Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 146


__ADS_3

"Apa! Seratus ribu? Mahal sekali!" pekik Excel.


"Semuanya serba naik. Dari segi bahan bakar bensin naik, Excel. Jadi, seratus ribu itu tidak mahal melainkan murah!" jawab supir taksi.


'Memangnya aku Pria bodoh yang mau di tipu. Dia belum tahu, siapa aku sebenarnya!' batin Excel lalu tertawa renyah.


"Hahaha ... aku harus menghubungi kakakku dulu. Kebetulan, aku diminta kakakku untuk berbelanja. Dan aku di bawakan uang senilai satu juta. Jika, uang itu kepotong untuk membayar taksi, aku bisa dimarahi kakakku. Sebaiknya, aku telfon kakakku. Biar dia saja yang membayarnya melalui transfer rekening!" titah Excel mengeluarkan ponselnya.


"Tunggu sebentar, ya, Pak! Kakakku sedang sibuk bekerja." titahnya lagi saat menempelkan benda pipihnya ke telinga.


"Sebenarnya, kakakmu bekerja sebagai apa?" tanya supir taksi penasaran. 'Dari ponselnya saja sudah seperti ponsel mahal. Pasti keluarganya dari keluarga kaya raya,' batin supir tay tersebut.


"Kebetulan kakakku bekerja menjadi angkatan da rat dan dia mempunyai hobi merawat binatang yang menurutnya sangat menggemaskan!" jawab Excel.


"Binatang apa? Kucing atau ikan?"


"Ah, Bapak! Kucing itu binatang kesukaanku. Kakakku sangat menyukai harimau. Bapak tahu, setelah pulang bekerja ... dia selalu menyempatkan diri untuk melihat hewan peliharaannya. Dan, oh, iya! Aku punya cerita, sewaktu aku sekolah. Aku pernah di bully dan Kakak tidak terima. Dia membawa harimau yang masih kecil itu ke sekolahan untuk memangsa orang-orang yang membuly ku!" jawab Excel, "Ish, lama sekali Kakakku mengangkat telfon. Apa dia sedang bermain dengan hewan peliharaannya?" gumamnya lagi.


Supir taksi itu tersenyum kecut, dia membayangkan kakak dari penumpangnya datang membawa hewan peliharaan tersebut.


'Dari pada aku menjadi santapan harimau itu, lebih baik aku gratiskan saja penumpang sepertinya!' batin supir taksi tersebut.


"Tunggu sebentar lagi, aku coba hubungi Kakakku dulu!" titah Excel dengan senyum sinisnya. 'Rasakan! Aku saja, tidak tahu sedang menelfon siapa!' batin Excel.


"Pergilah. Aku tidak bisa menunggu Kakakmu terlalu lama!" titah supir taksi membuat Excel menautkan kedua alisnya, bingung.


"Pergi? Tapi aku belum bayar ongkos tak--"


"Untukmu, aku gratiskan. Sekarang, kamu masuk dan beli apa saja yang kakakmu perintahkan!" titah supir taksi.

__ADS_1


'Wah, aku suka dengan gratisan. Tidak sia-sia aku berakting. Dan hasilnya, aktingku sangat memuaskan!' Aku bisa membuat supir ini takut padaku!' batin Excel. "Bapak yakin? Uang seratus ribu, termasuk banyak, Pak!" tanya Excel.


"Aku yakin, dari pada Kakakmu datang kemari sambil membawa hewan peliharaannya? Bisa-bisa semua orang yang ada di sini heboh dan ketakutan. Lebih baik, kamu turun. Aku gratiskan!" titah supir taksi tersebut.


"Wah, Bapak baik sekali. Terimakasih, ya, pak! Tapi kalau Bapak tidak keberatan, Bapak tunggu di sini. Aku hanya sebentar! Niat baik tidak boleh setengah-setengah, Pak!" ujar Excel.


"Apa arti ucapanmu. Siapa yang setengah-setengah. Aku sudah menggratiskanmu!" tanya supir taksi kebingungan.


"Begini, kata Kakakku. Kalau mau berbuat baik, harus dari hati dan jangan setengah-setengah. Arti dari kata setengah-setengah itu ... Bapak jemput aku di rumah kan? Berarti, Bapak harus antarkan aku ke rumah lagi. Itu bisa di katakan, Bapak menggratiskanku. Kalau seperti ini, niat Bapak sama saja, setengah-setengah!" jawab Excel terkikik dalam hati.


'Lumayan, kalau pulang pergi dapat gratisan!' batin Excel.


