
"Iya, istriku kenapa!"
"Nyonya, Nyonya sedang berada di toilet," jawab Lord berbohong.
"Oh, ya sudah. Jika, dia sudah kembali, beritahu saja ... kalau aku mencarinya,"
"Suruh dia pulang setelah dari toilet," titah Dave.
"Baik Tuan," jawab Lord.
'Aku harus menemukan Nyonya sekarang juga,' batin Lord berjalan menuju salah satu mahasiswa yang sedang duduk di dekat taman.
"Apa kalian melihat Vera, mahasiswa baru di sini?" tanya Lord setelah sampai di hadapan beberapa mahasiswa.
"Vera?"
"Aku tidak tahu, siapa Vera,"
"Aku juga tidak melihatnya," ucap salah satu mahasiswa yang diangguki temannya.
"Terimakasih," jawab Lord berjalan menjauh. Dia mencari di sekitar kampus.
***
"Kamu mau bawa aku kemana, sayang?" tanya Vera setelah mereka berdua di dalam mobil milik Putra.
"Aku akan mengajakmu berbelanja. Bukankah, sedari dulu--"
"Jangan, kita tidak perlu berbelanja," timpal Vera cepat.
Putra melirik sekilas sambil mengerutkan keningnya, "Kenapa? Sedari dulu, hobimu hanya berbelanja, tapi kenapa sekarang--"
"Iya, itu dulu. Sekarang sudah berbeda, lebih baik kita pergi ke taman atau tempat bermain. Kita habiskan waktu kita ini dengan bersenang-senang," jawab Vera menyenderkan kepalanya di pundak Putra.
Dengan sigap, salah satu tangan Putra terulur, dia membelai wajah wanitanya dengan pandangan fokus menyetir.
"Kamu banyak berubah, aku suka dengan perubahanmu," ujar Putra mencubit gemas pipi Vera.
"Aw ... sakit sayang," ucap Vera mengusap-usap bekas cubitan dari Putra.
"Sebenarnya, aku marah saat melihat mu dekat dengan wanita lain, Put!" sambung Vera, ingatannya kembali pada kejadian pagi tadi, di saat kekasihnya bermesraan dengan wanita lain, yang tak lain adalah Putri.
__ADS_1
"Sudah aku katakan, biarkan aku menjelaskan semuanya pada Putri. Aku akan menjelaskan semua dan mengakhiri hubungan ku dengannya. Lagi pula, aku tidak mencintainya, yang aku cintai adalah ini ... wanita yang sedang bersamaku sekarang," jawab Putra menoel hidung kekasihnya.
"Aku mempunyai alasan tersendiri Put! Aku tidak bisa membeberkan hubungan kita," ujar Vera.
"Apa karena Om-Om itu? Hei, kamu mencintainya? Atau mempunyai hubungan dengannya?" tanya Putra mengurangi kecepatan mobilnya di saat lampu lalu lintas berwarna kuning.
"Aku? Mencintai dia?" ulang Vera tidak percaya.
"Mana mungkin, sayang. Aku hanya terikat perjanjian saja dengannya. Dan aku tidak bisa pergi begitu saja," sambung Vera menarik kepalanya dari pundak Putra.
"Maafkan aku, aku tidak tahu, sayang ...,"
"Memangnya perjanjian apa, yang dia buat? Merugikan kamu atau--"
"Kita saling menguntungkan," timpal Vera cepat, "Dia membiayai kuliahku sampai semester akhir, dan dia juga yang menampung hidupku setelah keluargaku meninggal," ucap Vera.
"Tapi, dia tidak meminta lebih sebagai imbalannya kan?"
"Aku takut, jika dia hanya memanfaatkan mu, sayang," jawab Putra yang sesekali melirik sekilas pada wanita di sampingnya.
'Maafkan aku, aku tidak bisa mengatakan yang sejujurnya jika aku dan dia sudah menikah, Put. Aku tidak mau, kamu shock dan pergi meninggalkanku,' batin Vera.
Di saat sedang berada dalam lamunannya, tiba-tiba Vera teringat pada Lord. Di rogohnya ponsel dalam tas nya.
"Ada apa sayang?" tanya Putra seakan mengerti dengan sikap kekasihnya.
"Sayang, bisakah kau diam dan jangan pernah berbicara sedikit pun sebelum aku memperbolehkan mu bicara?" pinta Vera, "Anak buah Mas Dave menelfonku, jika aku tidak memberikan kabar, maka hari ini juga, aku akan mendapatkan omelan darinya." sambungnya lagi.
