
"Kalau dia berhasil menemukan kita di sini, Bagaimana?" tanya Dave yang mendapat gelengan kecil dari Vera.
"Tidak mungkin, Mas! Aku akan berdiam diri di rumah. Aku janji!"
"Ya, sudah, Dave! Turuti saja semua permintaan istrimu. Yang terpenting sekarang ... istrimu dalam keadaan baik-baik saja!" ucap Excel yang di setujui Vera.
"Benar, Mas! Aku baik-baik saja!" ucap Vera memperlihatkan senyum manisnya.
"Tapi aku mau kamu jujur padaku. Selama dua hari ini, kamu dan pria itu tidak berbuat macam-macam, kan?" tanya Dave menatap serius wajah istrinya.
Vera menggeleng. "Aku tidak berbuat hal aneh sama sekali, Mas! Aku berani bersumpah. Aku ini sedang hamil, tidak mungkin aku mau melakukan hal aneh dengan pria seperti Putra!"
"Kamu yakin, Ver?" tanya Dave menyimpan ragu, "Kalian ini masih saling mencintai, tidak menjamin jika kalian pernah melakukan hal dewasa. Apalagi, sebelum menikah denganku, kamu pernah di hamili olehnya!" ujar Dave.
"Jadi, kamu menganggap, di saat aku satu atap dengan Putra. Aku dan dia melakukan hal dewasa, Mas? Aku benar-benar kecewa denganmu. Aku ini sedang hamil muda. Kalau aku melakukan hal itu, pasti dampaknya akan ke calon anak kita. Dan kamu menuduhku seperti itu? Okeh, aku tahu
.. aku memang wanita yang sewaktu kamu nikahi sudah tidak suci. Aku sadar diri, Mas! Tapi ucapanmu tadi, sudah menyinggung perasaanku. Hatiku sakit saat mendengar setiap kata yang keluar dari mulutmu!" ujar Vera panjang lebar.
"Tidak menutup kemungkinan kamu melakukan hal itu dengan Putra, Ver! Kalian saling mencintai. Kenapa harus kecewa? Semua ucapanku benar." kesal Dave.
"Aku tidak pernah melakukan hal itu dengan siapa pun. Iya, memang dulu aku pernah melakukannya, tapi dulu! Berbeda dengan sekarang. Sekarang, aku sudah menikah Mas! Dan aku sedang hamil. Terserah, kamu mau percaya denganku atau tidak. Yang penting, aku sudah berbicara jujur. Aku tidak pernah melakukan hubungan dewasa dengan putra!" ketus Vera memalingkan pandangannya ke arah kaca taksi yang memperlihatkan pepohonan di pinggir jalan.
"Kalian ini. Kenapa kalian bertengkar? Kalian baru saja bertemu. Seharusnya, kalian saling melampiaskan kerinduan kalian!" ucap Excel.
"Untuk apa aku rindu dengan suami semacamnya, Mas! Baru saja bertemu, aku sudah di tuduh." kesal Vera.
"Aku bukan menuduh, Ver! Aku hanya ingin bertanya." jawab Dave frustrasi.
"Apa bedanya, Mas! Kamu bertanya sambil menuduhku! Aku tahu, Mas!" kesal Vera.
__ADS_1
"Sudah. Dari pada kalian bertengkar. Lebih baik, kita pikirkan, kita mau tinggal di mana?" potong Excel membuat Vera mengerucutkan bibirnya.
"Tuh, pasang telingamu, Mas! Kita mau tinggal di mana? Aku tidak mau ketahuan Putra kalau aku bersamamu! Dan tunggu dulu, sewaktu malam itu ... bukankah kalian di hajar oleh anak buah Putra?" tanya Vera memastikan.
"Iya. Kita sempat kehilangan jejakmu karena kita di hadang beberapa orang. Kita di hajar sampai babak belur!" jawab Excel.
"Lalu, Mas Excel baik-baik saja, kan? Mas Excel tidak ada yang luka parah? Soalnya, aku sempat melihat foto kalian yang babak belur. Dan putra mengancamku, jika aku tidak ikut dia ... maka kalian akan di bunuh." curhat Vera.
"Aku tidak apa-apa. Tapi pria itu benar-benar kelewatan. Kita tidak bisa berdiam diri saja, Dave! Kita harus membalas kejahatan pria itu." titah Excel.
