
"Em ... setidaknya, aku sudah laku. Dan aku akan berubah, tidak perlu meminta maaf dan merasa bersalah padaku, Lord," jawab Vera menarik kedua sudut bibirnya ke atas.
'Apa benar, ini Nyonya Vera? Kenapa sikapnya berubah, apa yang dibicarakan Excel benar, jika mereka sudah akur dan saling menyatakan cinta?' batin Lord.
"Terimakasih Nyonya, kita sudah sampai di kantor Tuan," ucap Lord membuka pintu dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu istri Tuan nya.
"Tidak perlu repot-repot. Terimakasih," ujar Vera keluar mobil dan berjalan masuk kantor suaminya.
Di saat Vera sampai di depan ruangan suaminya, samar-samar Vera mendengar percakapan antara suami dengan wanita yang berada di dalam ruangan suaminya. Pintu yang sedikit terbuka, membuat Vera menajamkan pendengarannya.
"Aku merindukanmu, Dave! Apa kau tidak merindukanku? Sudah lama, kita tidak berjumpa,"
"Dan cantik tidak? Ini gaun yang kemarin kau belikan untukku?" ujar El kepada Dave.
"Aku juga merindukanmu, gaunnya sangat cantik dan sangat cocok dipakai olehmu," puji Dave melirik sekilas jam dipergelangan tangannya.
"Oh iya, aku membawakan makan siang untukmu dan untuk Excel, kalian berdua pasti belum makan, kan? Aku sangat hafal dengan kebiasaan mu yang mengabaikan sarapan pagi dan larut dalam pekerjaan."
"Aku tidak seperti itu, tapi letakan saja di sana," titah Dave menunjuk meja kerjanya.
"Nyonya, kenapa Nyonya tidak masuk ke dalam?" tanya Lord saat melihat istri Tuan nya mematung di depan ruangan.
"Ada apa?" ucap Excel yang baru saja datang.
"Tidak tahu, Nyonya tidak mau masuk ke dalam dan dari tadi ... saya melihat Nyonya diam," jawab Lord membuat Excel menganggukkan kepalanya sesaat, kemudian matanya membulat sempurna saat mengingat di dalam ruangan terdapat dokter menyebalkan.
"Lord, antar aku pulang saja. Tiba-tiba aku tidak enak badan," ujar Vera, "Dan Mas Excel, ini ada kue. Mas Excel bisa membagikan kue ini pada beberapa karyawan di sini." Vera memberikan kantong plastik berisi kue kepada Excel.
"Nyonya, Nyonya jangan salah paham dulu. Mereka hanya sebatas teman saja, Dave bahkan menganggap wanita itu seperti adiknya sendiri. Lebih baik, Nyonya masuk bersama saya," titah Excel.
"Apa tidak apa-apa, aku masuk? aku takut mengganggu mereka?" ucap Vera ragu, "Pasti kedatanganku membuat mereka tidak nyaman. Dan apa kata wanita itu tentangku? Aku tidak mau dikatakan simpanan lagi, Mas. Lebih baik, aku pulang saja," ucap Vera, "Bagikan kue ini pada semua karyawan," sambungnya lagi.
"Tidak Nyonya, lebih baik Nyonya ikut saya. Jika, Dave merahasiakan identitas Nyonya, Nyonya bilang saja ... jika saya kekasih Nyonya," jawab Excel asal.
"Hei, bagaimana kalau Tuan marah! Tuan pasti tidak setuju dengan pendapatmu!" ucap Lord lirih.
"Ayo Nyonya, Nyonya harus bisa. Nyonya istri Sah dari Dave, dan wanita itu, hanyalah ulat kecil yang perlu dimusnahkan," ucap Excel menarik tangan Vera agar ikut masuk ke ruangan sahabatnya.
"Lord, tunggu di sini, aku hanya--"
__ADS_1
"Pulanglah, biar Nyonya urusan saya," potong Excel cepat.
Krek ....
Pintu terbuka, percakapan antara Dave dengan El pun terhenti, mata Dave membulat sempurna saat melihat Excel menggandeng tangan istrinya.
"Bukankah wanita itu, wanita yang dulu, Dave?" tanya El saat melihat Vera.
