave dan Vera sampai di halaman parkir khusus tamu.
"Aku akan turun di sini, dan Mas Dave bisa langsung ke Kantor," titah Vera membuka pintu mobilnya.
"Aku akan menemanimu sampai depan kelas," ujar Dave membuat Vera terkejut.
"Apa Mas! Itu tidak perlu. Aku malu, aku bukan anak kecil lagi Mas,' pekik Vera yang diabaikan Dave.
"Aku ikut denganmu, Dave! Sekalian aku mencari jodohku di sini!" teriak Excel membuat darah Vera seketika naik.
'Aku benar-benar dikelilingi dengan pria yang menyebalkan!' batin Vera berjalan lebih dahulu.
"Apa kau melihat pria tadi?" bisik Excel di samping Dave yang sedang berjalan mengikuti langkah istrinya.
"Aku tidak melihat apapun, aku bermain di kamar dengannya," jawab Dave tegas, pandangannya fokus menatap istrinya yang sedang menahan kesal.
Menahan kesal, itulah yang dirasakan Vera. Melihat tatapan semua teman di kampusnya membuat Vera berjalan dengan cepat. Ekor matanya selalu melirik bayangan suami dan sekertaris suaminya yang tengah mengikutinya.
"Ikut aku!" titah Putra tangannya menarik paksa tangan Vera dan membawa Vera pergi menjauh dari dua pria yang tengah mengikutinya.
"Lepaskan aku, Put! Aku tidak mau seisi kampus curiga terhadap kedekatan kita," tepis Vera setelah mereka sampai di tempat yang sepi, "Kita di mana?" sambungnya lagi.
"Kau mencintainya?" tanya Putra to the point, "Katakan ver! Kamu mencintainya?" pekik Putra.
Mendengar teriakan dari Putra, seketika wajah Vera langsung tertunduk, dia meremas dressnya yang selutut, "Aku tidak mencintainya," jawab Vera gugup, "Puas!" sambungnya lagi.
"Tunggu!" cegah Putra meraih tangan kekasihnya yang sempat dilepas, "Kamu bohong, Ver! Kamu mencintainya kan! Mulutmu bisa berbohong, tapi matamu tidak!"
"Lepas!"
"Aku tidak mencintai Mas Dave. Aku hanya mencintaimu ...," jawab Vera kemudian berjalan meninggalkan Putra yang mematung.
"Jika kau benar-benar mencintaiku, maka ikutlah denganku. Ayahku sudah tiba, dan malam ini juga, aku akan melamarmu," teriak Putra yang menghentikan langkah Vera.
__ADS_1
'Melamar?' batin Vera.
"Kenapa diam saja!" teriak Putra lagi.
Vera menoleh, dia menatap kekasih yang sangat dicintai.
"Tinggalkan dia, jika kau mencintaiku!" sambung Putra.
"Kau boleh meninggalkanku setelah aku puas bermain denganmu. Ingat! kedua orang tuamu, menitipkan mu padaku!" ucap Dave yang baru saja tiba.
Vera menoleh, dia melihat suaminya yang berada tidak jauh darinya, "Mas Dave," gumam Vera.
"Sekarang, kamu harus memilih Ver! Pilih aku atau dia!" ujar Putra semakin menyudutkan posisi Vera.
"Ingat, ada ikatan diantara kita!" ucap Dave penuh penekanan pada kata 'Ikatan'.
"Mas Dave, maaf ...," Vera menghampiri Putra, "Maafkan aku Mas Dave, aku memilih Putra, karena aku sangat mencintainya," ucap Vera tangannya melingkar pada lengan kekar Putra.
"Kau dengar sendiri kan? Vera lebih memilihku, dan mulai sekarang ... Vera akan tinggal bersamaku. Jangan harap, kau bisa berdekatan atau tinggal satu atap lagi dengannya. Karena aku, akan menjadikannya istriku!" ujar Putra dengan tersenyum mengejek.
'Aku tidak mau semua itu terjadi, aku tidak mau!' batin Dave menjerit, segera Dave memutar tubuhnya dan meninggalkan istri serta kekasihnya yang sedang berbincang.
"Kenapa pergi Dave?" tanya Excel, "Kau tidak berniat melabrak atau menarik paksa istrimu agar tidak berdekatan dengan pria itu?" sambung Excel.
"Diam! Diamlah! Aku hanya memberikan waktu untuk mereka berdua. Sebaiknya kita pergi ke kantor," titah Dave.
"Jangan bilang, kau takut ... jika istrimu memilih kekasihnya daripada kau? Atau kau takut, akan dikalahkan dengan bocah sepertinya," tebak Excel.
"Diam! Atau aku akan--"
"Aku becanda Dave. Aku mengerti perasaanmu, aku hanya bisa bicara 'Sabar'."
"Tetaplah berjuang kawan, kau lebih pantas dengannya, karena kau ... suami Sah dari Vera bukan pria itu atau pria lainnya. Buat dia hamil, mungkin dengan cara itu, sikapnya akan berubah dan mulai berusaha mencintai dan menganggap mu sebagai suami," sambung Excel menepuk pundak sahabatnya.
'Benar juga yang dikatakan Excel, jika dia hamil anakku, maka besar kemungkinan ... sikapnya akan berubah demi anak yang dikandungnya,' batin Dave.
__ADS_1
Bersambungš