
"Okeh, aku akan pergi, tapi jangan sakiti dia. Semua ini kemauanku, bukan kemauannya. Jika, kau ingin marah, marahlah padaku," ucap Excel kemudian berjalan keluar ruangan sahabatnya.
Setelah melihat kepergian sahabat sekaligus sekertarisnya, Dave menarik paksa tubuh Vera dan memasukkannya ke dalam ruangan pribadinya.
"Siapa yang menyuruhmu bersikap seperti itu, hah!" seru Dave mendorong tubuh istrinya ke atas ranjang, "Sudah aku peringatkan berulang kali, aku tidak suka pengkhianatan," sambungnya lagi.
"Siapa yang mengkhianati mu, Mas? Aku tidak tahu apa-apa. Aku hanya ingin mengantarkan kue itu padamu. Maafkan aku, maafkan aku telah mengganggu mu, Mas ...," jawab Vera ketakutan.
Melihat istrinya ketakutan, tiba-tiba Dave merasakan sesak di dadanya, "Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu takut," ucap Dave membuat Vera menganga, baru kali ini, suaminya mengucapkan kata maaf setelah beberapa kali menyakiti hati dan raganya.
"Aku mau pulang, Mas!" titah Vera membenarkan dressnya yang sempat berantakan.
"Tunggu aku, aku akan mengantarmu pulang. Oh iya, bukankah ... jam kuliahmu selesai setelah jam istirahat? Kenapa sudah ada di sini?" tanya Dave lembut, dijatuhkan bokongnya di tepi ranjang dekat istrinya.
'Kenapa sikapnya berubah? Baru saja, dia marah ... dan sekarang, dia sudah berubah menjadi lembut. Apa dia memiliki dua kepribadian?' batin Vera.
"Mas, dosenku tidak hadir, maka dari itu ... aku bisa pulang lebih awal. Ya sudah, aku akan menunggu Mas Dave di sini," ujar Vera.
"Baiklah, beristirahatlah di sini. Jika, kantuk menyerangmu, tidurlah," ujar Dave mengusap pucuk kepala Vera berulang kali, "Aku akan selesaikan pekerjaan ku secepat mungkin," sambung Dave kemudian berjalan meninggalkan Vera yang tengah mematung.
"Aku tidak bermimpi kan? Dia bersikap baik padaku, dan coba lihat ... dia mengusap kepalaku, kenapa perasaanku begitu bahagia!" ucap Vera menjatuhkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
"Tapi tunggu dulu--" gumam Vera mengubah posisinya menjadi duduk, "Siapa wanita tadi? Kenapa Mas Excel bilang, kalau dia hanya ulat kecil yang harus dimusnahkan. Apa jangan-jangan--" Vera menutup mulutnya tak percaya, "Apa dia benar-benar selingkuhan Mas Dave. Mas Dave selingkuh seperti aku berselingkuh dengan Putra?"
"Astaga Putra, sedari tadi aku belum membuka ponselku, pasti Putra sudah menghubungiku berulang kali," ujar Vera mengambil dan mengecek ponselnya. Banyak sekali panggilan dan notifikasi pesan masuk dari kekasihnya.
"Maafkan aku, Put. Tiba-tiba jam kuliah kosong, dan aku harus mulai belajar pemotretan, maafkan aku," send Putra.
Belum ada 5 menit, pesan yang dikirimkan Vera sudah terbaca dan terlihat Putra sedang mengetik sesuatu.
"Apa yang kira-kira balasan Putra?" gumam Vera melihat tulisan 'Sedang Mengetik' di layar ponselnya.
Drt ...
__ADS_1
Drt ....
"Kenapa dia menelfonku? bukankah, tadi aku lihat dia sedang membalas pesanku?" gumam Vera turun dari ranjang dan melihat luar ruangan, berharap suaminya tidak ada atau sedang fokus bekerja.
"Aman ...," sambungnya lagi sambil menggeser tombol hijau dan menutup pintu ruangan pribadi suaminya.
"Sayang--"
"Ada apa Put?" potong Vera dengan lirih.
"Ada apa? Memangnya, aku tidak boleh menghubungi kekasihku sendiri, hem?" tanya Putra, "Aku ingin melihat kekasihku yang cantik ini."
"Maksudmu apa?"
"Aku sedang berada di dalam perjalanan menuju kantor tempatmu bekerja, sayang ...," ucap Putra mengejutkan Vera.
