Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 141


__ADS_3

"Aku benar-benar mendengar suara Vera." jawab Dave.


"Kau, otakmu sudah geser atau jiwamu sudah terguncang, sih? Istrimu tidak mungkin ada di sini, Dave!"


"Tapi aku bisa mendengar suara Vera!" ketus Dave lalu melihat punggung wanita yang sedang menenangkan anak kecil laki-laki tak jauh darinya. "Itu, aku yakin sekali ... kalau itu Vera!"


"Dave, jangan berhalusinasi. Dia bukan Vera. Memangnya, Vera sudah melahirkan? Kalau pun dia sudah melahirkan, anaknya belum besar seperti dia, Dave!" kesal Excel.


Tak ingin basa basi. Perlahan kaki Dave berjalan menuju wanita yang sedang memunggunginya.


Di saat Dave mulai merentangkan tangannya, Excel menarik tangan Dave, "Dave, apa yang kamu lakukan. Dia bukan istrimu. Kamu tidak boleh menyentuh orang sembarangan. Aku tidak mau, suaminya marah!" lirih Excel membuat Vera yang tengah menenangkan anak kecil itu terpaku saat mendengar suara yang tak asing baginya.


"Mas Excel, Mas Dave!" lirih Vera.


"Tante! Tante minta maaf yang benar. Tante sudah salah karena menabrakku!" kesal anak kecil itu.


"Okeh. Tante minta maaf, ya!" ucap Vera lalu menatap arah Putra yang sedang berbicara dengan tukang bakso.


'Apa mungkin, orang di belakangku itu Mas Dave dan Mas Excel? Tapi itu tidak mungkin. Aku dan dia berbeda negara! Ini hanya khayalanku saja. Mungkin, aku yang terlalu merindukan mereka. Jadi, suara orang lain terdengar begitu sama persis seperti suara Mas Excel.


"Ayo, kita pergi! Kita pulang. Di sini cuacanya sangat panas!" titah Excel yang lagi dan lagi dapat di dengar oleh Vera.


'Aku tidak salah dengar. Itu sama persis seperti suara Mas Excel!' batin Vera. Perlahan memutar kepalanya dan melihat dua pria yang sedang memunggunginya. "Mas Dave! Mas Excel?" lirih Vera lalu menatap ke arah Putra.


"Tante pergi dulu, ya!" titah Vera pada anak kecil tersebut.


"Lain kali, Tante tidak boleh menabrak orang sembarangan. Mentang-mentang aku masih kecil, Tante main tabrak aja!" kesal anak kecil tersebut.


"Iya, Tante janji!" jawab Vera lalu berdiri dan memutar tubuhnya.


Perlahan tangannya terulur dan meraih pundak seseorang yang diyakini suaminya.

__ADS_1


Dave terpaku saat merasakan pundaknya di pegang dari belakang.


"Mas!" panggil Vera yang lagi dan lagi membuat Dave terpaku. Begitu juga dengan Excel, dia juga terdiam sejenak saat mendengar suara Vera.


"Kamu dengar suara itu? Suara itu mirip sekali dengan suara Vera!" ucap Dave yang mendapat anggukan kecil dari Excel.


"Iya. Aku juga mendengarnya. Dan suara itu sangat mirip dengan istrimu!" timpal Excel.


Vera tersenyum bahagia. Sekali lagi, dia menatap ke arah Putra yang tak menatapnya.


"Mas Dave! Aku Vera!" titah Vera membuat Dave memutar tubuhnya.


Matanya membulat sempurna saat melihat wanita di hadapannya.


"Ver!" panggil Dave lalu menarik istrinya ke dalam pelukan.


"Mas," titah Vera membalas pelukan dari suaminya.


"Kamu kemana saja, Hem? Aku mencarimu, aku sangat mencemaskanmu!" ujar Dave menci um kening istrinya berulang kali.


"Kenapa harus pergi? Jika dia berbuat ulah atau pernah menyakitimu, katakan saja! Aku akan membuat pelajaran padanya!" ucap Dave menghentikan langkahnya.


