
"Siapa?" Putra melihat arah yang ditunjukkan kekasihnya, terlihat wanita cantik sedang duduk bersama teman-temannya, sesekali tertawa renyah.
"Putri! Padahal, aku sudah memerintahkannya pulang," ujar Putra menyalakan mesin mobilnya.
Sebelum mobil Putra berjalan meninggalkan parkiran caffe, tiba-tiba dari arah lain, datanglah Vin yang mengetuk kaca mobilnya.
Tok ...
Tok ...
"Hei, kenapa diam saja! Cepat keluar!" titah Vin pada teman yang sudah dianggapnya sebagai sahabat.
"Vin!" ucap Vera lirih.
"Kamu mengenalnya, sayang?"
"Oh iya, kalau tidak salah ... kamu sekelas dengan Vin, ya?" tanya Putra yang diangguki Vera.
"Sayang, keluarlah. Jangan sampai Vin tahu, jika di dalam mobil ini ada aku. Aku mohon," pinta Vera mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Kenapa? Dia sahabatku, sayang. Dan dia pria baik-baik, kamu tidak perlu takut," ucap Putra meraih tangan kekasihnya.
"Please, aku mohon. Aku benar-benar ingin merahasiakan hubungan kita, aku tidak mau Putri sampai tahu semuanya. Dan untuk mengenalkan aku, tunggu waktu yang tepat," pinta Vera.
"Lalu? Aku harus bagaimana?" tanya Putra.
Tok ...
Tok ....
"Buka! Yang lain sudah menunggu kita!" pekik Vin dari luar mobil.
"Kamu temui saja dulu, biar aku mengumpat di sini. Tapi, aku mohon ... jangan lama-lama," ujar Vera, bersyukur kaca mobil kekasihnya tidak tembus pandang.
"Yakin, atau aku antar kamu pulang dulu?"
"Atau, aku akan bicara pada Vin, jika aku tidak jadi masuk karena asa acara mendadak?"
"Jangan sayang, itu akan membuat Vin curiga. Dan coba lihatlah, Putri sudah menyadari kehadiranmu," ucap Vera melihat Putri berjalan ke arah mobil Putra.
"Please, cepat turun! Aku akan bertahan di dalam mobil, atau ... aku akan memerintahkan anak buah Mas Dave untuk menjemputku di sini," sambung Vera lagi.
"Baiklah, aku akan turun. Tapi berjanjilah, jika terjadi apa-apa ... langsung hubungi aku," titah Putra menangkup wajah Vera dan mendaratkan kecupan ringan di seluruh wajahnya termasuk bibir mungil yang berwarna merah jambu itu.
"Hati-hati, maafkan aku, sayang," ujar Vera.
__ADS_1
Setelah kekasihnya turun dari mobil, Vera menyembunyikan tubuhnya di bawah kursi, karena Putri yang tidak mempercayai kedatangan Putra seorang diri.
"Ternyata begini, rasanya menjalin hubungan secara diam-diam," gumam Vera membalas pesan dari Lord yang sedari tadi menanyakan keberadaannya.
"Kamu datang seorang diri, Put?" tanya Putri memasang raut wajah curiga.
"Iya." ketus Putra berjalan mendahului Putri dan Vin.
"Kenapa dia? Kenapa raut wajahnya tidak seperti biasanya?" tanya Vin pada Putri.
"Mana aku tahu, aku pikir kalian sedang bertengkar. Maka dari itu, aku menghampiri mu?" ujar Putri tersenyum menatap Vin yang sedang merangkul mesra pundaknya.
'Apa, Putra cemburu dengan sikap Vin padaku, ya?' batin Putri, 'Ah, bodo amat, dia yang menginginkan hubungan kita tetap di rahasiakan. Jadi, terimalah akibatnya,'
***
"Kau, kau di mana! Lord bilang, kau kabur darinya," pekik Dave saat panggilannya sudah terhubung dengan istrinya.
"Mana ada kabur! Lord saja yang tidak mendengarkanku, aku sudah menjelaskan pada Lord, jika aku ... diajak teman nongkrong di salah satu restoran," jawab Vera gugup, dia mengecek sekeliling restoran berharap tidak ada batang hidung anak buah suaminya.
"Jangan berbohong! Share lokasinya sekarang. Aku akan menemuimu!" pekik Dave.
