Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 85


__ADS_3

Setelah sampai di halaman belakang rumah. Vera melihat Excel dan Lord yang sedang bersantai dengan cangkul yang berada di sisiNya.


"Eh, Dave! aku kira, kamu ke sini membawa jenazah istrimu. Kami sudah siap untuk mencangkul tanah ini," ujar Excel dengan senyuman mengejeknya.


"Dia mau mengubur dirinya sendiri. Mari kita saksikan, bagaimana istriku mengubur dirinya sendiri," jawab Dave, kemudian menjatuhkan bokongnya di samping tempat duduk Lord dan Excel.


Glek!


'Ini benar-benar gila. Aku tidak mungkin mengubur diriku sendiri. Aku juga belum sanggup mati, aku masih muda. Tapi, bagaimana caranya agar aku kabur dari sini?' gumam Vera dalam hati.


"Oh, biar saya gali dulu, Tuan. Agar Nyonya bisa leluasa memasukkan tubuhnya ke dalam tanah," ujar Lord, beranjak dari tempat duduknya.


"Duduklah, Lord akan menggali tempat untukmu. Kita nikmati detik-detik kehidupanmu, dulu," titah Excel tersenyum sinis.


"Mas ...," panggil Vera.


"-_-"


"Mas ...."


"-_-"


"Hiks ... hiks ... Mas Dave!" panggil Vera masih mematung di depan suaminya.


"Duduk!" titah Dave yang mendapat gelengan dari Vera.

__ADS_1


"Aku tidak mau, Mas!"


"Mas Dave jahat! Mas Dave sudah ikhlas jika aku mati! Jawab Mas!" teriak Vera mengejutkan Dave dan lainnya.


"Siapa yang memintamu mati? Kamu sendiri yang mengantarkan nyawamu," ucap Excel yang mendapat anggukan dari Dave.


"Tapi bukan seperti itu, Mas! Seharusnya, Mas Dave membujukku, atau merayuku atau apalah! Jangan bisanya merayu kalau ada butuhnya saja!" ketus Vera.


"Kemarilah," titah Dave, melambaikan tangannya, "Kemarilah," sambungnya lagi.


"Aku tidak mau. Untuk apa aku menurut dengan Mas Dave, ujung-ujungnya, aku disuruh membunuh diriku, sendiri!"


"Huh!"


"Kemari, Vera, istriku," goda Dave.


"Trus mau mu, apa?" tanya Dave frustrasi.


"Mauku, Mas Dave jangan membunuhku," jawab Vera memohon.


"Kemari, aku akan bisikan sesuatu," ucap Dave tersenyum manis.


"Yakin Mas? Mas mau membisikkan apa? tanya Vera yang mulai tertarik untuk mendekati suaminya.


Baru beberapa langkah, tiba-tiba langkahnya terhenti saat melihat Excel memainkan suntikan yang terisi cairan merah.

__ADS_1


"Apa itu Mas?" tanya Vera, menunjuk suntikan yang di pegang oleh Excel.


"Bukan apa-apa. Ini hanya suntikan yang berisi--"


"Berisi apa, Mas?" potong Vera.


"Menurutmu, ini berisi apa? warnanya merah dan--"


"Racun, pasti itu racun. Aku tidak mau dekat-dekat dengan kalian. Semakin hari, tingkah laku kalian semakin aneh. Aku lebih baik, pergi dari sini!" ujar Vera, kemudian berlari memasuki kamar.


Melihat istrinya kabur, Dave langsung menepis suntikan yang berada di tangan Excel.


"Kau apa-apaan bodoh! Kau bisa membuatnya semakin ketakutan. Bagaimana, kalau dia kabur!" ucap Dave kesal.


"Tidak mungkin kabur, Dave! Dia masih berstatus isterimu. Kau yang tenang saja. Aku hanya memberikan sedikit gertakan untuknya!" ujar Excel.


"Gertakan? Di malam hari! Bagaimana, kalau dia takut dan membunuh dirinya sendiri?"


"Kau benar-benar gila, Cel. Aku tidak mau memainkan sandiwara ini lagi. Lebih baik, aku membuat Dave Junior daripada harus memainkan sandiwara yang membuat dia ketakutan," ucap Dave, kemudian berjalan menyusul istrinya.


"Hadeuh, memang susah, kalau berurusan dengan orang bucin. Apa-apa, aku yang salah. Padahal, niatku baik. Aku hanya ingin menggertak wanita itu, agar jera dan tidak berani membohongimu lagi, Dave!" gumam Excel kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Hei, mau kemana? Jangan tinggalkan aku!" teriak Lord saat melihat kepergian Excel.


"Hei!" teriaknya lagi.

__ADS_1


"Ish, kok aku merasa merinding sendiri, ya?" ujar Lord, "Apa jangan-jangan, di sini ada penunggunya? Ish, merinding,"


Bersambung😘


__ADS_2