Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 65


__ADS_3

"Berani-beraninya dia kabur lagi dariku. Bisa-bisa aku gila melihat kelakuan bar-bar nya," gumam Dave meletakkan ponselnya di atas meja.


"Siapa yang kabur, Dave? istrimu?" tanya Excel yang baru saja tiba di ruangan sahabatnya.


"Siapa lagi? dia memang susah diatur!"


"Lebih baik, kau panggil dosen kampus untuk membimbing istrimu di rumah, agar tidak kabur-kaburan lagi. Ya sekalian, melatih istrimu betah di rumah. Apa iya, jika dia hamil anakmu, dia akan tetap berhubungan dengan kekasih gelapnya?"


"Dan satu lagi, jika istrimu hamil, pastikan yang ada di dalam rahimnya, anakmu atau anak dari kekasihnya itu?" ujar Excel panjang lebar.


"Lebih baik diam! Dan cari keberadaan istriku. Aku akan memberikannya pelajaran. Oh Tuhan, tidak enak mempunyai istri yang pembangkang sepertinya!" gumam Dave menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya.


"Ceraikan saja dia, dan cari wanita lain yang baik untuk menggantikan istrimu!" ucap Excel enteng membuat pulpen yang berada di tangan Dave terlempar dan mendarat sempurna di kening sahabatnya.


"Sekali lagi bicara seperti itu, aku akan memecat dan mengusirmu dari rumahku!"


"Eh, jangan Dave, aku tidak mau pergi dari rumahmu," jawab Excel tersenyum menampilkan deretan giginya yang rapi.


"Pergi! dan cari istriku!"


"Apa! aku mencari istrimu? yang benar saja. Untuk apa kamu memperkerjakan Lord. Suruh dia cari!"


"Aku tidak mau mencari istrimu!"


"Lebih baik, aku mencari jodohku saja!" ketus Excel beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan sahabatnya yang sedang menahan kesal.


"Aku mendoakan mu susah menemukan jodoh!" teriak Dave sebelum Excel keluar dari ruangannya.


"Dan aku akan mendoakan mu cepat bercerai dengan istrimu, hahaha ...," ledek Excel kemudian keluar dari ruangan sahabatnya.


"Apa kau bilang!" teriak Dave yang diabaikan Excel, "Berani-beraninya, dia mendoakan ku cerai. Sampai kapan pun, aku tidak akan menceraikannya!" gumam Dave.


"Kemana perginya wanita itu? baru saja, aku tidak mengantarnya ke kelas, dia sudah kabur saja!" ujar Dave meraih dan memencet nama istrinya.


Di satu sisi, Vera yang tengah bersender di pundak kekasihnya pun terganggu dengan getaran ponsel yang berada di tasnya.


"Sebentar Put! aku mau mengangkat telfon dulu. Ponselku selalu bergetar," ujar Vera merogoh dan mencari keberadaan ponselnya di tas.


Setelah berhasil menemukan ponselnya, Vera langsung beranjak dari tempat duduknya, "Aku akan dulu." titah Vera berjalan menjauh dari kekasihnya.

__ADS_1


"Hallo Mas?" ucap Vera setelah menggeser tombol hijau dilayar ponselnya.


"Hallo, masuk ke kelasmu sekarang juga! kau benar-benar wanita yang susah diatur." pekik Dave setelah menunggu lama panggilannya diangkat.


"Aku malu Mas, aku sudah telat. Bisa-bisa aku dimarahi dosen, memangnya, Mas Dave tidak kasihan denganku?" ucap Vera melirik sekilas pada Putra yang tengah menatapnya dari kejauhan.


"Untuk apa aku kasihan denganmu. Sekarang, pilihanmu hanya 2,"


"Satu, turuti perintahku. Sekarang pergi dan masuk ke kelas, atau ... dua, mulai besok, kuliah di rumah, dan aku akan meminta dosen untuk kerumah," ujar Dave membuat Vera menganga.


"Apa Mas! jangan gila, aku tidak mau kuliah di rumah. Aku bukan tahanan," ujar Vera.


"Sekarang, masuklah. Lord sedang mencari mu, ingat jika kau berani berbohong, maka mulai besok, bersiap-siaplah kuliah dari rumah," ancam Dave.


