
"Mas, kamu tidak satu pemikiran denganku dan Mas Excel. Tempat ini sudah lama tidak di tempati dan banyak debu yang menempel. Kamu juga tahu sendirikan ... rumahmu ini terdiri dari dua lantai. Mana mungkin, aku tidak takut, Mas! Aku tahu, mereka tidak akan mengganggu kita. Tapi, aku tetap merasa takut saja, Mas!" jawab Vera membuat Dave terkekeh.
"Sudahlah. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan panggilkan beberapa pelayan untuk membantumu di rumah. Tapi jangan beritahu Excel dulu. Aku berniat mengerjai Excel!" ujar Dave.
"Mengerjai? Mengerjai seperti apa, Mas? Beritahu aku, dong! Aku juga penasaran dengan rencana mas Dave!" jawab Vera penasaran.
"Jadi, seperti ini. Aku akan ceritakan semuanya padamu. Tapi, kamu tidak boleh memberitahukan semua ini ke Excel. Aku mau tahu, bagaimana ekspresi wajah Excel yang ketakutan!" ujar Dave lagi.
"Hem, aku berjanji, Mas! Tapi cepat beritahu aku. Apa rencanamu!" titah Vera lagi.
"Aku akan mengundang beberapa pelayan untuk membantumu tanpa sepengetahuan Excel. Aku akan suruh beberapa asisten rumah tangga untuk masuk dari pintu belakang. Ya, seperti biasa ... Excel akan terkejut karena tanpa ada hujan atau petir. Tiba-tiba dia melihat beberapa asisten rumah tangga yang sedang mengerjakan tugasnya masing-masing. Bukankah, semua itu terlihat seperti hantu. Excel berpikir, jika mereka semua adalah hantu. Hantu penjaga rumah ini!" ucap Dave yang mendapat cubitan kecil dari istrinya.
"Mas, kamu mulai jahil, ya! Jangan seperti itu, aku tidak setuju. Kasihan Mas Excel. Dia bisa pingsan, Mas!"
"Biarkan saja. Sekali-kali kamu harus melihat ekspresi Excel."
"Kalau dia marah dan pergi dari kehidupan kita bagaimana, Mas?" tanya Vera yang mendapat gelengan kecil dari suaminya.
"Tidak mungkin, Ver! Aku tahu bagaimana sikap dan karakter Excel. Dia tidak mungkin pergi!" jawab Dave menyakinkan istrinya. "Sekarang, kamu istirahat dulu. Oh, iya. Ini ponselmu. Tapi kamu matikan saja ponselmu. Biar aku belikan ponsel terbaru untukmu. Aku takut, ponsel lamamu ini bisa di lacak oleh pria itu." titah Dave.
"Terimakasih, ya, Mas! Kalau kamu bosan denganku. Atau kamu sudah menemukan wanita lain selama aku tidak ada, kamu bisa kembalikan aku ke kak Zena. Aku tidak apa-apa." ucap Vera tiba-tiba.
"Kau gila?" ucap Dave tak percaya. "Mana mungkin, aku mengembalikan kamu dalam posisimu yang sedang hamil!"
"Iya, aku takut saja, Mas. Aku takut, di saat aku pergi ... kamu asik dengan wanita yang pernah kita temui di rumah sakit." jawab Vera sambil memaksakan senyumnya.
"Itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin berkhianat. Aku bukan sepertimu, Ver! Aku adalah tipe pria yang setia walaupun aku tahu ... kalau istriku berselingkuh." ujar Dave tegas.
__ADS_1
"Benarkah? Aku belum percaya. Tidak ada kata cinta di dalam pernikahan kita, Mas!" ucap Vera.
"Itu menurutmu, bukan menurutku!" ketus Dave. "Sudahlah, istirahat saja. Aku akan meminta Excel untuk menyiapkan makan siang. Kau lapar, kan? Aku tidak mau, anakku kelaparan."
"Mas, aku sedang bicara serius. Pernikahan kita tanpa cinta. Jadi, untuk apa kamu mempertahankan pernikahan ini terlalu lama!" kesal Vera.
"Turuti semua permintaanku. Istirahatlah dan Excel akan menyiapkan makan siang untukmu. Aku harus menghubungi beberapa anak buahku untuk datang ke sini. Aku tidak mau, kau hilang lagi!"
