
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil Dave terparkir di suatu tempat. Suatu tempat yang sama sekali Vera tidak tahu.
"Ini tempat apa Mas? Seperti Caffe?" ujar Vera menatap bangunan di depannya.
"Turun!" titah Dave melepaskan sabuk pengamannya.
"Tidak mau Mas, pasti ... di dalam kamu sudah mengadakan janji dengan orang yang mau membeli ku, aku tidak mau Mas! Aku tidak mau di jual, aku ini istrimu," ketus Vera.
"Turun, atau aku kunci dari luar," ancam Dave membuka pintu mobil.
"Biar, biarkan saja. Lebih baik aku mati daripada dijual," jawab Vera, 'Mana ada, suami menjual istrinya,' batin Vera.
"Baiklah, aku akan menguncimu dari luar, dan memerintahkan--"
"Aku akan keluar bersamamu, tapi jangan jebak aku di mobil Mas," timpal Vera cepat saat melihat gerak gerik yang mencurigakan pada suaminya.
'Dasar wanita bodoh,' batin Dave.
"Mas, tunggu aku!" pekik Vera saat suaminya berjalan mendahuluinya.
Di rangkulnya lengan kekar Dave dengan mesra, "Mas, aku tidak mau di jual, maafkan aku," ujar Vera lagi, dia mengeratkan rangkulannya, berharap suaminya akan berubah pikiran.
Dave melirik sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya, hatinya merasa senang karena berhasil membuat istrinya ketakutan.
Kringg ...
Pintu Caffe terbuka, kecemasan Vera semakin bertambah saat mengetahui Caffe yang dia kunjungi ramai pembeli.
Di liriknya setiap pengunjung Caffe yang duduk seorang diri, "Mas, katakan ... kita kesini hanya untuk makan, bukan untuk menjualku kan Mas? " tanya Vera, matanya tertuju pada pria tua yang sedang duduk sendirian di sudut Caffe.
"Mas, please!"
"Boss ...," sapa wanita yang memakai celemek berwarna hitam.
"Siapa bos, target baru?" tanya Alexa saat melihat seorang wanita yang memeluknya erat.
__ADS_1
'Target?' batin Vera, matanya menatap wanita yang menggunakan celemek.
"Mas, aku tidak mau dijual! Jangan jual aku," ucap Vera melepaskan rangkulannya dari lengan suaminya.
"Jual?" ulang Alexa.
"Alexa, siapkan minuman seperti biasa," ucap Dave.
"Aku tidak mau dijual Mas! Aku akan pergi dari sini," ucap Vera memutar tubuhnya. Belum sempat Vera melangkahkan kakinya, tiba-tiba tangannya sudah di pegang oleh Dave, dan dari arah belakang, terlihat Lord sedang menjaganya.
"Ikut aku!" ucap Dave menarik tangan istrinya, lalu memerintahkan istrinya duduk di kursi kosong yang berada di tengah-tengah ruangan.
"Mas, aku tidak mau dijual!" ucap Vera.
"Duduk!"
"Gak! Aku gak mau dijual Mas, Mas tega menjual istri sendiri ke pria hidung belang. Bagaimana, jika pria itu memiliki penyakit atau yang lainnya Mas, intinya ... aku tidak mau dijual!" ucap Vera tetap mempertahankan dirinya yang berdiri.
"Bos, ini minumannya," ucap Alexa yang baru saja datang sambil membawa nampan yang berisi 2 cangkir kopi dan beberapa makanan ringan.
"Simpanan atau kekasih?" goda Alexa berbisik di samping Dave.
Dave tersenyum, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Alexa, "Istri aku," jawab Dave tertawa renyah.
Mata Alexa membulat sempurna, dia menatap Dave dengan tatapan tidak percaya.
"Jangan bohong bos, aku serius?" tanya Alexa, tatapannya beralih pada wanita di sampingnya yang sedang kesal bahkan, Alexa bisa melihat air mata yang hampir menetes di pelupuk matanya.
"Mas, jangan jual aku," mohon Vera, air matanya sudah menetes membasahi pipi mulusnya.
"Bos?"
