
"Aku sumpahin Mas Dave, yang matanya menjadi satu!" geram Vera, memutar tubuhnya dan pergi menuju kamarnya, meninggalkan Dave yang tengah mematung.
'Apa! Apa aku tidak salah dengar? Dia menyumpahiku? Dasar istri menyebalkan! selalu saja, membuat darahku naik!' gerutu Dave, kemudian berjalan menuju dosen istrinya.
"Maaf, adik saya sedang bersiap-siap. Karena, dia lupa, jika ada jadwal kuliah di pagi hari," ujar Dave kepada dosen istrinya.
"Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa memakluminya, karena Nona Vera masih muda dan pikiran anak muda biasanya hanya bermain," jawab Pak dosen yang bernama Adam.
"Anda bisa tunggu. Biar saya menemuinya," titah Dave, kemudian berjalan menaiki satu persatu anak tangga.
Setelah sampai di dalam kamar, Dave langsung mencari keberadaan istrinya. Samar-samar dia mendengar suara gemercik air di dalam kamar mandi. Tak ingin mengganggu istrinya mandi, Dave berjalan menuju pintu kamarnya. Sebelum sampai, di pintu kamarnya, Tiba-tiba dia mendengar suara dering ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Siapa yang menelfon pagi-pagi seperti ini?" gumam Dave, langkah kakinya berjalan menuju meja rias yang terdapat ponsel istrinya.
Tangannya meraih dan melihat nama si penelpon itu, "Ada apa dia menelfon Vera pagi-pagi seperti ini? Atau jangan-jangan ... mereka sudah baikan dan menjalin hubungan lagi di belakangku?" gumam Dave, kemudian menggeser tombol hijau di layar ponsel istrinya.
__ADS_1
"Hallo, Vera sayang. Maafkan aku. Ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku sudah berada di dekat rumahmu. Kita berangkat kampus bersama," ujar Putra, membuat Dave berjalan menuju kaca besar yang memperlihatkan halaman depan rumahnya. Terlihat mobil mewah yang terparkir tak jauh dari gerbang rumahnya.
'Untuk apa dia datang kemari! Bukankah, kemarin Vera sudah memberitahukan, kalau dia tidak akan masuk kampus lagi, dan dia juga melihat Vera menciumku. Benar-benar pria tidak tahu malu. Aku akan membuat perhitungan padanya,' gumam Dave dalam hati.
"Ver, kamu dengar aku, kan? Aku mau meminta maaf. Kamu cepat keluar, aku tunggu di depan," ulangnya lagi.
Tanpa ingin menjawab ucapan Putra, Dave langsung mematikan panggilannya dan menghapus riwayat panggilan yang berada di ponsel istrinya.
'Aku yang akan menemuimu, bukan Vera,' gumam Dave dalam hati.
"Aku pikir, Mas Dave sudah berangkat ternyata belum," sindir Vera berjalan melewati suaminya dan membuka lemari pakaiannya.
"Aku mengurungkan niatku untuk ke kantor. Dan aku akan melihatmu belajar. Aku ingin tahu, seberapa besar otakmu berpikir, agar tidak terus-terusan di bodohi atau di racuni oleh ucapan atau janji manis seorang pria!"
"Otakku memang tidak sepintar otak Mas Dave. Tapi, aku bisa meluluhkan banyak hati pria di luar sana, melalui kecantikanku, ini," jawab Vera mengedipkan salah satu matanya, dan mengambil dress selutut, membuat Dave mendesssah kesal.
__ADS_1
"Pakai yang ini saja. Aku tidak mau tubuhmu menjadi tontonan dosen itu!" ujar Dave, yang mendapat gelengan dari istrinya.
"Tidak mau, Mas! Aku mau memakai ini. Lagi pula, kenapa aku tidak di bolehkan memakai pakaian ini,"
"Sudah aku bilang, aku tidak mau tubuhmu menjadi tontonan dosen tua itu!"
"Dan ingat! Aku memperkenalkan diriku, sebagai Kakakmu. Jangan sampai--"
"Sungguh? Akhirnya, aku masih aman. Aku bisa mencuri perhatian salah satu dosen tertampan di kampus. Kebetulan besok, dia bertugas mengajarku. Terimakasih, Mas Dave. Kamu memang suami baik. Yang suka nya mengancam dan memberi hukuman," ujar Vera, memakai pakaiannya di depan lemari yang bertepatan di samping Dave.
Glek ...
Dave menelan susah salivanya saat melihat tubuh istrinya yang polos.
"Jangan tergoda, aku mau belajar!" ancam Vera, saat melihat suaminya menatapnya dengan tatapan lapar, 'Rasakan kamu, Mas! Memangnya enak, menahan hasrat hihihi ...,' gumam Vera dalam hati.
__ADS_1
Bersambungš