Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 130


__ADS_3

'Apa? Buat yang baru bersamanya?' batin Vera, 'Telingaku tidak salah dengar, kan? Bisa-bisanya Putra bicara seperti ini padaku! Memangnya, aku wanita gampaangan. Semua itu tidak akan terjadi, kasihan Mas Dave, dong!' batinnya lagi. "Kamu bicara apa, sih, Put! Aku sedang serius. Aku sedang berduka! Seharusnya, kamu hibur aku!"


"Aku juga sudah berusaha menghiburmu, sayang. tapi kamu selalu menangis dan membuatku bingung." jawab Putra.


"Terserahmu. Tapi intinya, aku tidak suka dengan ucapanmu itu!" ketus Vera.


Tak terasa perputaran jam di muka bumi ini terasa begitu cepat.


Dan tak terasa, kini Dave serta Excel telah sampai di kota Jakarta.


"Excel, kita sudah sampai!" titah Dave.


"Kota ini lumayan bagus! Mungkin, aku bisa betah di sini!" ujar Excel.


"Sekarang, kita harus pergi! Kebetulan, di sini aku masih punya rumah. Dan kita, bisa tinggali rumah itu!"


"Itu ide yang bagus Dave! Tapi kita sampai berapa lama di sini?" tanya Excel berjalan keluar bandara.


"Sampai ada orang yang mengatakan jika istriku tidak ada di sini! Tapi feeling ku mengatakan, jika pria itu membawa Vera ke negara ini. Dia tidak mungkin membawa Vera ke luar negeri lainnya." jawab Dave menghentikan taksi yang kosong.


"Aku tahu, Dave!" ujar Excel tiba-tiba.


"Kau tahu apa?" tanya Dave setelah mendudukkan pantatnya di kursi taksi. "Katakan!" titahnya lagi.


"Aku tahu, kalau semua ucapanmu masuk akal!" jawab Excel terkekeh.


"Lebih baik, kau diam! Dan fokus cari istriku!" ketus Dave membuat Excel yang terkekeh, langsung diam seribu bahasa.


Setelah cukup lama berada di dalam taksi. Ekor mata Vera tak sengaja menatap pedagang kaki lima yang berjejer di pinggir jalan.


"Put! Manisan enak!" ujar Vera sambil mengusap perutnya yang rata.


"Kamu mau, Ver? Kalau kamu mau, kita bisa turun sebentar dan membeli manisan itu!" tawar putra.

__ADS_1


"Memangnya, aku boleh turun di sini, Put? Bukankah, kamu melarangku untuk turun di sembarang jalan! Kan, kamu sedang menculikku!" gumam Vera lirih.


"Jelas boleh, sayang! Kita turun di depan. Lalu, kamu boleh beli makanan apa aja yang kamu suka!" titah Putra mengusap pucuk kepala Vera lembut.


'Tak apalah, aku pura-pura keguguran. Asalkan aku dan calon anakku bisa makan enak tanpa ada yang berniat jahat meracuni makananku!' batin Vera.


"Pak, kita turun di depan!" titah Putra.


"Tunggu, put. Aku mau turun dan beli manisan itu. Tapi aku mau makan di tempatnya langsung. Kamu bisa temani aku? Jika aku makan di rumah, pasti aku selalu teringat dengan calon anakku yang sudah tiada! Sekalian, kita lihat pemandangan sore hari," lirih Vera.


"Okeh, aku temani. Asalkan kamu bahagia dan nyaman di sisiku," jawab Putra dengan senyumnya.


'Ya untuk saat ini. Lebih baik, aku mengajak putra. Daripada dia yang turun dan beli makanan tanpa sepengetahuan ku. Aku takut, makanan itu di campuri racun lagi!' batin Vera membuka pintu mobilnya setelah mobil berhenti di pinggir jalan.


"Ayo, put!" titah Vera.


Putra menggenggam tangan Vera. Mereka berjalan menuju pedagang manisan yang berada di pinggir jalan.


"Kamu duduk di sini, Put! Biar aku yang pesan. Kamu mau juga, kan?" tanya Vera memastikan.


