Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 94


__ADS_3

Akhirnya kejadian yang tak diinginkan Vera terjadi juga. Dave melakukan aktivitas yang sempat tertunda.


Sedangkan di satu sisi. Vera terlihat begitu tidak ikhlas saat melayani suaminya. pikirannya selalu tertuju dengan sosok wanita yang bernama El.


Merasa istrinya tidak merespon setiap sentuhannya. Dave bangkit dari tubuh istrinya setelah melakukan penyatuan.


"Sudah, Mas?" tanya Vera di abaikan Dave.


Tak mendapat respon dari suaminya. Vera berjalan menuju kamar mandi. Dia segera melakukan ritual mandinya.


"Biarkan saja Mas Dave marah. Seharusnya, dia menjelaskan padaku bukan memberikanku hukuman seperti ini!" kesal Vera merendam tubuhnya di dalam bath up.


Dave menghembuskan napasnya kasar saat melihat istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Tubuhnya yang pol*s membuat pria itu mengambil celana boxernya. Tatapannya terus menatap kaca besar yang memperlihatkan awan hitam.


'Setelah aku melakukannya berulang kali, pasti dia akan hamil. Dan aku tidak perlu mencemaskan istriku akan kembali lagi dengan mantan kekasihnya.' batin Dave.


Sedangkan di satu sisi, Putra sedang memikirkan cara untuk bertemu dan meminta maaf pada Vera. Setelah mengetahui bahwa Vera tidak akan datang ke kampus lagi, pikiran Putra semakin kacau, dia melajukan mobilnya dengan cepat.


"Argkh! Kenapa aku bisa lupa, kalau Vera tidak akan masuk ke kampus lagi! Pasti pria itu sedang berduaan dengan Vera. Aku tidak bisa biarkan. Vera milikku. Aku harus memancing Vera keluar dari rumahnya, tapi bagaimana! Telfonku tidak di angkat. Dia seperti menjauhiku!" gumam Putra menggeram kesal. Dia meminta mencoba meminta bantuan pada teman wanitanya yang kenal dengan Vera.


"Hallo Citra, kamu kenal dengan Vera, kan?" ucap putra setelah panggilannya terhubung.


"Hei, menurutmu! kita satu kelas, woy! Ada apa?" tanya Liana.


"Em, bisa tolong, bawa Vera keluar rumah. Kita makan di caffe? Aku akan mentraktirmu. Atur saja jadwalnya dulu! Aku menghubungi Vera tapi tetap tidak bisa. Dia marah denganku! Bisa bantu aku, kan? Kita berteman baik!" pinta Putra memohon.


"Okeh, aku coba. Jika Vera mau, aku akan menghubungimu lagi!" ucap Citra lalu mengakhiri telfonnya.


Citra menelfon Vera, tak membutuhkan waktu lama, Vera mengangkat telfon dari temannya.


"Hallo Cit? Ada apa?" tanya Vera yang baru saja menyelesaikan mandinya. Tatapannya menatap tajam pada suaminya yang menyebalkan.


"Kita keluar, yuk! Aku butuh teman untuk bercerita. Aku sedang patah hati!" ajak Citra bohong.

__ADS_1


"Keluar? ini sudah jam 8 malam, Cit! Aku coba bicara dengan kakakku dulu. Dia pria paling menyebalkan!"


"Ya sudah, cepat kamu bilang. Aku akan menjemputmu, setelah mendapat izin!" titah Citra, membuat Vera menyembunyikan ponselnya.


"Mas, aku keluar! boleh kan? Aku juga butuh hiburan bukan kamu saja!" ketus Vera.


"Sudah malam! Tidurlah saja!"


"Mas, temanku butuh aku! Jadi, izinkan aku keluar! Please! Aku sudah menuruti semua permintaanmu. Kita sudah melakukannya dan aku sudah menjadi istri yang baik bukan? Jadi, kali ini ... kamu harus menjadi suami yang baik dan pengertian juga, dong!" kesal Vera.


"Baiklah, tapi aku ikut!" ujar Dave membuat mata Vera melotot tajam.


"Wah, gila! Tidak bisa. Aku mau mendengar curhatan temanku. Tidak mungkin, aku membawamu. Apa kata temanku nanti, Mas. Dia bisa berpikir, kalau aku anak Mama yang kemana-mana harus di kawal. Tidak mau, kamu tidak boleh ikut! Pokoknya, aku sudah izin. Dan aku akan tetap pergi, tanpamu! Enak saja, kamu bermain gillla dengan wanita lain dan aku tidak boleh keluar malam. Aku ini pergi dengan teman wanitaku!" kesal Vera, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga.


