
'Maafkan aku, Alexa. Aku harus berbohong, tapi aku membutuhkan ketenangan dari minuman itu. Aku tidak sanggup, jika harus memikirkan beban ini terus menerus. Putra! Aku benci kamu, Put! kenapa sampai saat ini aku masih mencintaimu, berulang kali mulutku mengucapkan kata benci dan otakku selalu mengingat kejadian itu, tapi kenapa? kenapa cinta itu masih ada, Put! Justru sekarang, aku sangat-sangat merindukanmu. Aku memang budak cinta, aku tidak bisa melepaskanmu di saat kenangan indah kita mengalahkan satu kebusukanmu, Put! aku benar-benar hancur. Dan Mas Dave, kenapa kamu mengekangku Mas! Aku masih muda! aku mempunyai cita-cita yang harus aku gapai. Aku berhak bahagia, aku berhak mendapatkan cinta dari semua orang. Kenapa aku harus merasakan kenyamanan pada kalian jika batinku selalu tersakiti. Kenapa!' batin Vera menjerit. Diusap wajahnya berulang kali, rambutnya yang tertata, kini sudah teracak-acak seperti orang gila.
"Aku bisa gila. Kakakku saja, sudah tidak memperdulikanku. Di sini aku benar-benar sendiri! lucunya, kenapa Tuhan tidak mau mencabut nyawaku saja, sama seperti Tuhan mengambil nyawa semua keluargaku!" gumam Vera, kedua tangannya menangkup wajahnya yang tertunduk. Tanpa terasa air matanya mengalir membasahi pipi mulusnya.
"Nona ...," panggil Alexa sambil membawa nampan yang berisi pesanan Vera.
"Letakkan di atas meja saja," jawab Vera, matanya tak berani menatap karyawan suaminya. Dirinya takut, jika karyawan suaminya akan mengadu dan menambah semua hukuman yang lebih berat.
Alexa meletakkan nampan di atas meja, kemudian melihat wajah istri bosnya yang tertunduk. Samar-samar dia melihat getaran dipunggung istri bosnya.
"Nona tidak apa-apa?" tanya Alexa cemas.
"Hem, aku tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan tugas kuliahku saja, yang menumpuk dan mataku sangat lelah karena begadang. Pergilah, aku malu jika makanku di lihat orang lain," jawab Vera.
"Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada pesanan yang kurang, Nona bisa memanggil saya," ucap Alexa yang mendapat anggukan dari Vera.
"Iya, santai saja. Ya sudah, aku mau makan." jawab Vera menunduk dan menggeser nampan yang berada di atas meja agar dekat dengannya.
Setelah kepergian karyawan suaminya, Vera langsung membuka botol bir yang berada di atas nampan dan menuangkan di gelas berukuran kecil.
"Sudah lama, aku tidak meminum minuman seperti ini. Oh Tuhan, pikiranku menjadi tenang setelah meminum ini semua." ujar Vera meneguk bir itu berulang kali.
"Kenapa, tidak keluar! masa cepat sekali habis! aku belum puas meminumnya. Aku harus memesannya lagi!" gumam Vera yang sudah terbawa pengaruh alkohol.
"Alexa!" panggil Vera.
Merasa namanya dipanggil, Alexa langsung berjalan menghampiri istri bosnya.
"Iya Nona," jawab Alexa setelah sampai di hadapan Vera. Dia melihat makanan pesanannya belum tersentuh sama sekali.
"Berikan aku 1 botol lagi. Aku-aku candu dengannya," titah Vera mengambil botol kaca yang sudah kosong.
__ADS_1
"Tapi Nona, kata Nona ... bos tidak memperbolehkan anda meminum banyak?" ucap Alexa.
"Aku sudah bicara pada Mas Dave, dan memperbolehkannya. Cepat berikan 1 botol lagi!" titah Vera.
"Baik, tunggu sebentar, Nona," jawab Alexa kemudian pergi meninggalkan Vera yang tertawa sendiri.
"Mas Dave! Putra! kenapa kalian memperlakukanku begitu spesial, kalian berdua dengan teganya mengkhianatiku! aku benci kalian! tapi aku menyayangi kalian! aku harus bagaimana, hem?" gumam Vera meletakkan wajahnya di atas meja dengan rambut menutup wajahnya yang sudah memerah.