Vera mengangguk, lalu memesan satu manisan untuknya. 'Putra memang baik, tapi di balik sikap baiknya, dia juga sangat kejam!' batin Vera.


'Melihat Vera bahagia, aku semakin yakin ... kalau Vera akan jatuh ke pelukanku seperti dulu lagi!' batin Putra menggeser sedikit pantatnya untuk memberi ruang wanitanya. "Duduklah!" titah Putra.


Vera mengangguk lalu menjatuhkan pantatnya di samping putra. Ekor matanya menatap sekita taman.


"Kamu mau makan apalagi? Kita sekalian beli untuk makan sore mu!" titah putra.


"Aku mau rujak, boleh?" ucap Vera antusias. "Kelihatannya, rujak enak, Put! Apalagi bengkuangnya! Pasti segar!" sambungnya lagi.


"Kamu boleh pesan apa aja! Biar aku belikan!" titah Putra.


"Biar aku yang beli saja, Put! Kamu tunggu di sini. Janji, aku tidak akan kabur!" ucap Vera.

__ADS_1


"Janji!"


"Iya, janji, put! Lagian kalau aku mau kabur, aku kabur kemana? Sedangkan, uang saja ... aku tidak punya." jawab Vera meyakinkan putra.


"Okeh! Kamu pesan saja! Nanti suruh Abangnya ke sini, biar aku yang bayar!" titah Putra.


"Iya, Put! Sekalian sama siomay ya? Juga bakso di situ! Aku pikir, makan bakso enak! Kamu mau bakso, Put? Biar aku minta di bungkus! Jadi, kita makan di rumah!" ucap Vera.


"Boleh! Aku baksonya satu. Kita makan di rumah!" jawab putra.


'Akhirnya, aku bisa meyakinkan hati Putra. Perlahan tapi pasti, aku akan mendapatkan kebebasan dari putra. Setelah, aku bebas ... aku akan kabur!' batin Vera berjalan menuju beberapa pedagang yang berjejer di pinggir jalan.


Ekor mata putra terus menatap Vera. Dia sama sekali tidak membiarkan celah untuk wanitanya kabur.


'Vera mulai luluh. Setelah luluh, aku akan pastikan dia akan jatuh ke dalam pelukanku!' batin Putra.


Setelah di dalam Taksi. Excel terus saja menatap pepohonan di pinggir jalan. Pemandangan yang tidak biasa di lihat di negaranya pun kini di terlihat di negara bos nya.


"Kalau di sana, pedagang kaki lima sangat sedikit, tapi di negara ini sangat banyak, ya! Memangnya tidak menggangu perjalanan semua orang yang menggunakan kendaraan?" tanya Excel.


"Tidak mungkin! Dia berjualan di pinggir jalan bukan di tengah jalan. Jadi, mereka tidak mungkin mengganggu perjalanan kita! Sudahlah, tujuan kita ke sini untuk mencari istriku bukan melihat pedagang kaki lima yang berjualan di pinggir jalan!" ketus Dave.


"Siapa tahu, Dave! Istrimu ada di kerumunan orang-orang itu!" tunjuk Excel menatap pedagang bakso kaki lima yang ramai.


Dave menatap sekilas orang-orang yang berada di keramaian tersebut. "Jangan aneh! Kau tahu Vera, kan? Dia tidak mungkin makan di pinggir jalan! Gengsinya cukup tinggi. Apalagi, sekarang dia di sekap! Tidak mungkin, dia bebas mengantri di tukang bakso!" jawab Dave menatap ponselnya lagi.


"Dave aku tahu itu. Tapi entah kenapa ... aku lihat makanan itu, perutku jadi lapar! Kita berhenti dan cicipi makanan itu, ya!" pinta Excel.


"Jangan bodoh, Excel! Kau mau mengantri di antara ibu-ibu rempong itu?"


"Tapi, Dave! Kau bisa turun dan antri! Biar aku yang menunggumu di taksi!" pinta Excel memohon.


"Di sini siapa yang bos nya, kamu atau aku!" ketus Dave.

__ADS_1


"Hehehe ... tidak ada bos atau karyawan di sini, Dave! Tujuan kita sama! Yaitu mencari keberadaan istri dan calon anakmu!" jawab Excel


__ADS_2