
"Itu bukan urusan saya!" jawab Lord.
"Memang bukan urusanmu, tapi setelah ini hidupku yang hancur! aku akan--"
Drt ...
Drt ....
Di saat Vera sedang memaki Lord, tiba-tiba terdengar getaran ponsel Lord yang berada di saku depan kemejanya.
"Siapa?" tanya Vera saat melihat anak buah suaminya merogoh dan mengecek ponselnya.
"Tuan menelpon," ucap Lord membuat Vera menganggukan kepalanya.
"Bilang pada Mas Dave, aku sudah kembali ke kelas, please! aku janji, aku tidak akan menghilang atau kabur lagi," pinta Vera mengatupkan kedua tangannya di depan dada, "Aku berjanji, Lord!" sambungnya lagi.
"Maaf Nyonya, saya tidak bisa," jawab Lord kemudian menggeser tombol hijau di layar ponselnya.
"Hallo Tuan?"
"Bagaimana? apa dia sudah kembali?" tanya Dave dari sebrang sana.
"Sudah Tuan," jawab Lord menatap istri Tuan nya yang sedang memohon.
"Bagus, sekarang ... dia ada dimana?" tanya Dave.
"Ada di sebelah saya, Tuan!" jawab Lord membuat Vera menggeram kesal, "Apa anda ingin berbicara dengan Nyonya?" sambungnya lagi.
"Suruh dia ke kantorku sekarang juga. Bilang padanya, mulai hari ini dan seterusnya, dia akan kuliah di rumah. Dan urus semua termasuk dosen pembimbing istriku. Beritahu mereka, tentang kabar ini!"
"Baik Tuan,"
"Saya yang mengantar atau Tuan yang akan menjemputnya?"
"Aku sedang sibuk, kau saja yang mengantarkan dia kemari."
"Baik Tuan, Saya segera ke sana." jawab Lord kemudian panggilannya diakhir oleh Dave.
"Apa kata Mas Dave? dia tidak jadi menghukumku, kan?" tanya Vera cemas.
"Tidak ada yang menghukum Nyonya. Saya diminta Tuan untuk mengantarkan Nyonya ke kantor dan tidak perlu melanjutkan jam kuliah lagi," jawab Lord.
"Apa maksudmu, Lord? Aku masih ada beberapa mata kuliah!"
__ADS_1
"Tuan yang meminta, dan mulai sekarang ... Nyonya tidak perlu repot-repot datang ke kampus, karena Nyonya akan melakukan--"
"Jangan diteruskan, aku sudah tahu apa yang ingin kamu katakan, Lord!"
"Ini menurutku hukuman terbesar dalam hidupku, bagaimana aku mempunyai banyak teman, jika aku harus mendekam di dalam rumah. Aku juga tidak bisa membayangkan belajar berdua dengan dosen. Apa kata mereka, jika otakku pas-pass an?"
"Itu bukan urusan Saya, Nyonya. Anda telah membuat Saya kewalahan mencari keberadaan Nyonya!"
"Hei, siapa yang menyuruhmu mencariku! aku tidak perlu dicari. Aku bukan anak kecil lagi!"
"Tapi bagi Saya, Nyonya seperti bayi yang harus dijaga!"
"Kau! kau samakan aku dengan bayi? apa pikiranmu sudah gila, Lord! atau otakmu sudah geser! wanita cantik sebesar ini, kau samakan dengan bayi?"
"Matamu mungkin rabun. Setelah ini, aku akan antar kamu ke optik terdekat. Aku akan membelikan kacamata kuda untukmu!" ketus Vera berjalan keluar kampus.
"Nyonya, tunggu Saya ... Nyonya!" ucap Lord berjalan cepat di belakang istri Tuan nya.
"Di mana mobilmu?" tanya Vera setelah sampai di parkiran mobil.
"Saya tidak membawa mobil, tapi Saya membawa sepeda motor, dan kita bisa berboncengan menuju kantor Tuan," jawab Lord membuat Vera terkejut, dirinya shock saat melihat sepeda motor butut tahun 89an terparkir di deretan mobil mewah.
"Kau gila! memangnya Mas Dave tidak memberimu fasilitas semacam mobil? Masa iya, aku harus menaiki motor butut itu! Aku tidak mau, bagaimana jika di tengah jalan rambutku berterbangan dan berantakan. Lalu, bagaimana dengan sinar matahari yang menyengat, pasti kulitku langsung hitam. Aku tidak mau, lebih baik ... berikan aku uang untuk mencari taksi," titah Vera, tangannya menengadah di depan anak buah suaminya.
