Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 143


__ADS_3

"Tapi Mas Dave betah tinggal di rumah ini?" tanya Vera yang mendapat anggukan kecil dari Excel.


"Mungkin saja dia betah. Ini kan rumah aslinya. Semua ucapannya bohong. Tapi, di rumah ini tidak ada pelayan atau asisten rumah tangga lainnya. Karena kedatangan kita ke sini hanya untuk mencarimu. Jika dalam seminggu, kita tidak bisa menemukanmu, maka kita akan pindah ke negara lain. Dave sangat mencemaskanmu!" bisik Excel.


"Hei, kalian kenapa bicaranya bisik-bisik? Cepat, masuk!" titah Dave membuat Vera tersenyum ke arah Excel.


"Kau yakin, dia mencemaskanku, Mas? Atau dia hanya mencemaskan calon anaknya, saja?" jawab Vera tak kalah berbisik.


"Menurutku, Dave mencemaskan kalian berdua. Sangat mencemaskan! Bahkan waktu makan saja, dia memikirkanmu. Aku rasa, dia sudah jatuh hati padamu!" ujar Excel membuat Vera tersipu malu.


"Jangan bicara aneh-aneh, Mas! Tidak mungkin Mas Dave jatuh hati padaku. Aku masih tidak percaya dengan ucapanmu, itu. Tapi, ya, sudahlah. Kita masuk saja, dari pada Mas Dave marah-marah, bisa repot kita!" jawab Vera lalu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.


"Aku antarkan kamu ke kamar. Dan kamu bisa istirahat." titah Dave pada Vera.


"Di sini tidak ada orang, selain kamu dan Mas Excel, Mas?" tanya Vera melingkarkan tangannya ke lengan Dave.


"Ada, sudah ada kamu. Jadi, di rumah ini terdapat tiga orang." jawab Dave santai.


"Ish, bukan seperti itu maksudku, Mas! Maksudku seperti ini, di sini tidak ada pelayan atau asisten rumah tangga gitu? Rumah ini sangat luas, dan siapa yang akan membersihkan rumah ini selama kita tinggal di sini, Mas? Aku sedang hamil, tidak mungkin aku membersihkan rumah sebesar ini. Please! Jangan aneh, deh! Mentang-mentang kamu sudah menemukanku, lalu kamu bisa sesuka hatimu menyuruhku untuk membersihkan rumah ini? Aku tidak bisa, Mas!" ujar Vera membuat Dave menggelengkan kepalanya lalu terkekeh.


"Siapa yang mau memintamu untuk membersihkan rumah sebesar ini. Aku juga masih waras, Ver! Kita tinggal bertiga bukan berdua. Jadi, kita bisa minta salah satu di antara kita bertiga untuk membersihkan rumah ini!" titah Dave.


Mendengar ucapan sahabatnya, seketika Excel melototkan matanya tajam.

__ADS_1


"Kau gila, Dave!" ketus Excel.


"Siapa yang gila? Aku sedang berbicara dengan istriku." jawab Dave.


"Tapi aku tahu, apa arti ucapanmu itu, Dave! Kau mau, aku berganti jabatan, kan?"


"Tidak. Siapa yang mau mengganti jabatanmu. Aku hanya ingin menawarkan kerja sampingan saja. Ingat, Excel! Kau perlu uang untuk bertahan hidup. Dan ingat ... kau berada di mana?"


"Tapi kamu tidak bisa seenak jidat memintaku untuk menjadi pembantu di rumah ini. Kau gila, ya! Wajahku sudah tampan, tapi kau memperkerjakanku sebagai pembantu. Sebenarnya, kau sahabatku atau bukan, sih? Kalau kau sahabatku, tidak mungkin kau memintaku untuk melakukan pekerjaan yang sama sekali bukan bidangku!" ketus Excel.


"Lalu, aku harus suruh siapa selain dirimu, hem? Di sini hanya ada kamu, aku dan istriku. Tidak mungkin, aku meminta istriku untuk melakukan pekerjaan rumah. Dia sedang hamil muda!" jawab Dave membantu istrinya untuk duduk di sofa ruang keluarga.