"Mas Excel, aku mau pulang!" bisik Vera, tubuhnya tiba-tiba gerogi saat melihat tatapan dari wanita yang sedang berbincang dengan suaminya.
"Dave, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu," ucap Excel mendorong tubuh Vera agar mendekat pada Dave.
"Mas Excel, aku bisa jatuh!" geram Vera menatap tajam sekertaris suaminya.
"Silahkan duduk," ucap El kepada Vera.
"Eh ... tidak perlu Mbak, saya hanya ingin memberikan ini pada Mas Dave," jawab Vera meletakkan kantong plastik berisi kue, "Kalau begitu saya permisi dulu," sambungnya lagi.
"Nona Vera!" panggil Excel membuat Vera menoleh pada pria yang memanggilnya.
"Iya Mas?"
"Tapi Mas, aku mau pulang, bukankah jadwal pemotretan 3 hari ke depan?" tanya Vera.
"Dave, ada apa denganmu? Kenapa mendadak menjadi diam seperti patung?" tanya El sambil mengikis jarak diantaranya.
"Tidak apa-apa, El. Aku hanya ingin diam."
"Kau cemburu, saat melihat wanita itu dekat dengan Excel?" ucap El melihat tatapan Dave tertuju pada Vera yang sedang berbicara dengan sekertarisnya.
Seakan tuli, Dave justru mengabaikan ucapan sahabat wanitanya, dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menghampiri istri serta sekertarisnya.
"Apa pekerjaan mu sudah beres?" tanya Dave pada Excel.
"Belum."
"Cepat bereskan pekerjaanmu!" titah Dave memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
"Aku ikut Mas Excel, aku mau pulang. Dan urusan pemotretan, kita bisa bicarakan ini baik-baik. Lagi pula, Mas Dave sangat sibuk," ucap Vera mengeratkan pegangannya pada Excel.
__ADS_1
'Aku pikir, Mas Dave tipe orang yang setia, tapi ternyata tidak. Sudahlah, untuk apa aku meyakinkan diri mempertahankan pernikahan dan berusaha membuka hati untuk Mas Dave, jika semuanya akan berakhir dengan sia-sia,' batin Vera tersenyum kaku pada suaminya.
"Tunggulah di sini, kita pulang bareng," titah Dave menarik tubuh istrinya agar tidak berdekatan dengan sekertarisnya.
"Lepas Mas, aku malu!" tepis Vera menatap sekilas wanita yang sedang memperhatikannya dari tadi.
"El, pulanglah, tiba-tiba sekertarisku memajukan acara pemotretannya," titah Dave tanpa menoleh pada sahabat wanitanya.
"Baiklah, aku akan pulang," jawab El beranjak dari tempat duduknya.
"Mas Excel, aku juga mau pulang. Ayo kita pulang," titah Vera menggoyangkan lengan sekertaris suaminya.
"Dia kekasihmu, Cel?" tanya El tiba-tiba, "Aku tidak percaya, kau akan mempunyai kekasih wanita muda sepertinya," sambungnya lagi.
"Hem ... benar, aku juga tidak percaya, akan mempunyai kekasih sepertinya," jawab Excel terkekeh.
"Ya sudah, Dave. Aku akan pulang, terimakasih atas semuanya, sampai bertemu kembali," ucap El yang tiba-tiba sudah berada di dekat Dave dan mencium pipi Dave.
"Wah ... amazing, kalian benar-benar tidak malu, ada kami di sini," ucap Excel bertepuk tangan.
"Kenapa harus malu, ya ... kan, Dave?"
"Sudahlah, lebih baik kau pulang, dan jangan memikirkan ucapan Excel. Dia mulai gila!" titah Dave yang diangguki El.
"Baiklah, see you ...." ucap El berjalan keluar ruangan.
Setelah melihat sahabatnya keluar ruangan, Dave langsung menarik tubuh istrinya dan memerintahkan Excel untuk keluar ruangan juga.
"Pergilah, ada sesuatu yang harus aku bahas dengannya," titah Dave pada Excel.
"Aku ikut Mas," timpal Vera cepat.
"Pergilah!"
"Aku ikut Mas, lepaskan aku Mas Dave, aku mau ikut Mas Excel," titah Vera berusaha melepas cengkraman tangan suaminya.
"Pergilah!" teriak Dave.
Bersambungš
__ADS_1