Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 104


__ADS_3

"Tapi, aku memang belum siap hamil, Mas! Aku pernah keguguran, dan semua itu karenamu." pekik Vera membuat Dave terdiam.


"Karenaku? Bukankah, aku sudah menggantinya? Aku pastikan kamu hamil!"


"Enak saja, memang kamu dokter, Mas! Sudah sanah pergi, kamu itu bau! Belum mandi!" ketus Vera.


"Bau? Enak saja, aku sudah mandi di kamar Excel." jawab Dave tak kalah ketus, dia mengambil ponselnya dan menghubungi dokter pribadinya.


"Mau apa, Mas?" tanya Vera saat melihat suaminya menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Telfon dokter! Aku akan memastikan, jika kamu hamil anakku!"


"Sudah aku bilang berulang kali, aku tidak hamil, Mas? Cepat, kamu pergi! Kamu bau, kamu belum mandi. Tubuhmu bau, dasar pria jorok. Aku tidak mau tidur denganmu!" kesal Vera menghimpit hidungnya dengan kedua jarinya.


"Berisik sekali!"


"Pergi! Atau aku yang pergi. Kamu itu bau, Mas! Kamu tahu, arti bau, kan? Badanmu, bau. Aku tidak tahan dengan bau tubuhmu, bisa-bisa aku muntah, Hoek!"


"Aku tidak perduli, aku tetap menghubungi dokter!"

__ADS_1


"Berani, kamu menghubungi dokter, aku akan pergi dari rumah ini. Aku pergi dari sini dan pergi menemui Putra!" ancam Vera.


Dave berjalan keluar kamar dan meninggalkan istrinya sendiri.


Brak!


pintu kamar tertutup keras. 'Apa-apaan ini, kenapa dia jadi pemberani seperti ini!' batin Dave kesal. Dia menuruni tangga dan menemui Excel yang sedang bersantai di ruang tamu.


"Ada apa lagi?" tanya Excel menggeser pantatnya.


Dave menjatuhkan pantatnya di samping Excel, "Mood wanita susah di tebak. Baru saja, dia patuh takut padaku, tadi sudah berubah saja. Perubahannya seperti 360 derajat. Ketus, dingin, dan sama sekali tidak takut padaku." gumam Dave, membuat Excel menautkan ke dua alisnya.


"Hem, siapa lagi kalau bukan dia? Memangnya, aku mempunyai wanita lain selain dia?" kesal Dave.


"Ya, aku pikir seperti El dan--"


"Hentikan ucapan kosongmu. Bagaimana, kalau dia dengar? Bisa-bisa dia semakin marah padaku." potong Dave cepat, "Tapi tunggu dulu, kelihatannya ... rencana kita berhasil!"


"Rencana? rencana apa?" tanya Excel menatap wajah Dave dari samping.

__ADS_1


"Vera hamil!"


"Apa! Kau serius, kan!" pekik Excel.


"Ini baru perkiraanku saja, karena dari gejalanya, seperti tanda-tanda orang hamil. Apa jangan-jangan moodnya berubah, karena dia hamil? Excel! Aku akan menjadi Ayah." ucap Dave bahagia.


"Hei, sebaiknya jangan bahagia, dulu. Kamu periksakan istrimu dulu. Jangan berasumsi terlalu tinggi! Bisa saja, istrimu masuk angin biasa!"


"Tapi feeling ku mengatakan, jika Vera hamil. Akhirnya perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Aku sukses membuatnya hamil!"


"Lalu, untuk apa kamu di sini? Pergilah! Dan menari bersama istrimu merayakan kehamilan istrimu!" sindir Excel membuat Dave berdecak sebal.


"Aku di usir, karena tubuhku bau. Memangnya, tubuhku bau? Coba, kau ciuum!" titah Dave.


"Ish, untuk apa aku menciuum mu! Aku masih normal!". ketus Excel.


"Siapa yang bilang, kau gila! Aku juga tahu kau normal. Aku hanya memastikan saja, apa yang dikatakan Vera benar atau salah! Jika benar, maka air di kamar mandi mu perlu di kuras. Agar jernih!" ketus Dave.


"Aku tidak mau. Suruh bibi saja yang menciuum mu!" tolak Excel yang lagi dan lagi membuat Dave mendengus kesal.

__ADS_1


"Kau!, Mau aku pecat, ha!" ancam Dave.


__ADS_2