
"Berpacaran? Aku mengizinkanmu berpacaran dengan satu syarat," jawab Dave menuju mobilnya.
"Silahkan Tuan," ucap Excel setelah membukakan pintu mobil bagian belakang.
Dave masuk diikuti Vera di belakangnya.
"Apa Mas? Cepat, katakan ... apa syaratnya?" tanya Vera antusias.
"Kamu boleh berpacaran dengan security depan komplek atau tukang kebun di rumah ini," jawab Dave menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi mobilnya.
"Tidak usah Mas, aku tidak mau berpacaran. Aku setia kok, lebih baik aku berteman dengan banyak pria tampan daripada harus berpacaran dengan satpam komplek atau--tukang kebun, bisa-bisa aku dituduh pelakor, atau wanita murahan yang hobinya menggoda pria," gerutu Vera memandang pinggir jalan dari balik kaca mobilnya.
"Pria tampan? Sejak kapan, kamu mempunyai teman pria tampan?" tanya Dave mengernyitkan keningnya, "Jangan-jangan selama ini--"
"Tidak Mas, tidak! Jangan menuduhku selingkuh. Aku kan sedang berangan-angan, jika aku masuk kampus nanti, pasti aku bertemu teman baru pria atau wanita. Dan mungkin aku bisa menjadi sahabatnya dari beberapa pria tampan di sana," timpal Vera cepat.
Mendengar ucapan polos tanpa dosa dari mulut Nyonya mudanya, Excel dan Lord justru terkekeh. Diam-diam mereka saling melempar senyum saat melihat ekspresi Tuan mudanya yang terlihat kesal.
"Oh, lakukan sesuka hatimu saja," jawab Dave pandangannya tertuju pada kedua pria yang sedang melempar senyum.
Ekhem ...
"Kalian sedang menertawakan apa hem?" tanya Dave membuat Excel dan Lord berhenti tersenyum.
"Tidak menertawakan siapa-siapa, kita sedang melihat--" ucapan Excel terjeda, "Melihat apa Lord?" tanya Excel pada pria di sampingnya,
"Melihat apa Den? Saya sedang melihat film kartun di ponsel saya," ujar Lord memperlihatkan ponselnya pada Excel.
"Ahh iya, kartun," jawab Excel cengengesan, "Oh iya, kita sudah sampai Tuan," ucap Excel saat mobilnya sudah berada di depan gerbang.
"Mas, terimakasih sudah mengantarku, aku akan belajar sepenuh hatiku, dan aku berjanji tidak akan mengecewakanmu," ucap Vera mengecup pipi suaminya sekilas lalu turun dari mobilnya.
Dave terpaku saat mendapatkan ciuman dadakan dari istrinya, tanpa ingin menjawab ucapan istrinya, Dave justru melamun.
"Hei, kenapa turun juga?" protes Vera saat melihat Lord turun dari mobilnya.
__ADS_1
"Saya bertugas untuk mengawasi dan menjaga Nyonya di sini," jawab Lord membuat mata Vera melotot tajam.
"Apa! Ini tidak mungkin, Mas Dave tidak pernah bicara soal ini," elak Vera berpura-pura lupa lalu membuka pintu mobilnya lagi.
"Mas, apa yang dikatakan anak buahmu itu benar? Kamu memerintahkan dia untuk mengawasiku? Bukankah tadi, aku sudah bicara, aku takut dituduh mesum oleh teman-teman ku Mas," ucap Vera tidak percaya.
"Hemm ... aku takut, jika kau kabur. Ikuti saja perintahku, lagipula hanya satu bodyguard, dan itupun--"
"Tidak bisa Mas, bagaimana kalau teman-temanku risih, aku tidak mau dikatai jika aku berpacaran dengan pria dewasa. Identiknya, jika kita bersama-sama terus, maka semua orang akan menganggapku berpacaran dengannya," gerutu Vera.
"Mulai berani melawanku?"
"Bu-bukan begitu Mas, aku tidak melawanmu. Aku hanya ingin mengingatkanmu, kita kan teman, sudah seharusnya sebagai teman, saling mengingatkan," ucap Vera tersenyum kaku, 'Enak saja, jika seperti ini, aku tidak akan pernah mendapatkan kebebasan dari hidupku,' batin Vera,
"Pergilah, atau aku saja yang mengantarmu sampai depan kelas?" ujar Dave membuat Vera menggelengkan kepalanya.
