Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 119


__ADS_3

"Jangan menyusahkanku. Kau bisa minta orang lain atau ojek online. Atau jangan-jangan ... kau sedang mengerjaiku? Kau tidak terima--"


"Mas, aku nyidam. Kamu tahu arti nyidam apa? Kalau kamu tidak mau menuruti nyidamku juga tidak apa-apa! Tapi, jangan salahkan aku, jika anakmu ileran. Mau ileran? Di bully teman-temannya? Kalau aku sih, tidak mau." potong Vera, "Ya sudah, kamu tidak mau menuruti permintaanku, kan? Lebih baik, aku tidur."


"Silahkan tidur. Jangan menggangguku! Aku juga mau tidur!" kesal Dave berjalan menaiki kasur.


"Sayang, maafkan ibu, ya! Ayahmu tidak mau membelikan ketoprak. Kamu jadi anak yang kuat, ya! Besok, kita minta ke om Putra saja. Ibu yakin, Om putra akan menuruti semua permintaan kita. Atau, sekarang saja, ibu telfon om Putra dan memintanya untuk membeli ketoprak. Om Putra pasti mau, dia kan mencintai ibu!" ujar Vera mengambil ponselnya, membuat Dave yang baru saja meluruskan kakinya berdecak sebal. Dia merebut ponsel istrinya.


"Mau apa, Hem?"


"Kembalikan ponselku, Mas! Aku mau telfon putra. Aku mau minta dia belikan ketoprak untukku!" ucap Vera sambil merebut ponselnya. "Kembalikan, Mas!"


"Tidurlah, ponselmu aku sita!"


"Tapi, Mas!"


"Tidur. Aku akan pergi mencari pesananmu!" ketus Dave membuat senyuman Vera seketika terbit.


"Kamu serius, Mas? Kamu mau beliin ketoprak untukku? Wah ... terimakasih, Mas! Tapi jangan lupa, kamu belinya pakai sepeda, ya! Kita video call. Aku akan temani Mas di jalan." ucap Vera antusias, 'Kenapa aku jadi senang seperti ini. Niatku hanya ingin mengerjai Mas Dave, tapi kenapa aku nyidam beneran?' batin Vera.

__ADS_1


"Hem! Aku kembalikan ponselmu dengan catatan, kita video call!"


"Iya, Mas, tapi tunggu dulu, deh! Aku berubah pikiran. Tiba-tiba aku mau ikut, aku mau lihat kamu bikin ketoprak itu. Boleh, ya, Mas! Kita naik sepeda. Kamu boncengin aku! Please!" pinta Vera membuat Dave menganga.


"Apa? Naik sepeda? Bawa kamu? Tidak mau. Aku tidak mau mengambil resiko. Kamu ini sedang hamil, sedangkan di rumah cuma ada sepeda khusus laki-laki. Bagaimana bisa aku membawamu?"


"Bisa, Mas. Aku duduk di depan. Ayo, Mas!" rengek Vera menggoyangkan lengan Dave.


"Aku memperbolehkanmu ikut, tapi naik mobil! Udara di luar juga dingin."


"Yah, Mas Dave tidak asik. Aku mintanya naik sepeda. Kita keliling naik sepeda, pasti seru. Bukan aku yang minta Mas, tapi ini nih!" tunjuk Vera ke perutnya, "Anakmu!"


"Argkh! pakai jaketmu! Aku tunggu!" kesal Dave.


"Iya, cepat, pakai jaketmu!"


"Siap!" jawab Vera antusias. Kakinya dengan cepat berjalan meraih jaketnya. "Ayo, Mas!" titah Vera.


"Pakai dulu!"

__ADS_1


"Kan bisa di jalan, Mas!"


"Cepat, aku tidak mau di bantah!"


"Hem!" jawab Vera sambil memakai jaketnya. "Sudah, Mas!"


"Ya sudah, aku akan minta tolong Excel untuk mengikuti kita dari belakang!" ucap Dave.


"Mas, kenapa harus bawa orang lain. Aku maunya berdua!"


"Kamu gila, Ver! Tapi demi anakku. Ya sudahlah. Kita turun. Lalu ambil sepeda."


"Okeh, tapi--" ucapan Vera terhenti, dia mengulurkan tangannya, "Ini!" titahnya lagi.


"Apa?" tanya Dave kebingungan.


"Ini, Mas! Masa gak tahu!" ucap Vera memberi kode, meminta tangannya di genggam.


"Aku tidak tahu!" jawab Dave pura-pura.

__ADS_1


"Ish, Mas! Mau di gandeng!" rengek Vera membuat Dave menarik dan menggenggam tangan istrinya. Mereka berjalan keluar kamar dan turun dari tangga.


'Ya Tuhan, rasanya sangat nyaman di perlakukan seperti ini oleh suamiku, sendiri.' batin Vera


__ADS_2