"Ya, kenapa harus aku? Katamu, di sini ada tiga orang. Jadi, jika aku dan istrimu tidak bisa. Berarti tersisa satu orang lagi yaitu kamu! Jadi, menurutku kamu pantas menggantikan pekerjaan asisten rumah tangga di rumah ini!"


"Setelah itu, aku akan memecatmu. Dan aku akan menendangmu dari rumahku ini!" ketus Dave.


Dave membantu istrinya untuk berjalan menuju kamar. "Jangan di masukkan hati ucapanku dengan Excel, ya!" titah Dave berbisik.


"Bagaimana aku tidak memasukkan dan memikirkan ucapan kalian, Mas. Aku capek mendengar perdebatan kalian. Dan kamu juga! Kenapa kamu tidak menyewa asisten rumah tangga. Kenapa harus meminta Mas Excel untuk mengambil alih tugas asisten rumah tangga di rumah ini. Kamu benar-benar keterlaluan, Mas!" kesal Vera.


"Hust, kamu tidak boleh marah-marah. Ingat, kamu sedang hamil dan kamu baru saja pulang. Diamlah dan rileks kan tubuhmu. Aku yakin, sedari kemarin kamu gelisah kan?"


"Gelisah? Sama sekali tidak gelisah. Aku justru senang tinggal dengan Putra. Tidak ada keributan setiap hari. Yang ada hanya perhatian dan sikap tulus Putra. Tahu begini, lebih baik aku tinggal bersama Putra!" ketus Vera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuknya.

__ADS_1


"Cukup! Aku tidak suka wanita yang sudah bersuami memuji pria lain. Ingat, itu!" ketus Dave.


"Aku tidak memuji, Mas! Aku hanya menyampaikan isi hatiku, saja!"


"Ya, sudah. Kalau kamu nyaman berada di sisi pria itu, kamu bisa kembali ke dalam pelukan pria itu setelah anak yang ada di dalam kandunganmu lahir." kesal Dave lagi.


"Kamu merestui aku menjalin hubungan dengan Putra, Mas?" tanya Vera tak percaya.


"Tidak!" ketus Dave.


"Kalau tidak merestui aku, kenapa kamu bilang, kalau--"


"Ver, istirahatlah. Jangan banyak bicara. Ingat, tidak boleh mengumpat atau mencaci maki orang lain. Kamu sedang hamil, orang hamil harus bicara yang baik-baik agar calon anaknya juga baik!" potong Dave membenarkan selimutnya agar menutupi tubuh istrinya.


Mendengar ucapan suaminya, Vera terdiam. Ekor matanya mulai menatap sekitar kamarnya.


"Mas, kamu yakin ini kamar kita?" tanya Vera memastikan.


"Memangnya kenapa?"


"Tidak. Aku cuma memastikan saja. Kalau benar ini kamar kita, aku rasa perlu ada beberapa bagian yang di renovasi atau di bersihkan. Lihat, kaca jendela saja sampai tertutupi debu," ujar Vera menunjuk arah kaca jendela.


"Kamu tidak perlu khawatir. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri. Jika aku menemukanmu, maka aku akan mencari beberapa asisten rumah tangga untuk membersihkan dan membantumu. Aku tidak mau, kamu capek dan kelelahan. Lalu berdampak buruk untuk calon anak kita. Aku tidak mau semua itu terjadi!" jawab Dave berusaha menyakinkan istrinya.

__ADS_1


"Hem, begitu ya, Mas! Syukurlah. Aku jadi tenang. Lagi pula, tempat ini sangat horor kalau kita tempati bertiga, Mas! Dan aku tidak mau ya ... kamu dan Mas Excel pergi meninggalkanku sendiri di sini. Aku tidak mau, Mas!"


"Kau takut sama seperti Excel?" tanya Dave tak percaya. "Ayolah, Ver! Di sini tidak ada apa-apa. Tidak ada hantu juga! Kalau pun ada, hantu itu tidak akan menggangu kita!" sambungnya lagi.


__ADS_2