Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Bab 132


__ADS_3

"Hei, jangan tatap aku!" ucap Vera membuyarkan lamunan putra.


"Kamu cantik, Ver!"


"Semua wanita cantik! Aku boleh pinjam ponselmu?" lirih Vera meletakkan styrofoam yang berisi siomay di pangkuannya.


"Untuk apa? Aku tidak suka kamu menghubungi pria itu! Aku membebaskanmu bukan berarti, aku mengizinkanmu menghubungi dia!"


"Tapi, aku ingin melihat keadaannya. Apa luka Mas Dave sudah sembuh? Mau bagaimana pun, dia suamiku. Kita masih terikat ikatan suci."


"Dia baik-baik saja! Jangan mencoba-coba hubungi pria itu lagi. Atau, aku kurung kamu di dalam kamar!" ancam putra yang mendapat gelengan kecil dari Vera.


"Jangan, jangan kurung aku! Aku tidak akan menghubungi dia, tapi kamu boleh suruh anak buahmu untuk mengirimkan foto Mas Dave dan Mas Excel yang terbaru? Kalau mereka sudah membaik, aku janji ... aku tidak akan membahas mereka lagi! Aku mencemaskan mereka!" pinta Vera memohon.


"Tidak ada foto atau lainnya!"


"Kalau tidak ada berarti kamu berbohong, Put! Aku tidak bisa tinggal satu atap dengan pembohong sepertimu. Pasti kamu sudah mencelakai Mas Dave, kan?"


"Tidak begitu, Vera! Baiklah, aku akan minta anak buahku untuk memantau keadaan mereka. Dan setelah itu, kamu harus janji, jangan pernah membahas mereka di depanku! Karena aku benci mereka!"


"Apa salah Mas Dave, Put? Dan apa salahku juga? Kenapa kamu melakukan semua ini ke kita? Apa yang dibanggakan dariku juga, Put? Aku ini sudah menikah dan aku wanita bersuami. Seharusnya kamu bisa cari wanita lain yang lebih segalanya dari aku! Mau sampai kapan pun, kamu tidak bisa mendapatkanku! Menikahlah dengan Putri, mungkin kamu akan mendapatkan kebahagiaan darinya." ujar Vera.


"Aku tidak mencintainya. Yang aku cintai hanya kamu bukan wanita lain. Aku dan dia hanya berteman, aku hanya memanfaatkan dia saja!" jawab Putra dengan tegas.


"Berarti, kamu juga memanfaatkanku juga?"


"Aku mencintaimu tulus, Ver! Kita sudah lama kenal. Dan kita sudah menjalin hubungan yang bisa di katakan orang, hubungan kita terlalu bebas."

__ADS_1


"Kondisinya sudah berubah. Aku harap, matamu bisa terbuka dan melihat situasi ini. Aku sudah menikah dan aku tidak mungkin bersamamu lagi!"


"Mungkin sekarang, kamu bisa bicara seperti itu, tapi suatu saat nanti? Aku akan meluluhkan hatimu lagi, kita sama-sama seperti dulu, aku dan kamu menjadi pasangan yang sangat serasi."


'Tidak mungkin. Dia benar-benar sudah gila. Aku tidak mau menikah dengan orang gila sepertinya!' batin Vera menatap sekilas Putra, "Siomay nya sudah habis. Kapan kita sampai?" tanya Vera mengalihkan pembicaraannya.


"Memangnya kenapa? Sudah tidak sabar sampai rumah, ya?"


"Aku ngantuk, Put! Mungkin karena aku makan terlalu banyak!" jawab Vera mengusap perutnya yang rata. 'Aku tidak bisa menyembunyikan calon anakku selamanya dari putra. Aku harus kabur meminta bantuan pada Kak Zena. Hanya dia satu-satunya orang yang bisa aku mintai bantuan di kota ini!' batin Vera.


"Sebentar lagi kita sampai, kamu tidak perlu khawatir!" titah Putra.


Setelah beberapa menit, taksi yang ditumpangi Putra juga Vera berhenti tepat di halaman rumah Putra.


Dengan hati-hati, Putra mengandeng tangan Vera turun dari taksi.


Vera menjatuhkan pantatnya di sofa sambil memilih beberapa makanan yang akan di makan dalam kamarnya.


