
"Mas, nanti aku duduk di depan, ya! Bawanya pelan-pelan." ucap Vera.
"Hem!"
"Kamu marah, ya? Jawabnya ham hem terus!" kesal Vera diabaikan Dave.
Setelah mereka keluar rumah. Vera dapat melihat sepeda yang terparkir di halaman rumahnya.
"Wah ... ini benar-benar kejutan untukku. Ayo, Mas! Aku tidak sabar naik sepeda!" titah Vera menarik tangan suaminya.
Tubuh Dave tertarik dengan malas. "Cepat naik, Mas! Aku mau kita jalan-jalan!" ucap Vera, membuat Dave menautkan menaiki sepedanya.
"Naiklah. Tapi hati-hati ya!" titah Dave.
Vera mengangguk. Dia menaiki bagian depan. "Sudah siap, Mas! Kita pergi! let's go!" teriak Vera antusias.
Melihat kebahagiaan istrinya, Dave mulai mengayuh sepedanya perlahan.
"Hati-hati, Mas. Aku takut!" titah Vera menatap lurus ke depan.
Di atas balkon. Excel yang melihat pemandangan Dave dan Vera pun terkekeh. "Hei, kalian! Mau kemana malam-malam begini!" teriak Excel menghentikan Dave yang sedang mengayuh sepeda.
Dave dan Vera mencari sumber suara. Dia melihat Excel yang berdiri di balkon lantai atas.
"Kalian sudah baikan? Cepat sekali!" sindirnya lagi.
"Mas Excel. Aku dan Mas Dave mau berkeliling kompleks menggunakan sepeda. Kamu mau ikut, Mas?" tanya Vera tak kalah berteriak.
"Hei, untuk apa mengajak dia, ha!" ucap Dave tak suka.
"Semakin banyak yang ikut, bukankah semakin asik dan ramai, Mas?" tanya Vera, "Ayo, ikut, Mas!" ajak Vera lagi.
"Tidak! Aku tidak tertarik bersepeda malam-malam. Kalian saja yang bersepeda. Aku di rumah saja!" tolak Excel.
"Kau ikuti kita menggunakan mobil!" titah Dave.
"Malas, Tuan Dave yang terhormat. Dan ini sudah malam. Waktunya untuk tidur!" teriak Excel.
"Ya sudah, Mas. Kasihan Mas Excel. Mungkin dia capek. Kita pergi, yuk? Aku tidak sabar keliling kompleks!" ajak Vera.
"Ingat, tujuan awal kita bukan keliling kompleks, melainkan membeli--"
"Nanti saja, Mas. Aku berubah pikiran. Aku mau keliling kompleks. Cepat!" rengek Vera.
'Ini gila. Keliling kompleks menggunakan sepeda? Bisa-bisa semalaman aku tidak tidur karena mengayuh sepeda ini!' batin Dave.
__ADS_1
"Mas, ayok!"
"Kita ganti mobil saja!"
"Tapi kenapa, Mas? Aku mau nya sepeda!"
"Ini bukan masalah sepeda atau mobil. Tapi lihat langit di atas yang mendung. Kita ganti mobil. antisipasi jika hujan datang!"
"Tapi, aku mau nya sepeda, Mas. Lagi pula keliling kompleks. Dan aku rasa itu bukan awan mendung. Kamu lagi bohong, ya? Kamu sengaja kan ... bicara kalau malam ini mendung?"
"Aku tidak berbohong. Mana mungkin aku berbohong. Percaya--"
"Sudah, Mas. Kalau kamu tidak mau, aku tidak memaksa. Aku mau masuk kamar aja!" potong Vera turun dari sepeda.
"Tunggu dulu, Ver. Aku belum selesai bicara. Baiklah, kita naik sepeda keliling kompleks. Tapi, aku melakukan semua ini untuk calon anakku."
"Ya sudah, Mas. Ayo, kita berangkat!" ucap Vera.
Akhirnya Dave mulai mengayuh sepedanya. Tidak mudah untuk Dave bersepeda di malam hari sambil membawa istrinya yang sedang hamil muda. Berulang kali, Dave hampir saja menabrak karena kehilangan keseimbangan.
"Mas, aku senang deh, bisa seperti ini!" ucap Vera setelah Dave berhasil menyeimbangkan sepedanya.
"Hem, kamu senang, aku susah!" ketus Dave.
