Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 145


__ADS_3

"Sayuran? Aku sudah seperti pelayan di rumahmu saja!" kesal Excel, "Lalu, apalagi?"


"Sudah, itu saja. Semua itu sudah cukup!" jawab Dave.


"Baiklah." ujar Excel mengulurkan tangannya, membuat Dave menautkan ke dua alisnya bingung.


"Pergilah!" usir Dave lagi.


"Aku tidak bisa pergi, sebelum kamu memberiku uang, Dave!" ketus Excel. "Aku butuh uang untuk membeli semua belanjaanmu!"


"Dasar pria matre!"


"Ish, Aku bukan pria matre, aku hanya melakukan apa yang kau minta. Kalau, kau tidak mau memberiku uang. Ya, sudah. Aku tidak akan pergi!" ketus Excel.


Mendengar ucapan sahabatnya, Dave segera mengambil dompetnya yang berada di saku celana. Dia mengeluarkan uang pecahan seratus ribu sepuluh lembar. "Belanjakan uang ini sesuai dengan apa yang aku ucapkan. Jika ada barang yang lupa, aku akan suruh kamu pergi lagi!" titah Dave.


Excel menerima uang senilai satu juta rupiah. Dia berjalan keluar rumah.


Melihat kepergian Excel. Dave segera melangkahkan kakinya menuju dapur.


"Hallo, apakah benar, ini yayasan penyalur kerja?"


"Iya benar. Maaf ini dengan siapa?"


"Saya Dave, dan saya sedang membutuh lima asisten rumah tangga untuk membantu istri saya. Saya akan kirimkan alamat rumah saya dengan catatan semua asisten rumah tangga harus profesional." titah Dave.


"Okeh, saya akan pilihkan yang terbaik."


Dave mengakhiri panggilannya. Dia berjalan menuju kamarnya.


Krek


Pintu kamar terbuka. Pemandangan yang pertama kali dia lihat adalah sang istri yang tengah tertidur.


Dave tersenyum, dia berjalan beberapa langkah lalu menekuk ke dua lututnya agar sejajar dengan istrinya.

__ADS_1


Tangannya perlahan membenarkan rambut istrinya yang berantakan.


"Baru aku tinggal sebentar, kau sudah tidur. Apa karena sedari kemarin tidurmu tidak nyenyak?" gumam Dave menatap lembut istrinya.


Vera menggeliat, dia mengubah posisi tidurnya menjadi memunggungi suaminya.


"Lucu sekali," gumamnya lirih.


Sedangkan di satu sisi. Setelah mencari ke sekeliling taman. Kini Putra tengah duduk di tepi taman. "Argkh! Kamu kemana, Ver? Kamu sudah berjanji tidak akan kabur dariku. Tapi apa sekarang? Di saat aku percaya padamu, kau justru mengkhianati kepercayaanku ini. Argkh! siaal! Kamu di mana, ha! Aku akan mencarimu sampai dapat! Aku tidak akan melepaskanmu, tapi Vera tidak mungkin kembali ke pelukan suaminya. Tapi Vera kemana? Apa jangan-jangan Vera ke tempat Kakak tirinya. Dia kabur kesana. Tidak mungkin, dia kabur ke tempat lain selain tempat kakak tirinya. Ah, iya. Kau benar, Put! Sekarang, kau harus ke tempat Kakak tiri Vera. Kelihatannya, aku masih ingat. Vera pernah memberitahukan alamat rumah kakaknya." gumam Putra bangkit lalu menghentikan Taksi saat melihat taksi kosong melewatinya.


"Taksi!" titah putra masuk ke dalam taksi. "Cepat jalan. Aku akan tunjukkan arahnya!" titah putra.


"Baik, Pak!" jawab supir taksi lalu menancapkan gas mobilnya.


'Semoga saja, Vera ada di sana. Jika Vera tidak ada di rumah kakaknya. Aku bisa pastikan jika Vera di culik!' batin Putra.


Di satu sisi. Excel menatap pepohonan di pinggir jalan. "Pak, kira-kira pusat perbelanjaan terbesar yang ada di kota ini masih jauh, tidak?" tanya Excel pada supir taksi yang sedang fokus mengendarai mobilnya.


"Beberapa menit lagi kita sampai, Pak!" jawab supir taksi tersebut.


