Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 35


__ADS_3

"Bagaimana? Apa dia sudah bangun?" tanya Dave yang baru saja tiba di Caffe dan melihat Alexa menuruni anak tangga.


"Bos, dia mengatakan kalau, dia istri bos?"


"Apa semua itu benar?" tanya Alexa ragu.


"Memang benar dia istriku, oh iya ... jangan sampai ada yang tahu, jika aku dan dia sudah menikah, termasuk karyawan lain. Aku tidak suka hubungan asmaraku tercium sampai manapun," titah Dave menepuk pundak Alexa dan berjalan menaiki anak tangga.


'Lalu, nasib dokter El dan Nana, bagaimana? Kalau aku lihat-lihat mereka menyukai bos, apalagi dokter El, terlihat pancaran matanya yang sangat berbeda saat menatap bos,' batin Alexa menuruni anak tangga dengan lesu.


Krekk ...


Pintu kamar terbuka dari luar, terlihat sosok pria tampan memasuki kamar yang disinggahi istrinya.


"Putri tidur sudah bangun?" ejek Dave menjatuhkan tubuhnya di sofa.


Vera menatap sekilas lalu pandangannya beralih pada makanan yang baru saja dia makan.


'Dasar, hobi kok ngerjain orang. Aku tahu, kamu tidak akan menjual ku, Mas. Kamu hanya menggertak ku saja, agar aku membatasi pergaulan ku dengan pria-pria itu,' batin Vera menyuapkan nasi pertamanya dengan rakus.


"Setelah selesai ini, lebih baik ... kau bersiap-siap. Kita akan pulang," titah Dave yang diabaikan Vera.


'Aku mau mencoba membuatnya marah,' batin Vera.


"Kau dengar kan ucapanku!"


"-_-"


"Hei!" pekik Dave lagi.


"-_-"


'Rupanya dia mau membalas perlakuanku,' batin Dave beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri istrinya.


"Baiklah, kita akan bermalam di sini. Di tempat dan kamar ini, jadi jika kita melakukannya akan terdengar sampai lantai dasar. Pasti semua karyawan di bawah, akan mengira--"


"Makananku sudah habis, ayo kita pulang, Mas!" timpal Vera meletakkan piring kotor itu di atas meja dan meraih tasnya.


'Selalu saja membuatku terpaksa bicara,' batin Vera menahan kesal.


"Ayo Mas, kenapa diam saja!" titah Vera saat melihat suaminya duduk di tepi ranjang dan memainkan ponselnya.


"Aku mau bermalam di sini," jawab Dave kemudian meluruskan kakinya di ranjang.

__ADS_1


Vera menghampiri dan menjatuhkan bokongnya di ujung ranjang, "Ayo Mas, jangan gila," titah Vera mengguncang tubuh suaminya.


"Mas, ayo!" sambungnya lagi.


"Tidurlah di sampingku. Aku merasakan lelah yang bertubi-tubi hari ini," ujar Dave.


***


"Hallo Yah, bagaimana kabar Kak Riski?" tanya Putra setelah panggilannya terhubung oleh Ayahnya, Leo.


"Ayah belum memberitahukan mu, Put?" ucap Leo, "Apa kamu tidak melihat berita di TV atau sosial media lainnya?" sambungnya lagi.


"Memang ada apa dengan Kakak, Yah? Kakak sudah sehat? Dia sudah sembuh kan" tanya Putra.


"Maafkan Ayah, Put! Kakakmu sudah tiada, Ayah kira--"


"Apa! Ayah becanda kan? Kakakku masih ada! Kakakku belum mati, dia--" tubuh Putra melemas, sendok di tangannya sudah terjatuh entah kemana, kakinya terasa tidak bertenaga.


"Maafkan Ayah, Ayah sudah berusaha semaksimal mungkin, untuk menyelamatkan Kakakmu, Put. Tapi, takdir berkata lain. Kakakmu sudah tenang di sana," ucap Leo dengan suara lirihnya.


"Lalu, Ayah di sana sendiri? Atau begini saja, Ayah ikut aku di sini. Agar Ayah tidak sendiri, aku akan pulang dan menjemput Ayah, sekalian, aku ingin melihat makam Kakak," ujar Putra.


"Jangan Put, Ayah tidak mau merepotkanmu, Ayah akan tetap di sini. Dan urusan pemakaman Kakakmu, jangan dipikirkan. Kamu bisa melayatnya jika kamu sudah pulang. Lebih baik, kamu fokus untuk belajar. Jangan kecewakan Ayah dan almarhum Kakakmu."


