Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 51


__ADS_3

"Berpikirlah, Ver! Berpikirlah, sekarang Putra pasti marah dan kecewa denganmu," gumam Vera.


Setelah 30 menit berada di dalam kamar mandi, Akhirnya Vera keluar dengan handuk yang melilit ditubuhnya, "Bagaimana bisa, aku menemui Putra dalam kondisi seperti ini? Aku harus memakai pakaian berkerah tinggi untuk menutupi jejak kepemilikan Mas Dave," gumam Vera menjatuhkan bokongnya di kursi meja riasnya.


"Oh iya, di mana ponselku! Aku lupa mengeceknya," sambungnya lagi berjalan menuju ruang ganti dan menyalakan ponselnya.


Setelah ponselnya menyala, Vera tidak melihat panggilan dan notif pesan yang masuk ke ponselnya, hanya panggilan dan pesan yang semalam yang belum sempat dia balas.


"Put, maaf ... semalam aku ketiduran," send Putra.


Tak berselang lama centang dua itu berubah warna dan seketika, ponselnya bergetar.


"Hallo Put," ucap Vera setelah menggeser tombol hijaunya.


"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Putra cemas, "Kenapa, tidak membalas pesanku?" sambungnya lagi.


"Aku ketiduran, Put!" ujar Vera yang berusaha bersikap tenang.


"Ya sudah, aku sudah di dalam perjalanan ke arah rumahmu. Sebaiknya, kamu tunggu aku. Kita berangkat ke kampus bersama," titah Putra membuat Vera terkejut.


"Apa!" pekik Vera, "Kenapa tidak memberitahukan ku dulu, Put!" sambungnya lagi.


"Memang kenapa? Aku berhak menjemput kekasihku sendiri. Santai saja, aku akan meminta izin pada pria itu," jawab Putra santai.


"Tidak, eh maksudku jangan," ucap Vera gugup, "Kita menjalani hubungan ini secara diam-diam. Jika, kamu menjemput dan meminta izin pada Mas Dave, semuanya akan terbongkar," sambung Vera.


"Tak apa terbongkar, sayang. Agar dia tahu, jika kau milikku. Oh iya, Ayahku besok atau lusa tiba di sini. Aku harap, kamu bisa bertemu dengan beliau," ucap Putra, "Sekarang keluarlah, aku sudah sampai di depan gerbang rumahmu, atau aku masuk saja?" tawar Putra membuat Vera menganga. Vera beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kaca kamarnya.


"Put, lebih baik, kau pergi saja. Aku akan diantar oleh anak buah Mas Dave, jangan membuat masalah baru lagi," pintar Vera saat melihat mobil kekasihnya terparkir di dekat rumahnya, "Put, aku mohon!"


"Kenapa? Okeh, aku akan masuk dan meminta izin pada pria itu," titah Putra keluar dari mobilnya.


Melihat kekasihnya keluar dari mobilnya, Vera semakin cemas dan gugup, dia mematikan ponselnya dan memutar tubuhnya.


Di saat dia memutar tubuhnya, terlihat suaminya yang baru saja tiba di kamar.

__ADS_1


"Mas Dave ...." panggil Vera berjalan menghampiri suaminya.


Dave mengernyitkan keningnya di saat istrinya merengek manja.


Tanpa ingin menjawab rengekan istrinya, Dave justru menjatuhkan bokongnya di sofa, tangannya mengambil ponsel yang berada di saku jasnya.


'Baiklah, mungkin ... jika aku bermain sekali lagi di ranjang, Mas Dave tidak akan menemui Putra. Biarkan saja aku telat, yang terpenting mereka tidak bertemu, dan hubunganku dengan Putra tidak akan ketahuan,' batin Vera menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Dave.


"Cepat pakai pakaianmu, kau bisa telat ke kampus!" titah Dave saat istrinya tiba-tiba berada dipangkuannya.


"Tiba-tiba, aku menginginkannya lagi Mas, bolehkan ... kita bermain sekali lagi," ucap Vera, tangannya mulai melepas jas yang melekat ditubuh suaminya.


'Tak apa terlihat murahan di depan suami sendiri,' batin Vera tersenyum manis.


"Aku tidak mau! Sekarang bersiap-siaplah. Aku akan mengantarkan mu!" titah Dave menghentikan jemari istrinya yang mulai membuka kancing kemejanya.