"Kamu sensitif banget, Mas. Ini bukan aku yang minta, tapi anak kamu, loh! Aku sudah menuruti semua kemauanmu. Aku hamil anakmu, seharusnya kamu senang dan menuruti semua permintaanku. Bukannya marah-marah tidak jelas seperti ini!" kesal Vera.
"Bukan aku yang minta, tapi anak kita. Mengerti kamu, mas!" pekik Vera.
"Terserahmu saja. Setelah ini, kita pulang!"
"Iya, Mas!" jawab Vera ketus.
Setelah beberapa menit mengayuh sepedanya. Tiba-tiba Dave merasakan tetesan demi tetesan air yang turun dari langit.
"Hujan!" ucap Dave membuat Vera mengulurkan tangannya.
"Iya, Mas. Hujan. Kita neduh dulu, yuk!" ajak Vera.
"Mau neduh di mana, Ver? Di sini tidak ada tempat untuk berteduh! Kita pulang saja, sebelum hujannya semakin deras!"
"Ya sudah, Mas. Kita putar balik!" titah Vera yang merasakan tetesan air semakin banyak. "Mas, hujannya deras! Kita neduh dulu, yuk. Jaketku udah basah. Aku kedinginan, Mas!" pinta Vera yang menggigil kedinginan.
Mendengar nada suara istrinya yang kedinginan. Dave langsung menepikan sepedanya ke pinggir jalan.
"Kamu tidak apa-apa, kan, Ver?" tanya Dave cemas.
__ADS_1
"Aku kedinginan, Mas. Aku mau pulang, dingin sekali!"
"Aku akan telfon Excel. Kamu yang tenang saja!"
"Iya-iya, Mas. Cepat, ya! Aku dingin!" ucap Vera.
'Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Silahkan hubungi beberapa saat lagi!' suara operator membuat Dave kesal. "Ssial, kenapa ponsel Excel tidak aktif!" geram Dave.
"Mas, dingin!"
"Kita pulang sekarang, kita hujan-hujanan sampai rumah. ponsel Excel tidak aktif!" ucap Dave.
"Aku tidak kuat, Mas. Aku mau berteduh saja."
"Tapi, Ver. Di sini tidak ada tempat berteduh. Kamu mau berteduh di bawah pohon? Ini bahaya untuk kita."
"Tapi, aku kedinginan, Mas. Padahal, aku sudah memakai jaket!"
"Aku peluk kamu biar gak dingin lagi, okeh!" titah Dave memeluk istrinya. "Bagaimana? Apa masih dingin?"
"Lumayan, Mas. Tapi, mau sampai kapan kita hujan-hujanan di sini? Aku mau pulang,"
"Setelah hujannya sedikit reda, aku akan coba menghubungi Excel lagi. Siapa tahu, dia mengangkat telfon ku!" ucap Dave menenangkan hati istrinya.
Di saat mereka saling memeluk menyalurkan kehangatan. Tiba-tiba ada sebuah mobil putih berhenti tepat di samping sepeda Dave.
"Ver, ikut aku! Aku akan antar kamu ke rumah!" titah Putra membuat Dave memicingkan matanya tak suka.
"Putra, untuk apa kamu di sini?" tanya Vera.
"Aku sedang mencari udara segar di malam hari. Lalu, tiba-tiba melihatmu sedang hujan-hujanan. Jadi, ikut aku! Dan bawa suamimu juga."
"Kita tidak butuh bantuan dari orang sepertimu! Pergilah!" ketus Dave membuat Putra tertawa sinis.
"Hei, jangan egois. Vera sedang mengandung. Dan apa kau tega melihat Vera hujan-hujanan seperti ini lalu sakit? Tidak, kan? Lebih baik, suruh Vera masuk ke dalam mobilku. Aku sendiri yang akan mengantarkan Vera pulang!" ucap putra.
Dave yang merasakan hujan semakin deras pun berusaha menghubungi Excel. Tapi lagi dan lagi, Excel tidak mengangkat telfonnya.
"Kamu ikut dengannya saja!" titah Dave.
"Aku tidak mau, Mas. Kita pergi bersama, jadi pulang harus sama-sama juga."
"Tapi Ver. Hujannya semakin deras. Kalau kamu sakit, bagaimana?" tanya Dave lembut.
"Mas, bisa panggilkan aku dokter lalu di beri obat dan sembuh!"
__ADS_1
"Ikutlah dengannya!" titah Dave tak ingin di bantah.