
"Mas, kenapa Mas Dave membawaku ke kamar? Mas Dave tidak jadi membunuhku?" tanya Vera penasaran, "Atau, jangan-jangan Mas Dave mau membunuhku di kamar?" sambungnya lagi.
'Astaga, dari tadi ucapannya bunuh dan bunuh,' geram Dave dalam hati.
"Aku tanya sekali lagi? Sudah siap aku bunuh?" tanya Dave yang mendapat gelengan dari istrinya.
"Mas, mana ada orang yang siap mati. Apalagi, orangnya seperti aku, yang hobinya membuat dosa. Aku belum siap mati, aku juga belum punya simpanan amalanku di akhirat," jawab Vera.
"Lalu?"
"Lalu apa Mas?"
"Lalu, kenapa minta dibunuh, hem?"
"Siapa yang minta dibunuh Mas. Mas Excel dan Lord yang minta dibunuh, bukan aku!" ketus Vera.
"Kalau Mas Dave tidak jadi membunuhku, berarti aku boleh dong ... meminta satu permintaan,"
__ADS_1
"Boleh, ya Mas ...," ujar Vera, tangan menggenggam erat tangan suaminya.
Dave merebahkan tubuh istrinya di ranjang, "Permintaan mu selalu tidak masuk akal!"
"Siapa bilang, Mas!"
"Mas ... bolehkan, kalau aku kembali ke kampus itu. Sepertinya, aku sudah bisa melupakan Putra. Dan aku berjanji, aku akan patuh padamu," ujar Vera.
"Beri kesempatan sekali lagi, Mas. Aku berjanji, aku akan patuh."
"Apa Mas? Mas yang benar saja, aku tidak boleh keluar rumah. Memangnya, aku tahanan yang membuat kesalahan, sampai-sampai aku dihukum. Dan apa itu, sampai waktu yang tidak ditentukan. Sekalian saja, sampai seumur hidup, aku di kurung Mas!"
"Ah, jika mau mu begitu. Aku akan menurutinya. Mulai sekarang, dan seterusnya ... aku akan menghukum mu seumur hidup. Jika, kamu melawanku, maka hukuman itu akan bertambah, seperti membersihkan seisi rumah dan--"
"Mas, pelihara saja robot. Aku bukan robot yang patuh! Aku akan pergi! Aku tidak akan menaati semua hukuman dari Mas. Percuma, Mas Dave mempunyai istri secantik ini, jika digunakan sebagai pajangan di rumah," ketus Vera beranjak dari tempat tidurnya.
"Mau kemana! sudah berani melawanku?"
__ADS_1
"Mau bunuh diri saja, Mas! Daripada aku dijadikan budak di sini!" ketus Vera, berjalan melewati suaminya yang tengah mematung.
"Silahkan, Excel dan Lord sudah menyiapkan tempat peristirahatan terakhir mu," jawab Dave tak kalah ketus.
"Okeh, siapa takut. Aku akan menemui Mas excel dan Lord," ujar Vera, 'Bagaimana ini? Kenapa Mas Dave tidak membujukku, setidaknya Mas Dave menghalangiku atau melarangku. Kalau sudah seperti ini, sama saja aku menggali kuburanku sendiri,' gumam Vera dalam hati.
"Sudah sanah pergi! Aku akan mengikutimu dari belakang!" titah Dave tersenyum sinis, 'Coba, aku akan melihat, sampai mana keberanianmu menghadapi kami,' gumam Dave dalam hati.
"Cepat!"
"Iya sabar, ini juga mau jalan," ketus Vera melanjutkan langkahnya keluar kamar, 'Ini benar, Mas Dave mau melihat kematianku. Tega sekali Mas Dave, aku benar-benar bingung harus berbuat apa! Tidak mungkin aku memohon lagi, kan aku yang menawarkan diri untuk membunuh diriku, sendiri!' gumam Vera dalam hati.
"Hei, mau kemana? halaman belakang ada di pintu kiri bukan kanan!" ujar Dave, saat istrinya berbelok ke arah kanan.
"Hah? Sudah berubah kah denah di rumah ini?" tanya Vera, 'Aduh, bagaimana ini. Aku semakin dekat dengan kematianku!'
Bersambungš
__ADS_1