"Yakin Mas? Padahal, aku yang akan memulai permainan ini," ucap Vera tersenyum tipis saat senjata suaminya sudah berdiri tegak, "Ya sudah, aku akan pergi," sambung Vera.


Belum sempat Vera beranjak pergi, handuk yang melilit ditubuhnya sudah terjatuh di lantai, "Kau yang memintanya," bisik Dave dengan suara seraknya.


"Aku. Aku akan memimpin permainan ini," jawab Dave.


Akhirnya Dave memimpin permainannya, matanya menatap lapar tubuh istrinya yang begitu menggoda.


"Kita bermain di sofa," ucap Dave membuat Vera menggelengkan kepalanya.


"Jangan Mas, kita bermain di ranjang," tolak Vera, 'Jika, bermain di sofa, Mas Dave bisa mendengar ketukan dari luar, dan aku tidak bisa membayangkan kejadian selanjutnya,' batin Vera.


***


Di luar gerbang, terlihat Putra sedang memaki dan mengumpat seorang pria muda yang tidak mengizinkannya masuk dan menemui Vera.


"Siapa kau! Cepat buka pintunya, aku sudah membuat janji dengan Vera!" teriak Putra dari luar gerbang.


"Tidak ada Vera! Dan aku tekankan lagi, jangan pernah menemui Vera lagi! Kau hanya masa lalunya," ketus Excel, tangannya disilangkan di depan dadanya.

__ADS_1


"Aku tidak ada urusan denganmu. Cepat buka pintunya!"


"Pak satpam, jangan pernah membukakan gerbang untuk pria semacamnya, jangan sampai Tuan Dave mengetahui semua ini. Biarkan ini menjadi rahasia kita," bisik Excel pada satpam rumahnya.


"Hei, buka! Sebenarnya siapa kau! Ada hak apa, kau melarang ku bertemu dengan Vera!" teriak Putra saat melihat Excel berjalan memasuki kediaman Vera.


"Pak, buka pintunya!" pinta Putra pada satpam.


"Maaf, saya hanya menjalankan perintah. Lebih baik, anda pergi!" titah Pak satpam kemudian masuk ke pos satpam nya.


"Siaal, brenggseekk! Berani-beraninya mereka mengabaikan ku!" kesal Putra berjalan dan masuk ke mobilnya. Berulang kali, Putra menghubungi kekasihnya, tapi panggilannya tidak diangkat satupun.


"Kemana lagi Vera! Seharusnya dia membantuku!" geram Putra melemparkan ponselnya ke sembarang arah.


***


"Mas sudah Mas, aku sudah lelah. Aku hanya menginginkan satu ronde saja," ucap Vera setelah melakukan penyatuan dengan suaminya, "Aku harus ke kampus Mas," sambungnya lagi di saat tubuh suaminya ambruk di atas tubuhnya.


Dave tersadar, dia segera bangkit dan menyelimuti tubuh istrinya yang polos, "Aku akan mengantarmu, cepat bersihkan dirimu," titah Dave kemudian memakai pakaian kembali.


"Mas Dave mau kemana? Apa Mas Dave mau ke kantor dalam keadaan seperti itu?" tanya Vera.


"Aku akan membersihkan tubuhku di kamar mandi lainnya, sekarang cepatlah bangkit," titah Dave.


Melihat suaminya keluar dari kamarnya, tiba-tiba ada perasaan hangat yang menjalar ditubuh Vera. Bayangan permainan di atas ranjang selalu terngiang-ngiang di pikirannya.


"Aku sudah gila, aku yang memintanya dulu. Oh iya, aku harus mengecek Putra," gumam Vera turun dari ranjang dengan tubuh yang tertutup selimut.


"Akhirnya, dia pergi juga. Maafkan aku, Put. Bukannya aku menolak, tapi kondisinya memang sudah berubah," ujar Vera berjalan menuju kamar mandi.


Di satu sisi, Excel melihat sahabatnya tersenyum saat keluar dari kamar dengan pakaian berantakan.


"Hari sudah siang, dan kau ... asik-asikan bermain kuda-kudaan dengan istrimu!" sindir Excel membuat Dave menghentikan langkahnya.


"Iri? Bilang!" ketus Dave berjalan dan masuk ke dalam kamar Excel.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2