
**πΉπΉπΉ
Hari pun berganti tak terasa kedekatan Mila dan Habil sudah terjalin 2 bulan lamanya, dan dari sanapun Habil tak pernah lalai menjaga Mila Habil mengantar jemput Mila dan Mila sekarang tinggal di apartmen yang dulu ia tinggali bersama sang bunda, awalnya orang tua Mila bersikeras agar Mila tak tinggal terpisah tapi karna jarak tempat kerja Mila yang jauh mereka mengizinkan anaknya untuk tinggal terpisah.
Sampai suatu malam Mila merasa badannya kurang fit akhir-akhir ini, ketika Habil menjemputnya jam 11 malam ia melihat ada yang berbeda dengan Mila wajah nya pucat dan sedikit pendiam biasanya ada saja yang Mila tanyakan pada Habil.
"kamu sakit La?" tanya Habil yang masih menyetir, Habil tak memperbolehkan Mila menyetir sendiri alhasil mobil yang Mila beli hanya menjadi penunggu basement apartmen, hanya sesekali Mila memakainya karna Habil lebih sering menyempatkan waktunya.
"cuma pusing mas" jawab Mila
Habil menempelkan punggung tangan nya di kening Mila, alangkah terkejut nya Habil merasakan suhu tubuh Mila yang tinggi tanpa bertanya Habil segera kerumah sakit untuk memeriksa keadaan Mila.
Mila hanya menurut ia tak mampu untuk berbicara karna ia merasa sangan pusing dan badannya mulai menggigil, sepulang dari rumah sakit Habil memakaikan jasnya pada Mila yang terlihat kedinginan Habil juga mematikan ac mobilnya.
Sampai di apartmen Habil memapah Mila kekamarnya ia menyelimuti Mila dan mengompres Mila agar suhu tubuhnya turun. Saat di periksa tak di temukan apapun dokter mengatakan Mila hanya kecapean saja dan butuh istirahat total.
"pulang ke mansion bunda saja ya?" tanya Habil lembut
__ADS_1
"nggak mas, jangan ganggu bunda Mila tak apa disini saja" ucap Mila
"ya sudah mas yang akan ngurus kamu, sekarang makan dulu dan minum obatnya"
"mulutnya pahit mas"
"sedikit saja ya makan ya mas suapin" rayu Habil
Mila hanya menurut saja jika dibantah maka Habil semakin memaksa nya. Hubungan mereka memang semakin dekat, tapi Habil sangat daoat di percaya sejauh ini Habil hanya berani menggenggam tangan Mila saja tak lebih, ia sangat menjaga dan tak mau mengambil kesempatan dalam kesempitan.
Habil dengan telaten menggerus obat, Mila yang tak bisa menelan obat secara langsung sebenarnya ia juga takut minum obat maka malam ini Habil pun di buat pusing karna Mila tak mau meminum obat nya.
"sekarang tidurlah mas akan menjagamu, mas akan tidur di sofa" ucap Habil
"terima kasih ya mas" ucap Mila lemah
Mila tertidur setelah meminum obat, Habil pun merogoh sakunya dan menelpon Marko menanyakan jadwalnya besok.
__ADS_1
"apa aku ada jadwal penting besok?" tanya Habil
"tidak ada, kenapa jangan bilang kau tak masuk"
"besok kau handle aku ada urusan" ucap Habil singkat
"baiklah tuan semoga urusan anda lancar" ucap Marko dengan nada sindiran
Habil mematikan sabungan telpon dan tak menghiraukan sindiran dari asisten sekaligus sahabatnya itu, ia menatap Mila yang tertidur pulas karna pengaruh obat.
Habil tadi memaksa Mila untuk pulang ke kediaman orang tuanya, tapi jawaban Mila sungguh tak ia duga, Mila berkata ia tak mau mengganggu waktu bunda dan ayahnya yang baru beberapa bulan bertemu.
Habil bersandar di sofa dan menatap Mila
"sepertinya aku harus segera menghalalkannya" gumam Habil berdiri lalu beranjak menuju balkon untuk menyesap rokoknya**.
*
__ADS_1
**
*