Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 39


__ADS_3

"Cie, ada yang malu, hahaha ...," Vin terkikik.


"Vin diam! Jangan sampai dosen menegurmu!" ujar Bella yang tidak suka dengan kedekatan Vin dan Vera.


"Benar Vin, kecilkan suaramu, jangan sampai kita ditegur," timpal Vera lalu menatap dosen yang sedang menjelaskan di layar monitornya.


Setelah jam kampus usai, Vin dengan setia menunggu Vera yang sedang mengemasi buku-bukunya, tatapannya selalu tertuju pada mata, hidung dan bibir Vera yang berwarna merah jambu.


"Ayo kita pulang, Vin. Ingat janjimu!" tagih Bella setelah selesai mengemas barangnya.


"Janji? Aku tidak membuat janji apapun," ucap Vin lupa.


"Jangan lupa atau pura-pura lupa. Sebaiknya antar aku pulang," kesal Bella menghentakkan kedua kakinya bergantian.


"Antar saja Vin. Aku tidak apa-apa," timpal Vera sambil membalas pesan dari suami dan kekasihnya.


"Tapi, aku mau mengantarmu pulang, Ver!" titah Vin mengibaskan tangannya ke udara, berharap Bella akan sadar dengan kode yang dia buat.


"Apa?" ujar Bella.


"Hustt ... Hustt ...," usir Vin.


'Enak saja. Lebih baik, aku di sini dan berpura-pura tidak tahu dengan kode yang diberikan Vin,' batin Bella menjatuhkan bokongnya di meja.


"Sudah, tinggal saja. Lagi pula, aku harus menemui seseorang," ujar Vera beranjak dari tempat duduknya.


"Siapa?" tanya Vin penasaran, "Apa kau ingin menemui kekasihmu?" sambung Vin.


"Mana ada, dia anak baru di sini. Tidak mungkin, anak baru mempunyai kekasih di kampus ini. Lagi pula, lihat penampilannya yang sangat norak. Tidak akan ada pria di kampus ini yang melirik padanya. Sudah, ayo kita pulang. Buang-buang waktu saja," gerutu Bella menarik paksa lengan Vin dan meninggalkan kelas.


"Norak? Memangnya pakaian ku norak?" gumam Vera menatap pakaiannya sendiri.


"Tidak, menurutku ini tidak norak. Lagi pula, aku tidak mungkin memakai dress atau gaun setiap hari. Karena, sekertaris Mas Dave membelikan pakaian yang rata-rata modelan seperti ini," sambung Vera, kemudian dia berjalan keluar kelas, dan melihat Lord yang sedang menunggunya.


Seketika, Vera berlari ke dalam kelas. Mencari alasan untuk mengelabui anak buah suaminya yang menurutnya tidak terlalu bodoh, membuatnya kesusahan mendapatkan alasan versi terbaiknya.


"Aku harus beralasan apalagi? Aku tidak mungkin membatalkan janjiku pada Putra. Tapi bagaimana aku lepas dari Lord?" gumam Vera berjalan mondar mandir sambil mengigit ujung jarinya.


"Yeah, aku mendapatkan ide. Walaupun aku tidak yakin dengan ideku sendiri, tapi akan aku coba," ujar Vera berjalan keluar kelas menghampiri anak buah suaminya.


"Nyonya, Nyonya ... tidak apa-apa kan?" tanya Lord saat melihat Vera datang sambil memegang perutnya.


"Tidak tahu, Lord. Perutku sakit, mungkin maag ku kambuh, atau asam lambungku kumat. Aku boleh minta tolong tidak?" ucap Vera lirih, dia menjatuhkan bokongnya di kursi dekat kelasnya.

__ADS_1


"Apa? Saya akan membantu Nyonya," jawab Lord cemas.


"Belikan aku obat untuk meredakan nyeri. Atau belikan aku jamu, kemungkinan besar rasa nyeriku karena faktor datang bulan," ucap Vera meringis kesakitan, sesekali ekor matanya melirik pada Lord yang mulai percaya dengan aktingnya.


'Aku yakin, Lord akan percaya dengan aktingku. Tidak sia-sia, aku berlatih dan mengikuti lomba akting di SMP,' batin Vera,


"Aww, Lord ... sakit, Lord. Cepat belikan," ringis Vera meremas perutnya.


