
\*\*\*\*\*\*\*\*
**Di markas tuan Diego Sanjaya ia melihat hasil laporan abak buahnya yang ia kerahkan untuk mencari tahu dimana Mila bekerja, ternyata kafe tempat Mila bekerja di bawah pengamanan Diego sendiri pihak kafe memang membayar dengan harga fantastis sesuai dengan kinerja bawahan Diego sendiri. Terbukti selama ini pemilik kafe yaitu Jovan tak pernah komen.
"dia putriku, jaga dia 24 jam jangan sampai lengah paham, dan kau jaga putraku besoj dia mulai masuk kuliah" titah Diego pada orang kepercayaan nya, sementara sang istri masih enggan menemuinya Diego paham tak mudah menerima ini semua terlebih lagi tentang kematia yang seolah-olah terjadi.
Lama Diego termenung ponsel nya bergetar tertera bama nyonya Dewanto**
"***ada apa? apa istriku sudah siap bertemu?" tanya Diego to the point
"sudah aku sudah membujuk nya"
"baiklah kapan dan dimana aku menemuinya"
"heii,, sabar dulu mungkin istrimu sedang menyiapkan jurus mematikannya" ponsel bu Maryam sudah berpindah ke tangan suaminya***
Deigo termenung mendengar tuan besar Dewanto yang berbicara 'istri dan suami sama saja' gumam Diego
"***jadi kapan?" tanya Diego singkat
"siang ini aku atur pertemuanmu kau bersiap lah, tapi ingat tak ada yang gratis" ucao pak Sultan menyeringai
__ADS_1
"cihhh ,, kau tamak sekali apakah harta yang kau miliki masih kurang" jawab Diego jengah
"aku tak kekurangan harta" Sultan menjawab sambil menatap wajah istrinya yabg juga tersenyum penuh arti
"katakan" tegas Diego
"aku mau putrimu jadi pengantin untuk putraku***"
Diego terdiam menimbang, urusan percintaan ia memang tak mau turut campur apalagi memaksa
"***aku tak berjanji masalah hati jangan terlalu di paksakan"
"cukup dukung saja"
"kau meragukan putraku"
"bukan seperti itu kau juga sudah mempunyai anak pasti tahu apa yang aku rasakan" tegas Diego
"baiklah, sore nanti temui Laila di kafe XX jam 4"
"hem***"
__ADS_1
**sambungan pomsel terputus Diego bernapas lega setidaknya sang istri mulai mencair.
*
Sementara di perusahaan Mila yang sudah selesai mandi mengintip dengan kepala nya melihat-lihat memastikan di ruangan ini tak ada orang, dan benar saja netra Mila menatap di atas ranjang terdapat paper bag Mila mengambil pakaian yang ada didalam nya, dengan gesit Mila memakai pakaian itu lengkap dengan dalaman nya.
Dress selutut dengan lengan sesiku warna peach sangat oas di tubuh Mila, Mila merapikan rambutnya dan bersiap keluar karna sore ini ia harus bekerja.
Mila membuka pintu dan melihat ruangan kantor Habil yang luas, Mila tak habis pikir ruangan luas dan nyaman harum maskulin menguar ke setiap sudut ruangan ini.
Tampak lah seorang pria dengan kemeja navy nya yang ia gulung pakaian kali ini terlihat santai karna satu hari ini kantor diliburkan dan hanya pekerja kebersihan yang masuk membersihkan sisa pesta semalam.
Habil yang sadar akan kehadiran Mila pun menoleh Habil terpaku melihat Mila sangat anggung mengenakan dres itu tak mau terlena Habil bangkit dari duduk nya
"kita sarapan dulu" ucap Habil pada Mila yang diam mematung di depan pintu kamar
"hemm,, iiya" jawab Mila ia memang sudah lapar ternyata pria ini pengertian batin Mila
"setelah ini aku antar pulang"
"terima kasih" balas Mila mulai memakan sarapan itu dengan tenang
__ADS_1
……bersambung**………