"Perkenalkan, dia Alexa, karyawan serta mucikaaari yang sudah menawarkan mu pada pria hidung belang. Dan kini, kita semua sedang menunggu pria itu. Alexa berbaik hati mentraktir mu minuman dan cemilan ini. Sebaiknya, sebelum kamu benar-benar berada di tangan pria hidung belang, lebih baik kamu makan, agar tenaga mu tidak habis di tengah jalan, saat melayaninya di atas ranjang," ucap Dave membuat Alexa bingung, keningnya mengerut.
"Maksud--"
__ADS_1
"Mbak, jangan jual aku Mbak. Aku janji, aku akan mengembalikan uang Mbak," pinta Vera meraih tangan wanita yang bernama Alexa.
Alexa semakin dibuat bingung oleh sikap kedua manusia di sampingnya. Wanitanya yang memohon untuk tidak dijual, dan lelakinya menuduhnya sebagai mucikaaari.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Alexa.
"Kamu boleh pergi, Xa. Oh iya, jika pria yang ingin membeli wanita ini datang, suruh saja, menghampiri aku di meja ini," titah Dave.
"Iya bos," jawab Alexa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
'Apa benar, dua orang ini sedang bermain rumah-rumahan. Boss bicara denganku, jika wanita ini istrinya. Tapi setahuku, bos belum menikah. Dan kekasih bos adalah Nana,' batin Alexa.
"Duduk! Kamu tidak akan bisa kabur dari sini, Ver. Terima sajalah nasibmu," ucap Dave mendorong tubuh istrinya agar jatuh ke kursi empuknya.
Tubuh Vera terjatuh di atas sofa yang empuk, tidak sengaja dressnya bagian bawah tertiup angin lalu terbuka sedikit, menampilkan paha mulus dan putihnya.
Melihat paha mulus istrinya yang terekspos dan dilihat beberapa orang yang sedang menatapnya, Dave langsung membuka jas dan menutupi paha Vera.
"Lain kali, pakailah dalemaan agar sewaktu-waktu ... jika hal ini terjadi lagi, setidaknya dalemaanmu yang terlihat bukan kulitmu itu," ujar Dave kemudian menjatuhkan bokongnya di sofa.
"Mas, Mas mau jual aku pada siapa? Apa orangnya sudah tua atau kakek-kakek?" tanya Vera melihat keadaan sekitar, setiap bunyi pintu masuk terbuka, Vera selalu menatapnya berharap keputusan Dave untuk menjualnya hanya omong kosong semata.
"Memangnya kenapa? Tanyakan saja pada Alexa, dia mucikaaari di sini, aku hanya mencarikan wanita yang mau dijadikan pelampiasan nafsssu sesaat para pria hidung belang," jawab Dave mengambil dan menyeruput kopi hitamnya.
"Mas tega, menjual istrinya pada pria hidung belang? Ya, aku tahu Mas, aku salah. Tapi, aku ini istrimu Mas, istri Sah mu. Kamu tidak bisa menjual istrimu sendiri ke orang lain Mas. Kamu sudah kaya, hartamu sudah berlimpah, untuk apa ... kamu menjualku Mas?" tanya Vera sambil mengusap air matanya yang menetes.
Kring ...
Pintu Caffe terbuka, Vera dengan sigap melihat arah pintu. Hembusan napas leganya terdengar sampai telinga suaminya.
'Dasar bocah mau saja aku tipu. Tapi baguslah, biarkan dia ketakutan, agar dia tidak macam-macam padaku lagi,' batin Dave memakan kentang gorengnya.
Melihat sikap suaminya yang santai tanpa ada beban, tiba-tiba hati Vera terasa sakit. Baru saja, dia dikhianati oleh kekasihnya, Putra. Dan sekarang, dia harus menerima kenyataan pahit, jika suaminya akan menjualnya kepada pria hidung belang.
"Jika itu keputusanmu. Ya sudah, jual saja aku Mas, lagi pula, tidak ada gunanya jika aku tetap berada di sisimu. Aku juga tidak mau merepotkan mu. Terimakasih atas tumpangannya selama ini, dan terimakasih sudah mau menyekolahkanku walaupun hanya satu hari saja," ujar Vera mengambil secangkir kopinya lalu meminumnya.
__ADS_1
Bersambungš