"Apa, sebaiknya kita ke rumah sakit saja, Nyonya? Saya takut, obat di sini, akan--"


"Tidak sempat, Lord. Kamu mau, aku mati, hem?" timpal Vera.


"Baiklah Nyonya, tapi Nyonya tunggu di sini. Jangan pergi atau menghilang seperti pagi tadi," ucap Lord yang diangguki Vera.


"Aku tidak akan pergi atau menghilang lagi. Perutku sangat sakit," jawab Vera.


"Nyonya tunggu di sini," titah Lord, kemudian berlari mencari kantin atau koperasi di kampus.


Setelah kepergian Lord, Vera beranjak dari tempat duduknya sambil tertawa bahagia.


"Mau saja aku tipu. Padahal, aku tidak sakit," ujar Vera menatap punggung Lord yang hampir tak terlihat.


"Siapa yang ditipu?" ucap seorang pria yang tiba-tiba berada di belakang Vera.


Vera menoleh, dia tersenyum saat melihat kekasihnya sudah berada tepat di belakangnya.


"Siapa yang kamu tipu, sayang?" tanya Putra mendekati Vera dan memeluknya.


"Jangan seperti ini, Put. Bagaimana, jika ada Putri atau lainnya? Kita bisa ketahuan. Dan aku, akan dituduh sebagai pelakor," ujar Vera melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.


"Ayo kita pergi. Aku mau menunjukkan sesuatu padamu," ajak Putra, tangannya mulai menggenggam tangan Vera, kemudian mereka berjalan berdua berdampingan.


"Santai saja, aku sudah memastikan semuanya aman," ucap Putra saat melihat kekasihnya gelisah.


'Bukan itu, tapi aku takut, jika Lord datang dan memergoki kita,' batin Vera.


"Put, sebaiknya kita berlari atau berjalan cepat. Aku sangat penasaran dengan sesuatu yang ingin kau tunjukkan," ucap Vera melirik kanan kiri, berharap Lord tidak melihatnya.


"Ayo, kita berlari sambil berpegangan tangan," ajak Putra.


"Ayo, siapa takut!"


"Kita mulai, hitungan ke 3, siap?" tanya Putra yang diangguki Vera.

__ADS_1


"Siap!"


"Satu!"


"Dua!"


"Ti-lari!"


Keduanya berlari dengan tangan saling menggenggam, mereka tertawa bersama seakan tidak ada beban yang menimpanya.


"Apa kamu bahagia?" tanya Putra yang diangguki Vera.


"Iya, aku sangat, sangat bahagia," teriak Vera.


Setelah membeli obat di koperasi kampus, Lord segera berlari menghampiri Nyonya mudanya. Dia takut terjadi sesuatu hal yang buruk di saat dirinya pergi.


"Di mana Nyonya? Kenapa tidak ada?" gumam Lord setelah sampai di bangku dekat kelas Vera.


"Jangan-jangan Nyonya, sudah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Atau, jangan-jangan Nyonya berbohong. Dia sengaja memintaku untuk membelikan obat, dan setelah aku pergi, Nyonya juga ikut pergi?" gumam Lord meremas kantong plastik kecil yang berisi obat untuk Nyonya mudanya.


Setelah berhasil mengontrol emosinya, Lord menjatuhkan bokongnya di kursi, sebelumnya dia sudah mengambil ponsel yang berada di suku celana kain.


Tut ...


Tut ....


"Nyonya, angkat telfon saya," gumam Lord bangkit dari duduknya.


Setelah beberapa kali panggilannya tidak dijawab oleh istri Tuan nya. Tiba-tiba ponsel Lord berdering, tanpa menunggu lama, Lord langsung menggeser tombol hijau dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Nyonya ...," panggil Lord.


"Hei, Nyonya-nyonya. Aku Dave!" pekik Dave.


"Di mana istriku? Bukankah, jam kampus istriku sudah habis?" tanya Dave dari sebrang sana.


"Emm ... Nyonya--"


"Berikan ponselmu padanya. Aku ingin memarahinya, karena sudah berani tidak mengangkat telfon dariku!" titah Dave membuat Lord kebingungan.


'Aduh, bagaimana ini. Aku harus jawab apa? Aku tidak mungkin berbohong pada Tuan, tapi aku juga tidak mau dimarahi Tuan,' batin Lord.


"Cepat, berikan ponselmu padanya!" pekik Dave lagi.

__ADS_1


"Em ... Nyonya--"


Bersambung😘


__ADS_2