"Jangan Mas, jangan! Aku bisa sendiri, lagipula ini hari pertamaku kuliah, aku tidak mau semua teman-teman baruku mengira jika aku simpanan om-om, bye-bye Mas," ucap Vera menutup pintu mobil dan berlari masuk ke kampus.
"Om-Om? Apa wajahku sudah berkeriput? Sehinga, dia bisa mengatakan ku Om-Om?" ujar Dave pada Excel.
"Menurutmu aku akan percaya begitu saja? Dia wanita licik," ucap Dave, "Sekarang jalan, dan ke kantor," titah nya lagi.
"Terserahmu saja," ujar Excel menyalakan mesin mobilnya dan pergi menjauh dari kampus elite.
"Hei Lord," cegah Vera saat melihat mobil suaminya pergi, "Kamu tunggu di sini saja, jangan masuk ke dalam, aku malu. Aku merasa seperti anak kecil yang harus diawasi setiap saat," ujar Vera memegang lengan kekar bodyguardnya.
"Tidak bisa Nyonya--"
"Cukup! Jangan pernah memanggilku dengan sebutan Nyonya saat di kampus. Apa kau tidak tahu, jika aku dan Mas Dave sudah sepakat merahasiakan pernikahan kita. Panggil aku Nona atau Vera," timpal Vera menengok kanan dan kiri seakan takut ada yang mendengar ucapannya.
"Ta-tapi Nyonya," Lord menggantungkan ucapannya saat melihat Nyonya mudanya pergi meninggalkannya sendiri di depan kampus.
'Aku bisa-bisa gila jika seperti ini terus. Aku tidak mau semua teman-temanku tahu jika aku sudah menikah,' batin Vera menoleh ke belakang dan melihat Lord sedang berjalan kearahnya.
Di sisi lain, Vin melihat wajah wanita yang tidak asing baginya, dia mengingat di mana, dia melihat wajah wanita cantik yang sedang melewatinya.
__ADS_1
'Aku seperti pernah melihatnya, tapi di mana ya?' batin Vin saat Vera melewatinya.
"Tunggu!" teriak Vin, menghentikan langkah Vera.
Vera memutar tubuhnya menghadap seorang pria tampan dan muda, "Maaf, kamu memanggilku?" tanya Vera menunjuk dirinya dengan salah satu jarinya.
Vin tersenyum manis, dia mengulurkan tangannya, "Hai, kenalin namaku Vin, murid tertampan di kampus ini."
Vera membalas senyum dan uluran tangan dari pria bernama Vin, "Namaku Vera, semoga kita bisa menjadi teman," ucap Vera, dia melirik sekilas Lord yang berada di belakang Vin.
Memberi kode menggunakan kedipan matanya untuk Lord, ternyata tidak membuat Lord menghentikan langkah.
'Ahh, iya, aku ingat. Dia wanita yang ada di foto kak El, cantik juga. Lebih cantik dari pada di foto,' batin Vin menatap penampilan Vera dari ujung kaki sampai ujung rambut.
Merasa di perhatikan, Vera melambaikan tangannya di depan wajah Vin.
"Apa penampilanku sangat buruk?" tanya Vera melihat penampilannya dari atas sampai bawah.
"Tidak-tidak, kamu cantik. Pakaianmu juga cantik. Oh iya, kamu ambil jurusan apa?" tanya Vin tersenyum manis.
"Aku mengambil jurusan--"
Ekhemm ...
Suara deheman dari belakang Vin, membuat Vin terperanjat kaget.
"Murid baru juga?" ketus Vin saat melihat pria dewasa di belakangnya.
"Saya--"
"Oh iya, dia murid baru di sini, dia juga kakakku, maaf sudah membuat mu risih," ucap Vera tersenyum kaku
"Kakak?" ulang Lord, "Saya buk--"
"Ayo kita ke kelas Kak," Vera menghampiri dan menarik tangan Lord, "Aku pergi ke kelas dulu, kak Vin," teriak Vera melambaikan tangannya,"
__ADS_1
Bersambungš