"Mas, kita bisa ceritakan di tempat lain kan? Aku tidak mau kita semua ketahuan Putra. Dia jahat, Mas!" pinta Vera memohon.


"Dave, kita pergi. Jangan sampai kamu kehilangan istrimu yang ke dua kalinya. Lihat wajah istrimu. Apa kamu tega membiarkan istrimu di sembunyikan lagi oleh pria itu?" timpal Excel.


"Baiklah, kita pergi. Tapi kamu janji. Setelah sampai di rumah. Kamu harus menjelaskan apa yang terjadi, okeh!" titah Dave mengusap pundak istrinya. "Aku senang bertemu denganmu!"


"Aku juga senang bertemu denganmu, Mas! Terimakasih sudah mencariku sampai ke sini." jawab Vera berjalan keluar taman.


Setelah sampai di luar taman. Excel segera menghentikan taksi.

__ADS_1


"Masuklah!" titah Excel pada Dave dan Vera.


"Terimakasih Mas, aku senang melihat kalian akur!" ucap Vera lalu masuk ke dalam taksi di ikuti oleh Dave di belakangnya. Dan Excel duduk di bangku samping kemudi.


Setelah semuanya masuk, taksi pun mulai berjalan.


"Kamu kenapa bisa ada di sini, Mas?" tanya Vera setelah taksi berjalan menjauhi taman.


"Aku ke sini mencarimu. Aku pikir, kamu berhasil meloloskan diri dari pria itu dan bersembunyi di tempat kakakmu ternyata tidak! Aku sudah mencarimu ke tempat Zena. Tapi aku sama sekali tidak menemukan keberadaanmu!" jawab Dave, "Kamu sendiri, tinggal di mana? Dan bagaimana keadaan calon anakku. Dia baik-baik saja, kan?" tanya Dave lagi.


"Hampir saja dia tidak selamat, Mas!" lirih Vera, "Aku hampir saja mencelakai calon anak ini!"


"Apa maksudmu?" tanya Dave penasaran.


"Maafkan aku, Mas. Aku pernah lalai menjaga calon anak kita. Sewaktu aku tiba di negara ini. Tiba-tiba aku merasakan ke anehan dari sikap putra."


"Memangnya, dia berbuat apa? Apa jangan-jangan, dia berusaha mencelakai anak kita?" tanya Dave yang mendapat anggukan kecil dari istrinya.


"Iya, Mas! Tapi rencana putra gagal, Mas! Aku berhasil mengelabui Putra. Dan calon anak ini selamat!" jawab Vera sambil mengusap perutnya yang rata.


"Tapi, hal ini tidak bisa di biarkan terlalu lama, Ver! Aku takut, Putra akan mencarimu! Kita harus penjarakan dia!" timpal Excel.


"Aku kasihan Mas! Aku tidak tega melihat Putra mendekam di penjara."


"Apakah perasaan cinta itu masih ada untuk putra?" sindir Dave dengan senyum getirnya.


"Aku sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun untuk Putra. Aku kasihan dengannya, walaupun dia jahat ... tapi sebenarnya dia pria yang sangat baik, Mas! Buktinya, dia mau membelikan semua makanan yang aku mau. Aku kasihan, Mas!"


"Pria sepertinya tidak perlu di kasihani, Ver! Aku sendiri yang akan menjebloskan dia ke penjara. Aku tidak terima calon anakku di bunuh olehnya!" geram Dave.


"Mas, aku mohon jangan! Aku tidak mau kamu penjarakan Putra. Sekarang, aku sudah bebas darinya. Aku sudah bersamamu. Kamu tidak perlu takut, dan calon anak kita juga baik-baik saja, Mas!"

__ADS_1


"Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan pria brengseek sepertinya berkeliaran bebas di luar sana. Aku takut, pria itu menculikmu lagi." jawab Dave emosi.


"Mas, aku yakin ... dia akan kembali ke negaranya. Dia pasti berpikir, kalau aku kembali ke sana untuk menemuimu. Maka dari itu, aku minta ... kita tetap tinggal di sini, ya, Mas! Aku tidak mau kembali ke sana, please!" mohon Vera.


__ADS_2