
"Aku tidak menyukai Mas Dave!" ketus Vera.
"Tidak menyukai, tapi kamu urusan ranjang, kalian berdua ahlinya, ya!" sindir Excel dengan senyuman mengejeknya.
Merasa tenggorokannya kering karena berdebat dengan Excel. Vera mengambil kopi yang beberapa menit di bawa oleh bibi. Dia meneguk kopi hangat itu sedikit demi sedikit, membuat Excel yang melihatnya menggeram kesal.
"Hei, itu punyaku!" ujar Excel berusaha mengambil cangkir kopinya.
"Minta sedikit saja masa tidak boleh! Ini aku kembalikan!" ketus Vera memberikan cangkir kopi milik Excel.
Excel melihat kopinya yang tinggal sedikit. "Kau! Aku adukan kelakuan burukmu pada suamimu. Cepat buatkan kopi lagi untukku." kesal Excel.
"Buat sendiri, Mas! Menurutmu, jika aku balikan dengan Putra, bagaimana?" tanya Vera tiba-tiba, tangannya mengambil cemilan yang berada di atas nampan.
__ADS_1
"Balikan? Apa suamimu tahu?" tanya Excel serius. Ke dua matanya menatap wanita yang sedang memakan cemilan ringannya, "Sudah aku bilang, itu punyaku. Apa telingamu tidak dengar, Hem!" ujarnya lagi.
"Aku sedang curhat, Mas. Mas Dave sudah tahu, tapi dia tidak perduli. Bukannya berpikir mencari solusi, dia justru memintaku untuk menarik ucapanku yang mau balikan dengan Putra. Padahal, aku melakukan semua ini juga karena pernikahanku. Putra sudah tahu, dan dia mengancamku."
"Mengancammu? Mengancam apa? Membocorkan rahasia pernikahanmu dengan Dave?" tanya Excel penasaran.
"Iya, Mas. Mas tahu, tidak. Aku belum siap jika pernikahanku diketahui semua orang. Apalagi seluruh teman-teman kampusku. Mau di taruh mana mukaku? Aku menikah dengan pria yang dewasa. Apalagi Mas Dave mengaku pada putra, jika aku sedang hamil anaknya. Padahal, aku tidak hamil!" keluh Vera.
"Ikuti saja perintah suamimu. Aku tidak bisa berkata apapun. Ini bukan urusanku, melainkan urusan kalian berdua." jawab Excel dingin, 'Oh, jadi Dave benar-benar sudah jatuh hati dengan wanita ini. Aku pikir ucapannya hanya cinta sesaat. Tapi, tidak! Aku harus membantu dave.' batin Excel.
"Bi, di mana Vera?" tanya Dave pada bibi.
"Oh, Nyonya sedang di luar dengan den Excel, Tuan!" ucap Bibi.
__ADS_1
"Di luar? Apa Vera berusaha menggoda Excel. Atau sebaliknya?" gumam Dave berjalan menuju teras halaman rumahnya.
"Mas, kamu tidak bohong, kan? Mas Dave mencarikan jodoh untukmu? Haha ...," tawa Vera begitu lepas.
"Hem! Maka dari itu, bantu aku. Kamu bisa bicarakan ini pada suamimu. Suruh dia jangan ikut campur urusanku lagi. Aku tidak mau, di Carikan jodoh. Kau tahu, aku datang ke kantor. Dia langsung memberikan beberapa kandidat wanita yang akan menjadi pendamping hidupku. Bagaimana aku tidak kesal!"
"Aku dukung. Lagi pula, Mas Excel tampan, mapan. Pasti banyak yang mau, dong! Masih muda lagi!" timpal Vera.
"Ekhem!" deheman Dave membuat Vera dan Excel menghentikan obrolannya. Mereka langsung menatap sumber suara.
"Mas Dave! Tumben Mas Dave di sini?" tanya Vera.
"Dia cemburu dengan kedekatan kita!" sindir Excel membuat Dave tersenyum sinis.
__ADS_1
"Untuk apa aku cemburu dengan kalian. Membuang-buang waktuku saja! Sekarang, ikut aku ke kamar. Kamu harus istirahat!" titah Dave mengulurkan tangannya.
"Jangan mau, temani aku di sini. Masih banyak cerita yang aku belum ceritakan!" titah Excel, membuat Vera bingung memilih suaminya atau pria yang sedang galau.