Istri Diatas Ranjang

Istri Diatas Ranjang
Episode 46


__ADS_3

"Silahkan saja. Ini kesalahan anda, anda yang menampar dan menarik rambut saya sampai seperti ini!" timpal pegawai resepsionis.


"Jika, mulutmu bisa di jaga, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini!" ketus Vera, dia mengambil ponsel dan menelfon suaminya.


"Sekarang, bawa dia ke kantor polisi, Pak. Dan saya, akan bersaksi bahwa wanita itu telah melakukan tindakan kekerasan terhadap saya," ujar pegawai resepsionis.


"Tidak bisa, aku akan menghubungi seseorang, dan aku pastikan ... kau di pecat!" geram Vera, hatinya mulai gelisah saat panggilannya tidak diangkat oleh suaminya


'Kemana dia, kenapa telfonku tidak diangkat!' batin Vera sambil menggigit ujung jarinya.


"Bawa dia, sekarang juga, Pak!" pekik pegawai wanita.


"Baik Bu," jawab Pak satpam langsung meraih lengan Vera.


"Tunggu sebentar! Kalian tidak bisa membawaku sesuka hati kalian, apa kalian tidak tahu, aku datang bersama siapa, ha!" pekik Vera menepis tangan Pak satpam.


"Kami tahu, kau datang dengan siapa, tapi keadilan harus tetap di tegakkan," ujar wanita tersebut, "Benar tidak, Pak!"


"Benar itu!" jawab Pak satpam.


"Lord, tolong aku, Lord. Aku janji, aku tidak akan berbohong lagi, asalkan kau mau menolongku sekarang juga," pinta Vera pada anak buah suaminya.


"Tidak mau," ketus Lord menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan wajahnya dia palingkan tak ingin memandang istri Tuan nya.


"Please, Lord! Kali ini ... saja," pinta Vera menangkupkan kedua tangannya di depan dada.


Setelah menimang dan mendapat pesan dari Tuan bossnya, akhirnya Lord meminta security itu melepaskan Vera yang tengah menangis.


"Lepaskan dia, sekarang juga!" titah Lord pada Pak satpam/security.


"Ta-tapi--"


"Lepaskan saja, ini perintah dari Tuan Dave. Atau, kau ingin dipecat, hem?" ujar Lord membuat senyum Vera terbit.


'Dia tidak mungkin membiarkanku dalam bahaya. Terimakasih, Mas Dave,' batin Vera beranjak dari tempat duduknya.


"Ya sudah, aku mau pergi," ujar Vera kemudian berjalan keluar diikuti oleh Lord di belakangnya.

__ADS_1


"Nyonya, lebih baik anda masuk dan mengucapkan kata terimakasih kepada Tuan, karena bagaimana pun ... Tuan sudah menyelamatkan nyawa anda," ucap Lord membuat langkah Vera terhenti.


"Aku akan mengucapkannya nanti, setelah sampai di rumah!" jawab Vera.


"Nyonya!" teriak Lord menyusul langkah kaki istri Tuan nya. Di saat Lord sedang mengejar istri Tuan nya, tiba-tiba ponselnya bergetar, dengan cepat tangan Lord merogoh dan mengeluarkan ponsel miliknya.


"Hallo Tuan?" jawab Lord setelah panggilannya terhubung oleh Dave.


"Di mana dia? Kenapa, sampai sekarang di belum juga kemari?" tanya Dave yang tengah berdiri di balkon ruangannya.


"Maaf Tuan, rencana kita gagal. Nyonya sudah pergi meninggalkan kantor, dia bilang ... akan--"


"Bodoh! Apa yang kau kerjakan sampai-sampai gagal, ha!" pekik Dave, pandangannya tertuju pada bawah kantor yang memperlihatkan wanita cantik sedang menunggu taksi online nya.


"Aku tidak mau tahu, ikuti dia. Aku tidak mau terjadi sesuatu padanya," sambung Dave kemudian mematikan telfonnya.


"Kenapa Dave? Apa rencanamu gagal?" tanya Excel yang baru saja tiba dan mendengar sedikit percakapan antara bos dan anak buahnya.


Dave menoleh ke belakang, dia melihat seorang pria yang sedang tertawa mengejeknya.


"Itu bukan urusanmu," ketus Dave melangkahkan kakinya dan melewati seseorang yang berstatus sahabat serta sekertarisnya.