"Tapi, aku tidak mau kuliah dari rumah Mas, aku juga malu jika masuk kuliah sekarang, aku sudah telat,"


"Setelah pelajaran ini selesai, aku akan masuk. Aku janji Mas, please!"


"Tidak ada tawar menawar!" ucap Dave mematikan panggilannya.


"Hallo Mas- Mas! tut-tut!" telfonnya sudah diputus oleh suaminya.


"Kenapa Mas Dave bisa tahu aku bolos! pasti ini semua ulah Lord. Awas saja Lord, aku akan memberikan hukuman untukmu!" geram Vera berjalan menuju Putra.


"Aku tidak bisa duduk, Put. Aku harus masuk ke kelas," ucap Vera mengambil tasnya.


"Kenapa? bukankah jam di kelas mu sudah dimulai? dan kita sudah sepakat untuk bolos? kenapa tiba-tiba berubah pikiran seperti ini, sayang?" tanya Putra, "Memangnya, siapa yang menelpon mu?"


"Mas Dave, dia tahu aku bolos. Dan sekarang, dia mengancam ku. Aku tidak bisa berbuat apapun selain menuruti semua perintahnya." ucap Vera, "Aku kembali ke kelas dulu, Put!" sambungnya lagi.


"Memangnya, hubungan kalian sangat dekat?" tanya Putra..


"Em ... untuk apa bertanya seperti itu, Put? aku hanya menghormatinya saja, tidak lebih," jawab Vera bohong.


"Tunggu dulu, kamu bilang ... kamu tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti semua permintaannya, apa kalian mempunyai hubungan khusus yang kalian rahasiakan? lagipula, ini sangat aneh. Aku tahu sikap mu, sayang. Kau mempunyai sikap yang keras kepala dan tidak suka diatur. Kenapa, tiba-tiba kamu menjadi seperti boneka, yang mau menuruti semua permintaannya?" tanya Putra membuat Vera bingung menjawab ucapan kekasihnya.


"Em ... sudah aku bilang, aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya. Aku menuruti semua permintaannya, hanya sebatas menghargai saja,"


"Ya sudah aku pergi!" ujar Vera.

__ADS_1


Setelah melangkah kakinya menjauh dari Putra, seketika emosi Vera memuncak, segera dia mencari keberadaan anak buah suaminya yang mempunyai mulut seperti ember.


"Lord!" pekik Vera saat melihat Lord duduk di kursi dekat kelasnya.


"Nyonya!" ucap Lord bangkit dari duduknya, "Darimana saja, Nyonya!"


Plak!


"Jangan panggil aku Nyonya! ingat! di kampus!" ucap Vera setelah memukul lengan anak buah suaminya.


"Maafkan saya, Vera. Saya khilaf!"


"Khilaaf berkelanjutan!"


"Untuk apa, kamu mengadukan aku bolos pada Mas Dave, untuk apa?" tanya Vera menarik paksa tangan Lord agar menjauh dari kelasnya.


"Saya hanya bertanya saja pada Tuan. Maafkan saya, jika saya lancang."


"Huh!"


"Sekarang bantu aku," titah Vera.


"Bantu apa Nyonya," tanya Lord ragu.


"Bantu aku berbohong pada Mas Dave. Jam Mapel pagiku kan udah mau habis, aku disuruh masuk oleh Mas Dave, tapi aku malu. Kamu cukup bicara, jika aku sudah masuk ke kelas, tapi jika Mas Dave bertanya, jika tidak ya sudah, biarkan!"


"Nyonya meminta saya berbohong?"


"Saya tidak bisa, Saya setia pada Tuan Dave!" tolak Lord.


"Memangnya, aku siapa? aku istri dari Tuan Mu!"


"Ya, tetap saja! walaupun Nyonya istri Tuan, tapi saya akan bicara jujur pada Tuan," jawab Lord tak ingin dibantah.


"Astaga! percuma saja, aku bicara padamu jika ujung-ujungnya kau tak mau berpihak padaku!"


"Maafkan saya Nyonya, saya hanya ingin yang terbaik untuk kita semua,"


"Sebagai istri Tuan, anda harus menaati semua perintah yang diberikannya, bukan melanggarnya," ucap Lord.

__ADS_1


"Pandai sekali mulutmu berbicara, apa kau tidak tahu hukuman apa yang di berikan Mas Dave untukku?"


Bersambung😘


__ADS_2