"Alexa, dimana istriku!" bisik Dave setelah turun dari lantai dua,"
"Apa yang dipesannya?" sambungnya lagi.
"Lihat saja ini." jawab Alexa memperlihatkan bil milik istrinya.
Seketika mata Dave terbuka lebar saat mengetahui pesanan milik istrinya, tangannya meremas kertas kecil itu dan membuangnya ke sembarang arah.
"Siapa yang memesan itu!" ucap Dave melihat karyawannya membawa satu botol red wine.
"Istrimu. Dia baru saja menghabiskan 1 botol dan memesannya lagi," jawab Alexa enteng.
"Tapi bos, kata istrimu ... dia sudah mendapat izin darimu, maka dari itu aku menyetujui pesanannya." jawab Alexa polos.
"Dia berbohong, dimana dia?"
"Itu, ada di ujung ruangan, wajahnya selalu menunduk dan lihatlah, dia mabuk berat. Bawalah istrimu pulang bos!"
"Kecilkan suaramu, jangan sampai semua orang tahu, jika aku sudah menikah," bisik Dave kemudian berjalan menghampiri istrinya yang tengah terpengaruh minuman alkoholnya.
"Lama sekali! Cepat berikan 1 botol untukku. Aku sudah bilang pada Mas Dave, dan Mas Dave memperbolehkannya, jadi jangan khawatir!" gumam Vera, tangannya menengadah meminta pesanannya.
"Hentikan, Ver! Sekarang kita pulang!" titah Dave membuat Vera tertawa.
__ADS_1
"Sekarang aku sedang berhalusinasi. Aku seperti membutuhkan lebih banyak lagi, hahaha ... suaramu seperti Mas Dave!" gumam Vera dengan mata terpejam.
Dave menggelengkan kepala, dia meletakkan botol yang dibawanya di atas meja dengan keras membuat Vera membuka mata dan melihat wajah suaminya yang terlihat memerah.
"Hehe ... Alexa, kau mirip sekali dengan Mas Dave,"
"Terimakasih, sekarang ... kau boleh pergi." usir Vera, tangannya mengibaskan ke udara.
Dibukanya botol minuman dan dituangkan ke dalam gelas kecil. Di saat Vera ingin meminumnya tiba-tiba gelas itu terjatuh karena Dave membuangnya, membuat semua orang penghuni caffe terkejut, terutama dengan semua karyawan Dave, karena baru kali ini mereka melihat bosnya marah kepada wanita.
"Kita pulang!" titah Dave merangkul pundak istrinya.
"Aku tidak mau! aku tidak mau pulang ke rumah itu! Setelah aku pulang ke sangkarku, aku tidak akan bisa keluar lagi. Lepaskan aku, siapa kau! berani-beraninya kau mengusirku dari caffe Mas Dave!" geram Vera, kepalanya terasa berat.
"Ayo pulang!"
"Aku tidak mau pulang!"
"Eh tunggu dulu, ini Mas Dave? atau Putra?"
"Oh iya, keduanya sama saja, sama-sama membuatku tertekan!"
"Aku peringatkan lagi, mau kamu Mas Dave atau Putra, intinya aku kecewa dengan kalian semua. Mas Dave yang mau menikah lagi, dan putra yang tega membohongiku berulang kali. Aku benar-benar benci kalian!" racau Vera membuat semua orang menatap Vera yang tengah mabuk.
"Alexa, tutup caffe sekarang dan bantu aku memindahkan dia ke lantai atas," ujar Dave yang mendapat anggukan dari karyawan wanitanya.
Setelah caffe berhasil ditutup, Dave meminta Alexa membantu memapah istrinya untuk naik ke lantai atas.
"Bos, dia benar istrimu! tapi kenapa, dia bilang kamu akan menikah lagi?" tanya Alexa setelah sampai di lantai dua.
"Jangan ikut campur urusanku. Lebih baik kau turun dan jangan naik ke lantai dua tanpa perintahku," ucap Dave tak ingin dibantah.
__ADS_1
"Jangan apa-apakan istrimu itu, aku melihat punggungnya bergetar berulang kali. Mungkin dia terlalu banyak beban pikiran," ujar Alexa kemudian pergi meninggalkan Dave dan Vera di lantai dua.
Bersambungš„°