"Kita sudah sampai!" titah supir taksi.


"Apa di sini menjual semua sayuran dan buah-buahan?" tanya Excel polos.


'Sebenarnya, dia berasal dari planet mana? Kenapa pertanyaannya seolah-olah seperti tidak pernah datang ke Mall?' batin supir taksi tersebut.


"Hei, Pak! Jawab pertanyaanku jangan melamun!" kesal Excel.


"Apa Bapak baru pertama kali datang ke Mall ini?" tanya supir taksi tersebut yang mendapat anggukan kecil dari Excel..


"Iya, Bapak benar. Aku baru pertama kali datang ke Mall ini. Maka dari itu, aku bertanya ke Bapak!" jawab Excel.


"Memangnya, anda berasal dari planet mana? Eh, maksud saya ... sebelum tinggal di sini, Bapak tinggal di mana?" tanya supir taksi lagi.


"Jangan panggil aku 'Bapak'. Aku belum menikah, jadi panggil aku Excel. Namaku Excel dan dari mana aku berasal, Bapak tidak perlu tahu. Itu privasiku!" jawab Excel.

__ADS_1


"Oh. Maaf, pak eh Excel!" jawab supir taksi dengan terbata.


"Sekarang, beritahu aku. Di Mall ini bi--"


"Bisa, di Mall ini terdapat banyak sekali sayuran. Bahkan makanan ikan atau kucing pun ada. Excel tidak perlu khawatir. Dan juga, di mall ini terdapat beberapa lantai. Apa Excel bisa menggunakan lift?" tanya supir taksi tersebut membuat Excel menautkan ke dua alisnya bingung.


'Dia pikir, aku datang dari zaman purba? Aku juga tahu, di sini menjual apa saja. Namanya juga Mall terbesar di kota Jakarta. Tapi tak apalah ... lanjutkan saja berpura-pura bodoh di depan orang sepertinya!' batin Excel.


"Lift? Memangnya bentuk lift seperti apa? Aku baru dengar kata-kata 'Lift' itu! Bapak bisa beritahu aku, seperti apa bentuk lift? Jadi, aku tidak mempermalukan diriku sendiri di dalam nanti!" ujar Excel.


'Apa! Dia benar-benar tidak tahu apa itu lift? Ya, Tuhan. Sudah pakaian norak seperti orang gila dan kini ... dia tidak tahu bentuk lift seperti apa!' batin supir taksi. "Kalau uang? Excel tahu uang itu apa?" tanya supir taksi. "Jangan bilang, Excel tidak punya uang!"


"Sialaan. Dia pikir aku pria apa, sih!' batin Excel kesal. "Uang? Uang itu ... em ..." Excel menghentikan ucapannya. "Biar aku pikir uang itu apa!" sambungnya lagi.


'Wah, benar! Laki-laki ini tidak beres. Tapi sebelumnya dia membahas uang satu juta.' batin supir taksi.


"Aku tahu uang, Pak! Aku bahkan bawa uang satu juta. Bukankah, sebelumnya aku dan Bapak membahas uang satu juta?" jawab Excel.


"Baguslah. Daya ingatmu sangat tajam. Jadi, aku tidak perlu khawatir!" ucap supir taksi sambil menghembuskan napasnya lega.


"Khawatir seperti apa?' tanya Excel, "Coba jelaskan lagi!"


"Maksudku, aku sudah tenang, karena aku tidak perlu memberi tumpangan gratis pada orang asing." jawab supir taksi yang lagi dan lagi membuat Excel kesal.


'Sialaan. Karena Dave memintaku untuk memakai pakaian seperti ini. Jadi, supir taksi ini berpikir, kalau aku pria aneh yang berasal dari zaman purba.' batin Excel membuka pintu taksi.


"Hei, Excel kau mau kemana?" cegah supir taksi tersebut.


"Kenapa, Pak? Bapak masih kangen denganku atau Bapak fans beratku?" tanya Excel dengan percaya dirinya.


'Manusia aneh. Siapa juga yang kangen.' batin supir taksi. "Excel, kau lupa membayar argo taksinya!" jawab supir taksi dengan lembut.


"Bayar? Memangnya berapa, Hem?" tanya Excel.


"Seratus ribuan!" jawab supir taksi.

__ADS_1


__ADS_2