
Mendengar ucapan istrinya yang pasrah, tiba-tiba hati Dave menjadi tersentuh. Setiap kata yang diucapkan istrinya mampu membuat dirinya teringat pada sosok Zena, sahabatnya.
"Kau sudah yakin?" tanya Dave memastikan.
"Tidak Mas, aku tidak yakin. Mana ada orang yang mau dijual, yakin Mas," jawab Vera memakan roti bakarnya.
'Belum ada lima menit berucap A, kini sudah berganti menjadi B. Sejujurnya, dilihat-lihat dari hidupnya, dia sosok yang baik, hanya saja ... didikan dari kedua orang tuanya yang salah, selalu memanjakannya,' batin Dave.
"Maaf, sudah menunggu terlalu lama. Tadi, saya sempat terkena macet," ucap pria paruh baya menjabat tangan Dave.
Mata Vera membulat sempurna, ucapan suaminya benar-benar nyata. Dia akan dijual pada pria paruh baya yang menurutnya lebih pantas disebut dengan sebutan 'Kakek'.
"Silahkan duduk," titah Dave mempersilahkan tamunya untuk duduk di hadapannya.
Melihat pria paruh baya itu duduk di sampingnya, tiba-tiba Vera langsung berpindah tempat agar bisa duduk satu bangku dengan suaminya.
Kekecewaan serta rasa sakit dihatinya tidak dapat diungkapkan. Perlahan, tanpa diminta air matanya menetes membasahi pipinya.
Melihat istrinya menangis, Dave langsung menenangkannya. Di usapnya punggung istrinya berulang kali.
"Tenanglah, jangan menangis seperti ini. Jangan mempermalukan ku di tempat umum," titah Dave mengusap punggung istrinya.
Tangis Vera semakin kencang saat mendapatkan perlakuan manis dari suaminya, dia langsung memeluk erat pria yang berstatus suami atau kepala rumah tangganya.
"Mas Dave, jangan jual aku. Nanti aku berhenti menangis," ucap Vera menyembunyikan wajahnya di dada kekar suaminya.
Dave tersenyum lalu meminta maaf pada pria dihadapannya.
"Maaf Pak, istri saya memang seperti ini. Terkadang moodnya kurang baik. Harap dimaklumi," ucap Dave mengusap pundak istrinya.
'Istri? Mas Dave memperkenalkanku sebagai istri,' batin Vera.
"Tidak apa-apa, Pak. Wajar, anda pengantin baru," jawab pria paruh baya itu.
"Alexa! Siapkan minum untuk Pak Will!" seru Dave pada pegawainya.
__ADS_1
Alexa mengangguk kemudian tersenyum pada Dave.
"Oh iya, bagaimana? Apa semuanya sudah beres?" tanya Dave yang sesekali mengusap pundak istrinya. Isak tangis yang sempat terdengar, kini sudah mereda dan berganti menjadi dengkuran halus dengan napas teratur.
"Sudah, Bapak Carlos sudah mendekam di penjara. Semua bukti yang kita dapatkan, ternyata cukup kuat untuk menjebloskan dia dan dijatuhkan dengan pasal berlipat ganda," ucap Will.
"Baiklah, jika semuanya sudah beres. Aku akan mentransfer uang untukmu, aku akan mengirimnya dengan jumlah lebih untuk bonus karena kerjamu yang sangat luar biasa," ucap Dave membenarkan rambut istrinya yang menutupi wajah cantiknya.
'Rupanya dia tertidur,' batin Dave saat melihat mata istrinya terpejam.
"Terimakasih Tuan, saya senang bekerjasama dengan anda," jawab Pak Will selaku pengacara yang membantu proses kasus penggelapan dana di perusahaannya.
"Baik, jika Bapak ingin menikmati menu makanan di sini, Bapak bisa bicara dengan salah satu karyawan saya. Saya akan memberikannya gratis untuk Bapak. Dan maaf sekali, saya tidak bisa menemani Bapak di sini terlalu lama. Istri saya sudah tertidur, saya akan membawanya beristirahat di dalam," ucap Dave membenarkan rambut istrinya.
"Saya mengerti Tuan, sekali lagi ... saya ucapkan terimakasih," jawab Pak Will.
Setelah mendapat persetujuan dari pengacaranya, Dave langsung menggendong Vera dengan ala bridestyle dan membawanya ke tempat peristirahatannya di Caffe miliknya.