"Dave, lebih baik ... kita ikuti saja istrimu. Lagi pula, pekerjaan kita sudah selesai semuanya," ucap Excel, "Daripada kamu di sini, uring-uringan tidak jelas. Lebih baik, kita ikuti saja istrimu. Aku tahu, kau sudah mempunyai perasaan pada istrimu, kan?" sambung Excel yang tengah berdiri di samping Dave yang sedang terduduk.


"Tidak perlu. Biarkan dia bahagia, dan aku tidak mempunyai perasaan padanya, justru aku mau memberinya pelajaran," jawab Dave beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju balkon kembali.


"Dia masih di depan, Dave!" ucap Excel melihat pandangan mata Dave yang sedang menatap depan kantornya.


"Dia? Aku tidak memikirkannya--"


"Sudah Dave, aku tahu ... kau gelisah bukan?" ucap Excel, "Kau gelisah saat aku menceritakan data diri pria yang bernama Putra, yang kita ketahui ... mantan kekasih dari istrimu?" sambung Excel.


"Tidak, aku tidak gelisah. Aku akan membiarkan dia mengetahui semuanya sendiri, aku tidak mau terlibat masalah baru dengannya. Dan aku sudah memerintahkan Lord untuk mengawasinya," titah Dave matanya fokus pada istrinya yang sedang menunggu taksi online nya.


"Yakin, tidak mau menghampiri dan mengajaknya pulang bersama?" goda Excel menaik turunkan alisnya. Bahkan Excel sudah mengikis jarak diantaranya.


"Daripada berbicara tidak jelas. Lebih baik, kau pergi dan lanjutkan pekerjaanmu! Aku tidak butuh nasihat atau saran darimu!" ketus Dave.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan kembali untuk bersantai. Dan mulai hari ini, aku akan tinggal di rumahmu," ujar Excel mengejutkan Dave.


"Siapa yang mengizinkanmu!" jawab Dave, wajahnya sudah merah padam, dan tangannya sudah meremas pembatas balkon yang terbuat dari besi tersebut.


"Tante Mika, aku sudah menyuruhnya," ucap Excel kemudian berjalan keluar ruangan sahabatnya.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, Dave segera berjalan menuju lantai dasar, di mana terdapat istrinya yang sedang menunggu kendaraan umum.


'Jika, Lord gagal, maka ... aku akan beraksi sendiri. Mempunyai anak buah yang sama bodohnya membuatku darah tinggiku seketika kumat,' batin Dave.


Setelah sampai di pintu lobby, Dave yang hendak menghampiri istrinya, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Dia melihat istrinya berjalan menuju mobil putih yang baru saja tiba di depan kantornya.


'Siapa dia?' batin Dave penasaran.


Melihat istrinya masuk ke dalam mobil tersebut, hati Dave semakin tidak karuan. Rasa emosi dan amarah yang begitu besar seketika muncul di tubuhnya.


Dengan cepat, Dave berjalan menuju mobilnya mengikuti kemana istrinya pergi.


'Ini bukan jalan pulang. Kemana dia?' batin Dave.


Di dalam mobil putih yang Vera tumpangi, terlihat seorang pria yang sangat dirindukan sedang menyetir mobilnya pelan.


"Kenapa jalannya pelan? Kapan kita sampai, jika kita berjalan seperti siput?" ucap Vera menatap seseorang tersebut.


"Biarkan saja, memangnya tidak boleh bermesraan dengan wanita yang aku cintai, hem?" jawab Putra menggenggam erat tangan Vera.


"Kenapa telfon ku tidak diangkat?" tanya Vera.


"Emm ... aku fokus menyetir, jadi ... aku tidak bisa mengangkat telfonmu, sayang," jawab Putra sedikit gugup.


"Kamu tidak bohong kan? Kamu benar kan? Kamu gak jalan sama wanita itu kan?" tanya Vera mencecar beberapa pertanyaan.


"Tidak, mana berani aku bohong, sayang, " jawab Putra,


"Serius, tapi kenapa aku melihat ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku?" ucap Vera menyelidik.


"Sembunyi? Memangnya aku menyembunyikan apa padamu, sayang?" ujar Putra mengusap rambut panjang Vera.

__ADS_1


Bersambung😘


__ADS_2