"Apa? Apa yang ingin kau sampaikan pada Ayah?" tanya Leo penasaran, "Oh iya, Ayah juga ingin menyampaikan sesuatu padamu," sambungnya lagi.


"Apa yang mau Ayah sampaikan, aku akan mendengarkannya dulu," jawab Putra beranjak dari tempat duduknya dan merebahkan tubuhnya di sofa, pandangannya beralih pada bingkai foto kecil, foto yang diambil saat bersama kakaknya di sebuah taman kecil belakang rumahnya.


'Aku tidak percaya, kamu akan meninggalkan ku sendiri kak, sekarang aku sendiri, yang aku punya hanya Ayah Leo,' batin Putra tanpa sadar menitikkan air matanya.


"Ayah akan menikah, dan Ayah mau meminta restu darimu, Put," ucap Leo mengejutkan Putra.


Di hapus nya air mata yang baru saja keluar, "Aku tidak salah dengar kan? Ayah mau menikah? Menikah dengan siapa?" tanya Putra.


"Menikah dengan kekasih yang Ayah cintai. Ayah tahu, mungkin ... ini semua terlalu cepat dan mengejutkan mu, tapi ayah tidak mau menimbulkan gosip--"


"Aku mengerti Yah, aku juga ingin meminta sesuatu pada Ayah. Aku harap, Ayah bisa mengabulkannya," ucap Putra.


"Apa? Jika Ayah bisa mengabulkannya, Ayah akan kabulkan."


"Aku mau Ayah datang ke sini, dan menemani aku melamar wanita yang aku cintai," ucap Putra meluruskan kakinya, kemudian mengambil dan meminum jus nya.


"Apa! Tapi, kau kan masih kuliah, Put?"

__ADS_1


"Apa kau telah melakukan kesalahan, sampai-sampai--"


"Aku pernah menghamili nya, dan aku ingin menebus semuanya, Yah. Jadi, datanglah ke sini. Lalu lamarkan wanita itu untukku," timpal Putra.


"Ayah akan bicarakan ini semua pada kekasih Ayah. Ayah tidak bisa meninggalkan kekasih Ayah sendiri di sini," ucap Leo kemudian mematikan telfonnya sepihak.


"Hallo Yah, Tut-Tut-Tut! "


"Ahhh sialll, kacau! Kenapa jadi seperti ini! Kenapa semuanya seperti tidak memihak ku!" umpat Putra melemparkan ponselnya.


'Aku berjanji, aku akan merebut hatimu kembali, Ver. Karena sedari dulu, aku memang mencintaimu. Walaupun sikapmu seperti anak kecil dan hobimu berbelanja, tapi aku benar-benar mencintaimu, Ver!' batin Putra meneguk kembali jus nya.


Ke esokan harinya, semua manusia penduduk bumi, dibangunkan oleh suara ayam yang berkeluruk dan sinar matahari yang perlahan menerangi bumi.


Begitupun juga dengan Vera, hampir saja dirinya telat ke kampus karena suaminya yang benar-benar menghajarnya habis-habisan semalaman.


"Lord, apa marahnya laki-laki terkadang suka kelewat batas?" tanya Vera setelah berada di dalam mobil.


"Memangnya kenapa Nyonya?" tanya Lord melihat wajah istri Tuan nya yang lesu.


"Aku bertanya, tinggal dijawab. Jangan bertanya lainnya!" gerutu Vera menutupi lehernya dengan syal nya.


"Oh iya, Lord ... kita berhenti di apotek depan ya?" sambung Vera lagi.


"Mau membeli apa Nyonya? Biar saya belikan."


"Ehh tidak usah, biar aku yang beli saja. Kamu tunggu di sini," timpal Vera cepat.


"Tapi Nyonya--"


"Tunggu di sini! Aku mau membeli kebutuhan wanita," ucap Vera saat mobilnya sudah terparkir di depan apotek.


"Biar saya temani. Karena seluruh uang Nyonya, ada ditangan saya," ucap Lord melepas sabuk pengamannya.


"Lord! Tunggu di sini!"


"Saya tidak bisa, Nyonya," jawab Lord.


"Aku mau membeli--"


"Membeli apa Nyonya? Biar saya belikan."


Bersambung😘

__ADS_1


__ADS_2