Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 49


__ADS_3

"A-aku, aku memilih--" Vera menjeda ucapannya, "Aku memilih--"


"Sudah ku duga, kamu mulai menaruh perasaan padanya," timpal Putra sambil tersenyum simpul.


"Aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, Put! Ini pilihan terberat, di satu sisi aku sangat mencintai, tapi di satu sisi ... aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Mas Dave," ujar Vera.


"Kenapa? Kenapa, tidak bisa meninggalkannya? Semua itu ada alasannya, Ver!" ketus Putra, raut wajah dan nada bicaranya sudah tidak bersahabat.


'Dia suamiku, Put!' batin Vera.


"Kenapa!" teriak Putra memukul stir mobil, "Jawab pertanyaanku, Ver! Kenapa!" sambungnya lagi.


"Karena aku terikat kontrak dengannya. Kau tahukan, perusahaan tadi miliknya, dan aku sudah menandatangani pekerjaan dengannya. Aku tidak mungkin menghilang tanpa sebab. Jadi, tolonglah aku, Put! Tolong antar aku ke rumah Mas Dave," ucap Vera.


"Kapan pekerjaan mu selesai?"


"Emm ... aku kontrak dengannya 6 bulan," jawab Vera.


"Baiklah, aku akan menunggu sampai 6 bulan. Setelah kontrak itu selesai, kita akan menikah," ucap Putra di setujui Vera.


"Terimakasih sayang, aku setuju dengan saranmu. Aku berjanji, aku akan meninggalkannya setelah kontrak bekerja berakhir," ujar Vera memeluk lengan kekasihnya.


'Dan aku harap, sebelum 6 bulan, aku dan Mas Dave sudah berpisah. Aku akan berusaha membuat Mas Dave marah dan menceraikan ku,' batin Vera tersenyum.


"Sekarang, antar aku pulang, sayang ...," titah Vera di angguki Putra.


Setelah 2 jam di dalam mobil, akhirnya mobil yang ditumpangi Vera terparkir di depan gerbang yang menjulang tinggi, sebelum Vera membuka pintu, Putra menarik tubuh Vera ke dalam pelukannya dan memberikan kecupan singkat di wajah kekasihnya.


"Jangan tergoda oleh pria itu. Aku mencintaimu sayang," ucap Putra kemudian mengecup bibir mungil Vera.


"Put, jangan seperti ini, bagaimana kalau ada yang melihat kita," ujar Vera setelah Putra melepaskan kecupan singkatnya di bibir.


"Memangnya kenapa? Kita bahkan pernah melakukan hal yang lebih inttim dari ini, sampai-sampai ada calon anak kita di sini," jawab Putra mengusap perut rata wanitanya.


"Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita dengan baik, Put."


"Tidak perlu meminta maaf. Lagi pula, aku belum siap menjadi seorang Ayah, kita masih kuliah dan aku tidak mau melihatmu kelelahan."


"Aku juga, aku belum siap menjadi seorang ibu. Aku tidak bisa membayangkan datang ke kampus dengan perut besar dan tubuh yang sudah gemuk," ujar Vera.


Putra tersenyum, dia menyelipkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah wanitanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu," bisik Putra tepat di telinga Vera membuat bulu kuduk Vera berdiri, hembusan napas Putra yang terasa hangat dan suara Putra yang terdengar berat membuat getaran di tubuh Vera.


"Jangan Put, aku harus masuk," ujar Vera saat tangan Putra mulai masuk ke dalam pakaiannya.


"Kenapa?" Sebentar saja."


"Aku tidak bisa Put, Mas Dave sudah pulang," jawab Vera saat melihat mobil Dave memasuki halaman pekarangan rumahnya, "Aku bisa dimarahi olehnya," sambungnya lagi.


"Pergilah!" titah Putra.


"Maafkan aku, tapi aku akan pergi, Put. Tunggu 6 bulan, setelah aku menyelesaikan kontraknya, aku akan menjadi Vera yang dulu, yang memprioritaskan kamu," ucap Vera membuka pintu mobil dan berlari masuk ke kediaman suaminya.


Di dalam mobil, kekesalan Putra tidak dapat di tahan lagi, semuanya benar-benar kacau, kekasih yang sangat dicintainya justru membela dan memilih pria dewasa yang tidak berstatus apa-apa di dalam hidup Vera.