"Mas Dave? Apa Mas Dave, Om-Om yang kemarin?" tanya Putra diangguki Vera.
"Iya, benar. Sekarang, aku mau menelfon anak buahnya yang selalu bertugas mengawasiku," jawab Vera.
"Malang sekali nasibmu, sayang. Ya sudah, aku akan diam demi kamu," titah Putra mengacak-acak rambut hitam Vera.
Setelah mendapatkan persetujuan dari kekasihnya, Vera langsung saja menelfon Lord.
Dalam hitungan detik, panggilan itu sudah diangkat oleh Lord.
"Hay Lord," sapa Vera.
"Nyonya ada di mana! Saya sedari tadi mencari Nyonya. Dan Tuan, Tuan menelfon saya, karena--"
__ADS_1
"Aku sedang di dalam perjalanan pulang. Menunggu mu membeli obat sangat membosankan dan lama. Sedangkan aku sudah tidak tahan, rasa nyeri di perutku tiba-tiba terasa begitu sakit. Jadi, aku memutuskan untuk menyetop taksi dan pergi sendiri. Maafkan aku, Lord," jawab Vera kemudian tersenyum pada Putra yang sedang menatapnya.
"Kirimkan lokasi Nyonya. Biar saya susul, dan tolong Nyonya hubungi Tuan Dave, agar dia tidak cemas," titah Lord.
"Hah! Tidak mungkin dia mencemaskan aku, Lord. Kau tahu sendirikan ... bagaimana sikap dingin dan juteknya, ya ... walaupun aku tahu, sikapnya akhir-akhir ini mulai berubah, tapi tetap saja, bagiku dia hanya seekor beruang--" ucapan Vera terhenti, dia menutup mulutnya dan merutuki kebodohannya.
'Ah siaal, pasti dia akan mengadu pada Mas Dave,' batin Vera mengetuk beberapa kali kepalanya
"Ya sudah, aku akan menelfon Mas Dave. Tentang ucapanku tadi, tolong lupakan!" sambung Vera memutuskan panggilannya.
"Kenapa sayang? Kenapa, wajahmu terlihat kesal?" tanya Putra saat kepala Vera bersandar di pundaknya.
"Sebentar, sayang. Aku mau menghubungi Mas Dave dulu. Kata anak buahnya, dia mencariku," titah Vera mencari kontak suaminya dan mulai mengklik tombol telfon.
"Mas, Mas ada apa menelfonku?" ucap Vera setelah panggilannya terhubung.
"Aku meminta mu cepat pulang. Dan beresi seluruh rumah!" ketus Dave.
"Jika aku pulang sedikit terlambat bagaimana? Aku diajak teman untuk menongkrong di caffe. Dan aku tidak bisa menolaknya Mas, aku ini kan mahasiswa baru, dan aku membutuhkan teman yang banyak," bohong Vera, tangannya yang kosong meraih tangan Putra yang sedang membelai wajahnya.
"Sebelum petang, kau harus sampai di rumah," ketus Dave mematikan telfonnya.
Melihat panggilannya terputus, Vera memasukkan ponselnya ke dalam tas, dan melingkarkan tangannya di pinggang Putra.
"Semuanya sudah beres," ucap Vera.
"Pintar, dari dulu kamu berbakat bohong, sayang," puji Putra.
"Tapi, kenapa alasan mu berbeda. Bagaimana jika anak buah Om itu mengadukan pada Om itu?" ujar Putra menghentikan mobilnya setelah berada di depan restoran mewah.
"Jika, aku mengatakan alasan yang sama, maka aku akan di suruh pulang. Lagi pula, anak buah Mas Dave, tidak terlalu pintar. Buktinya, dia percaya jika aku sudah pulang duluan. Dan Mas Dave, percaya denganku."
"Oh iya, kita mau makan di sini?" tanya Vera setelah dirinya menyadari di depan pandangannya sudah terlihat restauran mewah.
"Iya, makanan di sini semuanya enak-enak. Ayo turun," titah Putra sambil melepaskan sabuk pengamannya.
"Tapi, bagaimana ... jika ada temanmu yang melihat kita?"
"Tidak akan ada, aku akan menyewa privat room," ucap Putra melepaskan sabuk pengaman milik kekasihnya.
"Ayo turun ...," ajaknya lagi.
__ADS_1
"Kita tidak bisa turun, Put. Itu lihat, lihat di sana ada siapa!" tunjuk Vera pada seseorang di depan restoran.
Bersambungš