"Tidak ada Nyonya. Jika, Nyonya tidak mau berboncengan dengan saya, maka Nyonya bisa berjalan kaki menuju kantor Tuan," ucap Lord kemudian berjalan menuju motornya dan meninggalkan Vera di tempat.
'Percuma saja, aku mempunyai suami yang kaya raya, jika sekarang aku harus dijemput dengan kendaraan butut itu. Beruntung, kampus sepi dan tidak ada yang melihatku di jemput dengan motor butut milik Lord,' batin Vera berjalan menuju Lord yang sedang memakai helm nya.
"Pakai Nyonya," titah Lord memberikan helm bogo untuk istri Tuan nya.
"Harus? aku tidak mau, Lord! rambutku bisa berantakan. Lebih baik, kita naik taksi dan motor bututmu itu, kita tinggalin di sini. Kau bisa menghubungi teman atau dealer motor untuk memesan motor keluaran terbaru yang canggih," ujar Vera matanya menatap barang antik yang akan mengantarkan dirinya kepada suaminya.
"Saya tidak bisa, Tuan tidak memberikan uang jajan Nyonya pada saya, lagipula Nyonya belum pernah kan? menikmati sensasinya naik motor antik di jalanan?"
"Aku tidak mau tahu, aku mau naik taksi! jika kau tidak mau memberikan uang untukku, maka aku ... yang akan bicara pada Mas Dave!"
"Silahkan, saya sudah meminta semua taksi untuk tidak menerima orderan dari Nyonya," jawab Lord enteng. kakinya mulai menyela motor antiknya.
"Nyonya, tidak mau naik?" tanya Lord sekali lagi.
"Tidak, untuk apa aku naik motor butut seperti ini. Bisa-bisa ditengah jalan mogok dan merepotkan ku!" gerutu Vera menyilangkan kedua tangannya di depan dada dengan wajah dipalingkan ke sembarang arah.
"Yakin? Nyonya mau berjalan kaki menuju kantor Tuan?"
__ADS_1
"Aku akan meminta temanku, untuk mengantarkan ku!" jawab Vera ketus, 'Aku akan meminta Putra, dia kan bolos bersamaku. Jadi, pasti dia mau mengantarkanku ke kantor Mas Dave,' batin Vera kemudian berjalan menuju bangku di mana Putra berada.
"Nyonya mau kemana?" tanya Lord mematikan mesin motornya dan berjalan mengikuti langkah kaki istri Tuan nya.
"Jangan ikuti aku!" ketus Vera.
"Baik Nyonya, saya tunggu di parkiran mobil," ucap Lord menghentikan langkahnya.
Di saat Vera tengah mencari keberadaan kekasihnya, tiba-tiba dia melihat bayangan seseorang dibalik temboknya. Bayangan yang begitu jelas.
"Siapa di sana?" ujar Vera berjalan mendekat.
***
"Tuan, Nyonya tidak mau ke kantor menggunakan motor yang saya rental. Dia tetap kekeh ingin menaiki taksi atau meminta temannya untuk mengantarkan Nyonya ke kantor Tuan," ucap Lord setelah panggilannya tersambung dengan Dave.
"Teman? siapa temannya?" tanya Dave.
"Saya tidak tahu, Nyonya tidak memperbolehkan Saya mengikutinya, Tuan!"
"Bodoh cepat ikuti istriku."
"Baik Tuan, saya akan mencari keberadaan Nyonya sekarang." titah Lord, setelah itu panggilannya terputus oleh Dave.
'Arrrgkkhh ...."
"Aku mempunyai anak buah yang bodoh!"
"Tetapi tetap saja dipelihara!" timpal Excel cepat.
"Hei, ini ruangan atasanmu, seharusnya kau bisa lebih sopan dan menghargaiku!"
"Aku tidak tahu, apa maksudmu, Dave!"
"Maksudku kau ketuk pintu dulu, sebelum kau masuk!" pekik Dave semakin emosi.
"Selalu saja salah!" gumam Excel yang masih bisa di dengar oleh Dave.
"Biarkan saja, pria selalu salah, dan wanita selalu benar. Bukankah, itu--"
"Dave, aku tidak mau mendengar ocehanmu, lagi!" potong Excel meletakkan berkas dan berjalan keluar ruangan.
Bersambungš
__ADS_1