Alexa yang melihat perlakuan manis dari bos nya semakin tidak percaya. Berulang kali, dia meyakinkan bahwa bos nya belum mempunyai istri, dan yang dibicarakan bos nya adalah candaan semata. Karena hobi Dave yang suka bercanda.
Alexa hanya mengedikan bahunya. Jujur saja, dia juga belum bisa menerima kenyataan, jika yang dikatakan bos nya benar.
Setelah membawanya ke kamar, Dave merebahkan tubuh istrinya di atas kasur empuknya.
Di tatap wajah cantik istrinya yang sedang tertidur, 'Kenapa jantungku berdetak dua kali lebih cepat? Apa aku sudah mencintainya?' batin Dave memegang dadanya.
"Jangan jual aku, Mas. Aku mohon, aku janji, aku akan menuruti semua permintaanmu," ucap Vera yang tiba-tiba mengigau.
Kedua sudut bibir Dave tertarik ke atas, di ambilnya tissue lalu diusapnya wajah cantik yang dipenuhi dengan keringat dingin.
"Rupanya, ucapan ku sudah membuat mu takut seperti ini. Padahal, aku hanya becanda. Siapa juga yang akan menjual mu kepada pria hidung belang," gumam Dave melepaskan sepatunya dan naik ke ranjang lalu tertidur memeluk istrinya.
Tidak terasa, hari sudah sore, matahari yang sempat menyinari bumi, kini akan digantikan dengan rembulan dan bintang-bintang.
Vera menggeliat saat mendengar kicauan burung dari luar ruangannya. Matahari yang akan terbenam membuat langit semakin indah. Warna kuning ke emasan begitu memanjakan mata wanita tersebut.
__ADS_1
"Astaga, aku di mana?" gumam Vera, saat dirinya menyadari bahwa ruangan ini bukan kamarnya.
"Apa, aku sudah dijual? Mas Dave sudah menjual ku? Aku tidak percaya, Mas Dave akan menjual ku,"
"Tubuhku, tubuhku," Vera mengecek tubuhnya yang masih terbungkus pakaiannya.
"Tidak terjadi sesuatu pada tubuhku. Tapi kenapa, aku ada di sini?" gumam Vera. Segera dia menurunkan kakinya dari ranjang.
Krek ...
Pintu terbuka dari luar, Vera yang baru saja turun dari ranjang pun melihat seorang wanita masuk ke kamarnya sambil membawa nampan yang berisi makanan untuknya.
"Kamu, kamu kan yang sudah menjualku!" pekik Vera pada wanita yang bernama Alexa.
"Jawab! Jangan diam saja, Jawab!"
"Maaf Nona, saya di perintahkan oleh Tuan Dave untuk memberikan makan siang yang sempat tertunda tadi. Dan beliau mengatakan, jika Nona tidak boleh pergi dari tempat ini, sampai Tuan Dave kembali," ucap Alexa meletakkan nampan berisi makanan itu di atas meja dekat sofa.
"Mas Dave?" ulang Vera, "Di mana Mas Dave, aku ingin bertemu dengannya. Dia tidak jadi kan menjual ku? Berapa harga yang Mas Dave minta? Apa kamu sudah memberikan Mas Dave uang?" tanya Vera mencecar berbagaii macam pertanyaan yang membuat Alexa bingung, pertanyaan mana dulu yang akan dia jawab.
"Jawab, Alexa!" pekik Vera membuyarkan lamunan Alexa.
"Eh Nona. Sebaiknya Nona makan dan tunggu Tuan tiba di sini. Mungkin sebentar lagi Tuan akan sampai di Caffe," ucap Alexa berjalan keluar kamar.
"Tunggu! Kamu belum sempat menjawab pertanyaanku! Di mana suamiku!" pekik Vera saat melihat kepergian Alexa.
Alexa yang samar-samar mendengar jeritan dari wanita muda itu pun menutup mulutnya tidak percaya.
Rupanya ucapan bos nya benar, bahwa mereka sepasang kekasih.
"Astaga, ternyata ... mereka sudah menikah. Tapi kapan mereka menikah? Kenapa tidak mengundangku?"
"Aku harus bicarakan ini pada bos!" kesal Alexa berjalan menuju dapur.
Bersambungš
__ADS_1