"Sebentar Mas Dave, sayang. Aku akan mengirimkan lewat chat," jawab Vera dengan tangan yang mengetik lokasinya pada sang suami.
"Sudah!" ketus Vera.
"Mau kemana Dave!" pekik Excel yang baru saja melihat sahabatnya pergi.
"Menjemput istriku!" jawab Dave singkat.
"Wah, sudah ada perubahan. Sudah berani mengakuinya sebagai istri," gumam Excel bertepuk tangan.
"Aku ikut! Siapa tahu, ada jodohku di sana!" teriak Excel berlari mengejar sahabatnya.
"Memangnya, kamu mau menjemput istrimu di mana Dave?" tanya Excel setelah mereka berada di dalam mobil.
"Restoran dekat sini, aku hanya ingin mengetes ucapan dia benar atau bohong," jawab Dave menarik gas nya lebih kencang.
"Hei, Dave! Jika, sudah tidak sabar, jangan seperti ini. Kau bisa membunuhku!" pekik Excel.
"Diam! Siapa yang menyuruhmu ikut," ketus Dave
"Tapi, kau tidak boleh seperti ini, Dave. Kau membahayakan nyawaku."
"Di depan sana, aku akan berhenti. Dan kau turun!"
__ADS_1
"Eh jangan, Dave ... aku hanya becanda, maafkan aku Dave. Jangan turunkan aku di pinggir jalan," pinta Excel seketika langsung diam.
Setelah 10 menit, mobil Dave membelah jalanan kota yang sangat luas. Akhirnya mereka sampai di depan restoran yang di maksud istrinya.
"Itu dia istrimu, Dave," ucap Excel saat melihat Vera berdiri di parkiran sendiri.
"Kita turun sekarang," titah Dave membuka pintu dan menghampiri istrinya yang sedang berdiri sendirian di pojok parkiran.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Dave setelah berhadapan dengan istrinya.
"Menunggumu Mas, aku sedang menunggumu," ujar Vera, "Mas Excel juga ikut?" tanya Vera saat melihat Excel di belakang suaminya.
"Iya, siapa tahu ... aku menemukan jodohku di sini, sekalian makan siang," jawab Excel santai.
"Mas Dave belum makan siang?" tanya Vera.
"Dave selalu melupakan makan siangnya. Lebih baik, kita masuk dan pesan makanan," timpal Excel.
"Di mana Lord? Apa, kamu belum memberitahukan keberadaanmu di sini?" tanya Dave merangkul pundak Vera agar berjalan berdampingan dengannya.
"Oh iya, aku lupa Mas, sebentar aku akan mengabari Lord," titah Vera merogoh ponselnya di dalam tas.
"Tidak perlu, biarkan saja," cegah Dave.
Excel menghentikan langkahnya dan menunggu sepasang kekasih itu berjalan mendahuluinya.
"Kenapa berhenti Mas?" tanya Vera saat melihat Excel mematung.
"Tidak apa-apa, aku akan persilahkan sepasang--"
"Diam, atau aku usir--"
"Jangan-jangan, aku diam," jawab Excel berjalan berdampingan dengan Vera dan Dave, dengan posisi Vera di tengah-tengah mereka.
'Semoga saja, Putra dan lainnya tidak melihatku,' batin Vera, ekor matanya melirik kanan kiri mencari meja Putra dan teman-temannya.
"Kita pakai, private room saja. Aku tidak suka keramaian," titah Dave pada Excel,
"Aku sudah memesankan semuanya, sewaktu di dalam perjalanan. Jadi, sekarang ... kita tinggal masuk saja," ucap Excel.
Dari kejauhan, Putri melihat Vera yang sedang dihimpit oleh kedua pria dewasa, seketika terlintas rencana di dalam otaknya.
"Hei, lihat! itu mahasiswa baru kan?" ucap Putri menunjuk Vera yang sedang berjalan dengan kedua pria dewasa.
"Hebatnya, dia! Ternyata simpanannya begitu banyak. Dan lihat, mereka tertawa dan memasuki private room, Kira-kira mau apa, dia?" sambung Putri, ekor matanya melirik pada Putra yang tengah terbakar emosi.
__ADS_1
"Dia kan Vera? Teman sekelas aku," ucap Vin, 'Dan dia kan, Kak Dave. Jadi, mereka benar-benar mempunyai hubungan khusus di belakang Kak El?' batin Vin.
Bersambungš