"Aku bawa dua makanan ini, ya!" tunjuk Vera ke makanan ringan.


"Kamu mau bawa makanan ini kemana, Ver?" tanya Putra.


"Ke kamar!"


"Kenapa tidak makan bersamaku saja?" tanya Putra.


"Tidak, eh maksudku bukan seperti itu. Kamu tahu sendirikan ... kalau aku sudah kenyang! Maka dari itu, aku mau meletakkan makanan ini di kamar. Siapa tahu, kalau aku terbangun dari tidurku, perutku kelaparan. Jadi, aku tidak perlu merepotkanmu mencari makananku!" jawab Vera dengan senyum manisnya, 'Aku hanya takut, makanan ini di beri racun lagi! Aku harus bisa menjaga makanan ini dari Putra! Dan tempat teraman hanya di kamarku!' batin Vera.

__ADS_1


"Biar aku letakkan di kulkas! Kamu tidak pernah merepotkanku, Sayang!" ucap Putra mengambil dua bungkus makanan yang di pegang Vera.


'Aku muak sekali mendengar sebutan sayang darinya! Tapi, aku tidak boleh membencinya. Aku tidak mau, anakku kelak akan mirip seperti Putra!' batin Vera, "Aku letakkan di kamarku aja, ya!" ujar Vera.


"Kamu istirahat saja! Biar aku yang simpan semua makanan ini. Setelah kamu bangun tidur, kamu tinggal panggil aku. Aku akan siapkan makan malam mu! Tapi sebelum kamu tidur, kamu mandi dulu!" titah Putra.


"Iya, aku mau mandi! Tubuhku gerah sekali. Tapi tunggu sebentar!" ucap Vera berjalan masuk ke dalam kamarnya, 'Aku sempat melihat karet di laci meja.' batin Vera membuka laci meja dan melihat beberapa karet, 'Aku bisa gunakan karet ini untuk mengikat makananku. Kalau pun karet ini berubah posisi, itu artinya aku tidak boleh makan makanan ini!' batinnya lagi.


Vera berjalan keluar kamar sambil membawa karet. Dia mengikat makanannya dengan beberapa karet, membuat Putra yang melihatnya kebingungan.


"Kenapa semua makanan ini di ikat menggunakan karet, Ver?" tanya Putra.


"Kita perlu jaga-jaga, Put! Takut ada lalat masuk! Kamu mau, makanan ini basi? Tidak, kan? Jadi, aku mengikatnya kencang! Kamu mau makananmu di ikat juga?" tanya Vera yang mendapat gelengan kecil dari putra.


"Tidak perlu. Jika aku lapar, aku repot membukanya. Lebih baik, makananku di biarkan seperti itu! Lagian, dari sana nya juga sudah di ikat."


"Kan biar tidak basi, Put! Kamu mau makanan kita basi?" kekeh Vera, 'Kamu tidak akan bisa memasukkan semua jenis racun ke dalam makananku ini, Put!' batin Vera.


"Selesai! Sekarang, aku mau simpan makanan ini di kulkas, tapi suhu nya di atur, ya! Jangan terlalu dingin!" pinta Vera berjalan dan memasukkan makanannya ke dalam kulkas.


'Sikap Vera kenapa tiba-tiba berubah?' batin putra menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


'Nah, aku taruh dengan posisi seperti ini. Jika posisi ini berubah, maka seperti ucapanku di awal. Aku tidak boleh makan makanan itu!' batin Vera menutup kulkasnya. "Kalau begitu, aku ke kamar dulu, ya! Aku mau mandi lalu tidur!" titah Vera berjalan menuju kamarnya.


Melihat kepergian Vera, Putra semakin geleng-geleng kepala, 'Apa karena keguguran, jadi sikap dan sifatnya berubah? Padahal, di taman Vera terlihat ceria, tapi sekarang di rumah ... dia terlihat sangat waspada!' batin putra membuka kulkas dan melihat makanan milik Vera lalu menutupnya kembali.


Vera terkikik saat melihat ekspresi putra yang kebingungan dari balik tembok. 'Semuanya beres! Biarkan dia berpikir kalau aku gila, hahaha!' batin Vera melanjutkan langkahnya ke kamar

__ADS_1


__ADS_2