"Hem, pergilah!" titah Vera membuat Dave berjalan keluar kamar.
Setelah berada di luar kamar, Dave melihat Excel yang tengah duduk di meja makan.
"Carilah makan siang untuk Vera. Aku tidak mau dia kelaparan!" titah Excel.
"Tapi jawab ucapanku dengan jujur. Kau bercanda, kan? Kau tidak akan menjadikanku pelayan di rumah ini. Kau tidak gila kan, Dave?" tanya Excel dengan raut wajah seriusnya.
"Aku tidak bisa mencari asisten rumah tangga dalam waktu dekat ini. Jadi, mengertilah!" titah Dave.
"Jangan!" tolak Dave.
"Kenapa, Dave? Aku akan cari asisten rumah tangga yang sangat profesional. Kau tidak perlu khawatir!" rayu Excel. 'Dari pada aku yang menjadi pelayan. Lebih baik, aku saja yang carikan pelayan untuk rumah ini!' batin Excel.
"Aku tidak mau, keberadaan kita tercium oleh pria itu. Aku tidak mau, Vera di culik lagi. Jadi, bekerjasamalah. Bukan hanya kau saja yang membereskan rumah ini. Tapi kita semua. Aku akan membantumu!"
"Hem, selalu saja. Kita ambil dari yayasan yang terkenal, Dave! Kau tidak perlu khawatir, pria itu tidak mungkin tahu keberadaan kita!" rayu Excel lagi.
"Kau pernah bilang, kalau dia pria yang licik. Dan aku tidak mau, kelicikannya membuatku kehilangan Vera lagi! Sekarang, tugasmu cuma satu! Carikan makan siang untuk Vera. Aku tidak mau dia sakit, dia sedang hamil anakku!" titah Dave, "Dan satu lagi, pakai masker atau ganti pakaian dengan pakaian yang lusuh."
__ADS_1
"Apa! Aku di suruh pakai pakaian lusuh? Memangnya, aku mau mengemis? Tidak mau, aku ini mau pergi mencari makanan bukan mengemis. Kalau ada wanita cantik yang tertarik padaku jadi tidak tertarik padaku karena pakaianku yang lusuh, bagaimana? Kau mau tanggung jawab, ha! Siapa tahu, aku bertemu dengan jodohku!" kesal Excel.
"Sudahlah, turuti semua permintaanku. Ini demi kebaikan kita semua!"
"Tapi kita tidak punya pakaian lusuh, Dave!" kesal Excel.
Dave menatap sekilas penampilan sahabatnya. 'Lepas jasmu dan pakai kemeja saja. Pakai celana pendek jangan celana panjang. Dan satu hal lagi, rambutmu perlu di acak-acakan sedikit! Rambutmu tidak boleh terlalu rapih. Pakai kacamata juga," ucap Dave panjang lebar.
"Hasilnya akan terlihat aneh. Aku seperti orang yang tidak mempunyai style!" kesal Excel.
"Kau ingin calon keponakanmu lahir dengan selamat, kan?" tanya Dave.
"Tapi tidak seperti ini juga, Dave!" ketus Excel. "Tapi, aku akan berbaik hati, aku akan menerima semua saranmu."
"Memang sahabat terbaikku. Cepat pergi!" usir Dave.
"Memangnya, kau mau aku belikan makanan apa?" tanya Excel membuat Dave kembali memutar otaknya.
"Kira-kira, makanan kesukaan Vera apa saja? Dan kau bisa membelinya!" jawab Dave.
"Aku bukan suaminya, dan aku tidak tahu apa saja makanan kesukaan istrimu itu!" jawab Excel kesal.
"Belikan empat sehat lima sempurna. Dan satu lagi, bukankah ... kau lihat pria itu sedang mengantri bakso. Lebih baik, kau beli itu juga." titah Dave.
"Lalu, apalagi?" tanya Excel.
"Beli sekalian su su untuk ibu hamil." jawab Dave.
__ADS_1
"Lalu, apalagi!"
"Sudahlah. Jangan terlalu banyak. Sekalian beli sayur-sayuran agar kulkas kita penuh. Biar aku yang membersihkan kulkasnya!" ujar Dave.