"Apa! kamu jangan becanda, jam kuliahmu belum selesai, Put!" seru Vera kemudian menutup mulutnya, 'Mas Dave tidak mendengar teriakan ku, kan?' batin Vera berjalan dan membuka pintu ruangannya sedikit.
"Put, hallo Put! Hallo!"
"Ah siall, kenapa semakin hari, Putra semakin over protektif padaku," umpat Vera mengambil tas nya dan berjalan menemui suaminya.
"Mas Dave, aku turun sebentar. Ada sesuatu yang mau aku beli," titah Vera berdiri di dekat suaminya yang tengah fokus membaca coretan di kertasnya.
"Hem, kemana? apa yang ingin kau beli?" tanya Dave menandatangani dan meletakkan kertas itu di samping komputernya.
"Sesuatu yang tidak perlu kamu tahu Mas, ya sudah aku turun. Hanya sebentar saja, 10 menit lagi ... aku akan kembali, Okeh!" ucap Vera mengecup sekilas pipi Dave dan berlari keluar ruangan.
"Semoga saja, Mas Dave tidak marah karena aku menciumnya," gumam Vera saat berlari.
Dave mematung, dia meraba pipi yang baru saja di nodai oleh istrinya, kedua sudut bibirnya tertarik ke atas membuat senyuman yang indah.
"Sebentar lagi, aku akan membuatmu mengandung anakku!" gumam Dave kemudian melanjutkan pekerjaannya dengan tersenyum.
__ADS_1
Di lobby kantor, Vera yang baru saja keluar dari liftnya berusaha mencari keberadaan kekasihnya, seketika bayangan sekertaris suaminya melintas di depannya.
"Astaga, kenapa ada Mas Excel," gumam Vera mengumpat di balik tembok yang kokoh, "Bagaimana, aku menemui Putra!" sambungnya lagi.
Drt ...
Drt ....
"Hallo, Put!" ucap Vera lirih, pandangannya memandang sekertaris suaminya yang tengah bercerita dengan karyawan wanitanya.
"Kamu di mana? Aku sudah di depan pintu lobby!" jawab Putra, ekor matanya mencari sosok kekasihnya di setiap sudut ruangan yang terlihat luas.
"Put, sebaiknya kamu pulang saja. Lihat ada beberapa anak buah Mas Dave yang tengah berjaga di sekitar kantor. Aku tidak mau, hubungan kita berakhir sampai di sini," bujuk Vera, hatinya semakin cemas saat melihat sekertaris suaminya berjalan menuju Putra yang tengah menelponnya.
"Aku sudah di sini, sayang. Setidaknya temui aku, baru aku pulang. Memangnya kamu tidak rindu denganku, hem?" ujar Putra.
"Put, pergilah! Sekertaris Mas Dave mendekat ke arahmu, aku akan mencari celah agar bisa menemuimu, tapi sekarang kamu masuk ke mobilmu, Please!" pintar Vera sambil menatap kekasihnya.
"Sayang, kamu melihatku kan?" tanya Putra, "Di mana kamu? Kenapa kamu bisa tahu, kalau sekertaris pria itu mendekat ke arahku, aku akan menemuimu sekarang," ujar Putra, matanya masih mengedar mencari keberadaan kekasihnya.
"Aku akan jelaskan nanti, sekarang pergilah!" pintar Vera.
"Baiklah, aku akan pergi, tapi aku akan tetap menunggumu di mobil. Beri waktu untuk kita berdua, semakin hari ... kamu semakin sibuk dengan pria itu," ujar Putra berjalan keluar kantor dan masuk ke dalam mobilnya.
'Huh, aman!' batin Vera, "Iya-iya, aku berjanji," ucap Vera kemudian mematikan telfonnya.
Setelah merasa aman, dan sekertaris suaminya telah pergi. Vera segera berjalan keluar kantor dan masuk ke dalam mobil kekasihnya yang berada tidak jauh dari halaman kantornya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa berlama-lama di sini, Put!" ucap Vera setelah menutup pintu mobil kekasihnya.
"Aku merindukanmu, sayang ...," ujar Putra menarik tubuh kekasihnya ke dalam pelukan, "Kau tahu, aku sengaja bolos agar aku bisa bertemu denganmu," sambungnya lagi.
Bersambungš
__ADS_1