"Aku tahu, kau sudah menaruh hati padanya, Ver! Aku akan mengembalikan mu yang dulu. Yang selalu patuh padaku, kau milikku, Ver!" gumam Putra menancapkan gasnya dan pergi menjauh dari kediaman Vera.


Di dalam rumah, Vera yang baru saja masuk ke dalam rumah sudah disambut oleh sang suami dan anak buahnya yang bernama Lord.


Mereka berdua sedang berbincang layaknya teman di ruang tamu.


"Aku akan memberikan hukuman yang berat untuk istriku tercinta, karena sudah berani mengabaikan perintah mu, Lord!" ucap Dave pada Lord saat Vera tengah melintas di hadapannya.


Langkah Vera terhenti saat mendengar percakapan antara suami dan anak buah suaminya.


"Maaf Mas, tiba-tiba teman-temanku mengajakku nongkrong, karena--"


"Duduk!" ucap Dave penuh tekanan, pandangan matanya tida lepas dari pakaian istrinya yang terlihat berantakan.


"I-iya Mas," jawab Vera berjalan dan menjatuhkan bokongnya di samping Lord.


"Siapa suamimu? Dia atau aku?" tanya Dave.


"Mas Dave," jawab Vera.


"Lalu?"


"I-iya Mas, " Vera beranjak dan menjatuhkan bokongnya di samping suaminya dengan beberapa meter jarak diantaranya.


'Sangat pandai berbohong,' batin Dave.


"Mulai besok, aku yang akan mengantar jemput mu ke kampus, dan tugas Lord mengikutimu di kampus," ucap Dave membuat Vera shock.

__ADS_1


"Ta-tapi, bukankah Mas Dave sibuk? Aku diantar Lord saja, Mas?" jawab Vera.


"Aku tidak ingin dibantah, mendekatlah," titah Dave.


Vera patuh, dia mendekat dan mengikis jarak diantaranya.


"Wah hebat sekali, siapa yang membuat tanda merah seperti ini di lehermu?" ucap Dave membuat mata Vera membulat sempurna.


'Tanda merah? Putra tidak menciumku, kenapa ada tanda merah, atau ... Jangan-jangan aku yang tidak sadar?' batin Vera.


'Kenapa diam saja? Bingung?' batin Dave tersenyum simpul.


"Hei, jawab! Siapa yang--"


"Mana Mas? Aku mau melihatnya," jawab Vera gugup.


"Di sini, di sini dan di sini. Memangnya temanmu pria atau wanita?"


"Em ... pri- eh wanita Mas, aku tidak mempunyai teman pria. Boleh fotokan tandan merah itu Mas?" ucap Vera gelisah, tangannya bergetar saat merogoh tas nya.


"Yakin? Aku takut, kamu akan shock saat melihat tanda merah yang begitu banyak di lehermu," jawab Dave mengambil ponsel milik istrinya, "Berputarlah," sambungnya lagi.


Vera menurut, dia mengubah posisinya menjadi membelakangi suaminya, rambutnya yang dia gerai sudah terkucir rapi.


Dave mencari dan melihat semua isi pesan dari ponsel istrinya, pengkhianatan yang begitu jelas, membuat emosi Dave terbakar.


"Tidak ada," ucap Dave membuat Vera bingung.


"Tidak ada apanya Mas?" tanya Vera.


"Tidak apa-apa, tanda merah ini, tanda merah yang aku buat semalam. Lebih baik, sekarang bersihkan tubuhmu, aku sedang menginginkannya. Mungkin, malam ini aku akan menempurmu sampai pagi," titah Dave memberikan ponsel istrinya.


"Mas, jaga ucapanmu. Di sini ada Lord, aku malu,"


"Dan tubuhku cape, seharian di luar rumah sangat menguras tenagaku, Mas," ucap Vera.


"Aku tidak ingin dibantah," tegas Dave beranjak dari tempat duduknya dan pergi meninggalkan istri serta anak buahnya di ruang tamu.


"Ada apa dengan Mas Dave? Kenapa sikapnya berubah?" tanya Vera pada Lord.


"Saya tidak tahu Nyonya, lebih baik anda turuti saja kemauan Tuan," jawab Lord tersenyum.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2