"Hallo, Cit!" panggil Vera.


"Bagaimana, Ver? Kamu boleh, kan? Aku jemput kamu. Kirim lokasi rumahmu!" titah Citra dari sebrang sana.


"Aku akan mengirim lokasi rumahku. Dan aku akan bersiap-siap!" ucap Vera lalu mematikan telfonnya. Tangannya menari mengirim lokasi rumahnya pada Citra.


"Kita bertemu di caffe dekat club saja!" kirim Citra pada Putra.


Sedangkan di satu sisi, Putra tersenyum manis saat membaca pesan yang baru saja di kirim oleh temannya. Dia langsung bergegas mencari dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang rapi.


"Aku harus tampil keren di depan Vera. Agar dia mau balikan denganku!" gumam Putra mengganti pakaiannya dan menyisir rambutnya yang pendek.


Vera mencari pakaian yang pantas untuk menemani malam harinya. Tanpa Vera sadari, ekor mata Dave selalu mengikuti pergerakan istrinya yang sangat antusias.


"Hei, siapa yang mengizinkanmu pergi. Aku menyuruhmu untuk tidur bukan untuk pergi!" ketus Dave yang diabaikan istrinya.


"Nah, pakai ini saja! pasti cantik!" ucap Vera mengeluarkan dress selutut tanpa lengan yang berwarna maroon. Dia berjalan menuju kamar mandi dan mengganti pakaiannya.


Krek ...

__ADS_1


Pintu terbuka, Vera muncul dengan pakaian yang sudah berganti.


"Sangat cantik, bukan?" ucapnya monolog. Kakinya berjalan menuju meja rias, dan mulai memoles wajahnya dengan deretan alat make up yang dibelikan suaminya.


Jari Dave menari di layar ponselnya, dia menghubungi anak buahnya untuk berjaga-jaga dan mengikuti istrinya secara diam-diam. Setelah selesai mengirim pesan, Dave merebahkan tubuhnya yang lelah.


Vera tersenyum tipis saat melihat suaminya tidur. Dia memoles bibirnya dengan lipstik berwarna cerah.


"Perfect!" gumam Vera melihat ponselnya.


'Aku sudah ada di depan rumahmu, Ver! Kamu bisa keluar!" titah Citra membuat Vera mengambil tas dan berjalan keluar kamar tanpa berpamitan dengan suaminya.


Baru saja dia keluar kamar, tiba-tiba dia menyadari jika dia tidak memiliki uang untuk berjaga-jaga. Segera Vera masuk ke dalam dan membangunkan suaminya yang sedang tertidur.


"Mas!" panggil Vera sambil menggoyangkan tubuh suaminya, "Mas! Bangun!" titahnya lagi.


Dave yang baru saja memejamkan matanya pun mengalihkan pandangannya menatap wajah cantik istrinya.


"Ada apa lagi!" kesal Dave.


"Aku boleh minta uang? Aku tidak mempunyai uang sepeser pun. Sedikit saja!" pinta Vera memohon, "Cepat Mas, temanku sudah menunggu di depan!" kesal Vera.


"Bukankah, semua uang jajanmu sudah aku berikan ke Lord! Jadi, cari pria itu! Bukan aku. Aku mau tidur!"


"Mas," panggil Vera mengguncang tubuh suaminya, "Aku tidak tahu keberadaan Lord! Aku sudah di tunggu di depan! Please!"


"Ciuum aku dulu!" goda Dave, membuat Vera memicingkan matanya.


"Tidak mau! Aku mau uang, Mas!"


"Ciuum aku dulu! itu syaratnya, kalau mau dapat uang dariku, kalau tidak mau ... ya, sudah. Kamu bisa cari Lord dan minta uangmu!" ucap Dave membuat mau tak mau Vera menciuum pipi suaminya.


Cup!

__ADS_1


Satu kecupan mendarat sempurna di pipi kiri Dave. "Sudah, sekarang berikan uang itu!" titah Vera.


"Siapa suruh cium pipi? Aku menyuruhmu ciuuum bibiirku!" titah Dave membuat Vera semakin kesal.


__ADS_2