"Hem, akan ku pikirkan cara untuk membalas pria licik sepertinya!" jawab Dave.
"Mas Excel, mas Excel tidak apa-apa, kan? Bagian mana yang masih sakit? Beritahu aku! Jadi, setelah sampai di rumah nanti, aku bisa langsung mengobati Mas Excel!" ujar Vera cemas.
Mendengar nada cemas dari istrinya, Dave menarik telinga istrinya sedikit keras membuat Vera meringis kesakitan.
"Aw ... Mas! Ka-kamu ngapain sih! Sakit tahu! Lepaskan tanganmu dari telingaku! Bisa lepas telingaku!" kesal Vera berusaha menepis kasar tangan suaminya.
"Ya, kamu lah, Mas! Masa iya, suamiku Mas Excel. Kalau suamiku seperti Mas Excel, pasti aku sudah bahagia dari dulu!" jawab Vera sambil memejamkan matanya saat suaminya menarik telinganya.
"Ucapkan sekali lagi!" titah Dave emosi.
"Lepaskan dulu! Baru aku ucapkan sekali lagi!" pinta Vera memohon.
Dave melepas tangannya dari telinga istrinya yang sudah memerah.
"Tuh, kan! Sakit, Mas! Telingaku sampai merah seperti ini. Obati telingaku, Mas!" titah Vera.
"Untuk apa aku mengobati telingamu!" ketus Dave, "Excel, kita langsung pulang ke rumah saja. Putra tidak akan tahu, keberadaan rumahku!"
__ADS_1
"Okeh, Dave! Biar aku yang menunjukkan arah!" jawab Excel.
"Ish, Mas! Kamu ini sama sekali tidak berubah. Selalu kasar, apa kamu tidak merindukanku, ha! Kita baru bertemu setelah hampir dua hari kita berpisah!" kesal Vera mengusap telinganya yang memerah.
"Untuk apa aku merindukanmu?"
"Ya, sudah. Kalau kamu tidak merindukanku. Lebih baik, aku pergi saja. Biarkan aku hidup bersama Putra. Walaupun dia sedikit sakit jiwa, tapi cintanya tulus padaku!" kesal Vera, "Pak putar balik!" Titah Vera lagi pada supir taksi.
"Tidak perlu, Pak! Jalan saja sesuai petunjuk pria di samping Bapak!" timpal Dave yang mendapat tatapan tajam dari wanita di sampingnya.
"Mas, aku mau hidup dengan--"
"Cukup, Ver! Aku tidak mau, kamu menyebut nama pria itu lagi! Aku muak dengannya! Dan jangan harap, kalian bisa tinggal satu atap lagi. Aku tidak sudi!" potong Dave.
'Dasar pasangan aneh. Aku pikir, setelah bertemu ... sikap kalian berbeda. Kalian akan berpelukan dan bersikap romantis. Tapi ternyata semua itu hanya halusinasiku saja. Pertemuan mereka tidak akan bersejarah jika tidak ada moment-moment berantemnya!' batin Excel sambil menatap lurus ke depan.
Sedangkan di satu sisi. Setelah memesan bakso pesanan Vera. Kini putra sedang kebingungan. Ekor matanya berusaha mencari keberadaan Vera di setiap sudut taman.
"Di mana Vera? Apa jangan-jangan dia kabur? Tapi tidak mungkin dia kabur!" lirih Putra melangkahkan kakinya.
Setelah taksinya membelah jalanan ibu kota. Akhirnya, berat sampai di depan halaman rumah suaminya.
"Ini rumahmu, Mas?" reflek Vera.
"Bukan. Di sini, aku menyewa! Jadi, kau harus memberiku uang untuk menyewa kamarku!" titah Dave berbohong. Dia berjalan masuk menuju rumahnya di ikuti oleh Vera dan Excel di belakangnya.
"Mas Excel!" panggil Vera lalu menghentikan langkah kakinya.
"Ada apa?" tanya Excel.
__ADS_1
"Apa rumah ini sudah tidak berpenghuni lama? Kelihatannya, aku tidak betah tinggal di sini terlalu lama. Serem tau rumahnya!"
"Kau baru melihat depannya saja, sudah bilang seram. Lalu, apa daya denganku, Ver! Semalam aku mencoba tidur, tapi tidak bisa. Dan efeknya sampai sekarang! Mataku ngantuk!" titah Excel kesal.