
**πππππ
Mila yang masih berpikir keras tetap tak mengingat apapun, sampai pada akhirnya ia kembali tertidur dengan nyenyak nya. Habil yang masih belum tersadar pun masih mengarungi mimpi indahnya sampai suara ponsel nya membangunkan tidur nyenyak nya.
Diraihnya ponsel itu tertera panggilan dari Marko.
"hem" ucap Habil yang hanya berdehem saja
"pagi ini akan di lanjutkan meeting kemarin, mereka menunggu di ruangan jam 9" jawab Marko
"kenapa mendadak begini?" gerutu Habil sungguh ia lelah hari ini
"kan kemarin kau yang suruh di atur ulang bos, aku sudah mengaturnya tapi kau malah protes" ucap Marko santai
"baiklah, aku akan berangkat sebentar lagi" balas Habil.
Habil pun bergegas mandi dan memakai pakaian formalnya, mata Habil memicing kala melihat lehernya tepat di bawah telinga merah dan nyaris membiru.
Diraba nya leher itu dan ia tersenyum, lalu Habil mengambil kotak obat dan di tempelkan plester untuk menutupinya.
__ADS_1
Sebelum berangkat ia mengok dan mendekati sang istri yang ternyata sudah tidak demam lagi. Habil meninggalkan note pesan untuk sang istri lalu ia berangkat.
Habil menapakkan kaki panjangnya di lantai bawah kantor, kehadirannya di sambut oara karyawan yang memang sudah sibuk berlalu lalang.
Habil segera masuk ke dalam ruang meeting dan menyapa para petinggi yang bekerja di perusahannya.
Rapat berjalan lancar, tapi ada yang lain dari tatapan para karyawan Habil di ruangan itu. Mereka mengulum senyum kala melihat leher sang bos di tambal sebuah plester. Habil yang menyadarinya hanya menarik samar senyumnya.
"baiklah, rapat sampai disini untuk kunjungan keluar negeri saya harap bagi kalian yang miliki istri, ajaklah istri kalian karna kita akan berada disana kurang lebih 20 hari, semua di tanggung perusahaan, berhati-hatilah karna disana akan banyak jebakan apalagi untuk kalian yang sudah beristri. Saya pribadi tidak mau menanggung sesuatu jika terjadi hal-hal di luar kendali perusahaan, untuk itu bawalah istri kalian, karna nantinya disana akan ada banyak godaan, paham!" ucap Hanil tegas dan panjang lebar
Para karyawan dengan jabatan tinggi itu saling pandang dan tersenyum, paham akan apa yang ada dipikiran mereka Habil kembali berucap.
"aku langsung pulang, kosongkan jadwal ku hati ini. Istriku sedang tidak sehat" ucap Habil pada Marko yang hanya mengangguk
Habil memasuki mobilnya dan melaju lumayan cepat, dari tadi Habil menunggu pesan dari Mila akan tetapi tidak ada pesan masuk. Hal itu memantik rasa khawatir Habil.
Ketika melewati gerbang kediamannya yabg menjulang tinggi, dengan cepat Habil melangkah menuju kamarnya. Ternyata sang istriasih belum bangun juga.
"tidur apa pingsan ya?" gumam Habil, lalu ia mendekat dan memeriksa kembali suhu tubuh Mila.
__ADS_1
Habil menghela napas lega kala merasakan bahwa suhu tubuh istrinya sudah normal. Merasa ada yang menyentuh pipinya, Mila membuka matanya dan tersenyum manis kepada sang suaminya.
Habil terlihat sangat gagah dengan pakaian yang sudah sedikit berantakan, Mila mengerjapkan matanya melihat betapa tampan sang suamu.
Lengan kemeja sudah di gulung sampai siku, dasi sudah terlepas hanya menyampur di pundaknya, belum lagi kancing kemeja nya yang di buka bagian atasnya.
"apa masih pusing?" pertanyaan Habil membuyarkan lamunan Mila
"hem, susah" ucap Mila malu-malu
"mau mandi sekarang, mas siapkan air hangat ya" ucap Habil, Mila hanya mengangguk karna badannya masih lemas.
Habil menyiapkan air hangat lalu keluar dan menyuruh Mila mandi.
Selama Mila mandi Habil mengganti sprei dan memasangnya dengan yang bersih. Ia mengganti sprei berwarna putih bersih dan polos tanpa corak dan terkesan manis.
Mila yang keluar pun terkejut Habil masih memasang sarung bantal dan guling, Mila mematung melihat apa yang di kerjakan Habil.
"ternyata memang benar dia sangat pembersih" gumam Mila lalu melangkah menuju ruangan khusus pakaian.
__ADS_1
ππππππ**