'Sialaan, anak ini memang menyebalkan! Tapi aku malas mendapatkan penumpang sepertinya lagi.' batin supir taksi. "Aku sibuk! Dan turunlah! Jangan sampai aku berubah pikiran untuk meminta tarif taksinya!" ketus supir taksi.


Excel tersenyum kecut. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Sebentar, aku telfon Kakakku lagi!" ujar Excel membuat supir taksi tersebut keluar dari taksinya dan berjalan lalu membukakan pintu untuk Excel.


"Keluarlah!" titah supir taksi.


"Keluarlah! Aku harus pergi!"


"Hem," jawab Excel lalu keluar taksi. "Terimakasih, bapak sudah menggratiskanku. Aku senang bisa bertemu dengan Bapak!"


"Tidak perlu terimakasih. Aku ikhlas menolongmu. Dan satu hal lagi, aku tidak bisa menunggumu di sini. Banyak sekali orang-orang yang membutuhkan jasaku di luar sana!" ketus supir taksi lalu berjalan masuk dan duduk di bangku kemudi.


Melihat taksi itu berjalan pergi. Excel kembali tertawa renyah sampai tak terasa, dia menjadi pusat perhatian di depan Mall.


"Mungkin, dia orang gila baru!" ujar salah satu orang yang melihat tingkah laku Excel.


Excel menghentikan tawanya. Dia menatap sekilas keadaan sekitar Mall.

__ADS_1


'Sialaan mereka mengatakan jika aku orang gila.' batin Excel, "Siapa yang gila! Aku bukan orang gila! Aku hanya mencoba fashion terbaru di luar negeri!" ketus Excel merapikan penampilannya dan berjalan masuk menuju Mall. 'Tutup matamu dan telingamu. Jangan dengarkan ucapan orang lain!' batinnya lagi.


Sedangkan di satu sisi. Dave melepas pakaian, dan meletakkannya di keranjang pakaian kotor.


"Hoam!" Vera menggeliat lalu membuka kelopak matanya. "Ih, Mas Dave!" pekik Vera, "Kamu mau apa! Pakai pakaianmu!" sambungnya lagi.


"Aku mau apa? Menurutmu, aku mau apa, Hem?" tanya Dave mengambil handuk yang di simpannya di lemari. "Ver, kelihatannya, handuk ini perlu di cuci lagi! Berarti, kita hanya punya satu handuk saja!" ucap Dave.


"Lalu, apa hubungannya denganku, Mas? Aku tidak perduli. Sekarang, kamu pergi atau tidak ... kamu pakai pakaianmu, dulu! Ini masih sore!" ketus Vera.


"Lah memang kenapa kalau ini masih sore? Oh, aku tahu ... otakmu mulai berpikir aneh-aneh, iya, kan!" goda Dave.


"Siapa yang berpikir aneh-aneh, Mas! Cepat pergi dari sini!" pekik Vera sambil menutup wajahnya dengan ke dua telapak tangannya.


Dave tersenyum. Dia berjalan beberapa langkah mendekati istrinya. "Kau takut?" ujar Dave terkekeh. "Kita sudah sering bermain. Apa kau lupa, Hem?"


"Mas, jangan aneh! Ada Mas Excel! Kamu tidak boleh bertelan jang seperti itu!" jawab Vera lalu meraih dan melemparkan bantal tidurnya ke arah sang suami.


Dave menangkap bantal tidur istrinya, lalu meletakkannya di atas kasur, "Sudahlah. Aku hanya bercanda. Aku mau mandi. Dan masalah handuk, kita harus berbagi!"


"Iya, iya. Itu terserahmu, mas! Tapi kamu pergi dulu! Kamu mandi, habis itu ... gantian aku yang mandi!" titah Vera.


"Siap! Atau, kita mau mandi bersama?" goda Dave, "Sudah lama, kita tidak mandi bersama?" sambungnya lagi.


"Aku tidak mau! Aku masih ngantuk! Kamu mandi sendiri aja!" tolak Vera menarik selimut sampai menutupi wajahnya.


"Hahaha ... Vera, Vera! Kamu seperti anak kecil saja yang belum pernah melakukannya!" kekeh Dave berjalan menuju kamar mandi.


"Aku memang anak kecil yang mendapatkan suami dewasa sepertimu, Mas!" lirih Vera yang masih dapat di dengar oleh Dave.

__ADS_1


"Dan kau menikmati menjadi istriku, bukan?" jawab Dave terkekeh.


__ADS_2