Istriku Penyanyi Malam

Istriku Penyanyi Malam
126 Kepulangan


__ADS_3

πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Hari ini adalah hati yang ditunggu Mila, sudah satu bulan lebih 3 hari ia berada di negeri orang. Ia mengemas pakaian dan beberapa oleh-oleh untuk keluarganya di indo. Sebenarnya Mila tak membeli apapun, semua ini adalah hadiah dari Queen El. Mulanya Mila menolak karna ia sendiri sedikit ngeri melihat bandrol oleh-oleh tersebut, akan tetapi dengan paksaan dan desakan Queen akhirnya ia menerima semua itu.


"sayang, sudah siap?" tanya Habil yang masih mengancing kemejanya. Melihat itu Mila mendekat dan membantu suaminya.


"sudah mas, tinggal di bawa saja" ucap Mila seraya memasang kancing kemeja Habil


"nanti biar Marko yang urus kita akan makan dahulu oke!" ucap Habil, Mila hanya mengangguk dan tersenyum


Mereka bergandengan tangan seperti pasangan remaja yang di mabuk asmara. Sampai di lantai bawah, ia di hadang pria bermata sipit dan juga tampan.


"maaf, presdir boleh minta waktunya sebentar?" tanya Lee Chen


Mila dan Habil saling pandang, lalu Habil mengangguk.


"kita bicara disana saja, waktu kami tak banyak" ucap Habil tak kalah tegas


"baiklah" jawab Lee


Habil tak melepas genggamannya di jemari Mila, ia terus menggenggam tangan lentik istrinya itu. Semua itu di pandang Lee dengan tatapan kosong.


"silahkan, apa yang ingin di bicarakan" jelas Habil, ketika mereka telah duduk berhadapan

__ADS_1


"sebelumnya saya pribadi ingin meminta maaf tuan, saya sungguh malu atas perlakuan istri saya yang tidak bermoral. Saya meminta maaf kepada anda dan nyonya" ucap Lee Chen dengan pandangan menyesal.


Mila melihat ketulusan di mata pria itu, Mila berpikir bahwa rumah tangga pria di hadapannya ini memang tidak sehat. Sangat kentara pada waktu pertemuan 2 hari yang lalu istrinya seperti tak ada raut penyesalan.


"saya sudah memafkan presdir Lee, mungkin dapat di petik pelajarannya dan semoga istri anda sadar apa yang ia lakukan salah" ucap Habil tegas


"terima kasih tuan, nyonya atas kemurahan hatinya" ucap Lee menunduk, ia sangat malu karna sudah berapa kali ia mendapati istrinya terlibat konflik seperti ini. Bahkan ia juga ikut turun tangan


"maaf tuan Lee, harus ada ketegasan dan komunikasi baik dalam berumah tangga agar rumah tangga harmonis. Maaf jika sata berkata seperti ini karna saya sendiri pun wanita dan suami saya juga tak segan memberikan arahan jika saya sedang tersesat" ucap Mila. Lee hanya menunduk mendengar perkataan Mila, ia pun menyadari bahwa bukan sekali ini saja sang istri membuat malu. Memang pernikahan mereka karna perjodohan, Lee bisa menerima Liu dengan sabar. Akan tetapi istrinya malah sengaja menabuh genderang perang, bahkan si 3 tahun pernikahan mereka velum memiliki anak.


"terima kasih sarannya nyonya, sekali lagi saya minta maaf saya permisi" ucap Lee menunduk lalu pergi meninggalkan Habil dan Mila yang sedang menunggu makan siangnya.


"mas, sepertinya presdir Chen itu baik ya?" ucap Mila


"mas mengenal dia?" tanya Mila


"yah, mas sering melihat dan sesekali mengobrol kalau ada pertemuan di luar negeri. Perusahaannya juga maju, dia bergerak dibidang tekstil. Tapi sayang, sementara di blokir masuk pasar negara ini" jelas Habil, Mila mengangguk paham.


Setelah berbincang, akhirnya makanan yang dipesan datang juga. Pasangan suami istri itu makan dengan tenang. Setelah selesai mereka langsung memasuki mobil, karna jadwal pulang sudah 1 jam lagi. Sedangkan barang-barang sudah Marko bawa semuanya.


Mila yang sudah kenyang akhirnya tertidur dipelukan suaminya. Sampai di bandara pun Mila masih lelap, Habil yang tidak tega akhirnya menggendong istrinya masuk ke dalam pesawat mewah itu. Tidak biasanya Mila tidur selelap ini, Habil sedikit heran karna biasanya teesentuh lengannya atau bagian tubuhnya sedikit saja pasti akan bangun. Tetapi kali ini, Mila sangat lelap tanpa terganggu sedikit pun.


Setelah memakan waktu lebih dari 10 jam akhirnya mereka sampai di Jakarta dengan selamat. Mila pun masih setia tertidur, Habil mencoba membangunkannya akan tetapi Mila malah mengeratkan pelukannya kepada suaminya.

__ADS_1


Habil kembali menggendong Mila sampai ke mobil pribadinya, ia sudah di jemput dengan supir kantornya.


Sampai depan kediaman mereka, Mila mulai menggeliat dan menguap.


"mas, kita dimana?" tanya Mila dengan wajah bantalnya


"di rumah sayang, kita susah sampai" jawab Habil, Mila hanya mengangguk, sedetik kemuadian ia tersadar


"ya ampun, mas kita sudah sampai di Indo. Mas kenapa nggak bangunin Mila sihhh" ucap Mila merengek,


"sudah mas bangunkan, tapi kamu lelap sayanh jadi mas biarkan. Bahkan saat di pesawat saja kamu tidak mau makan dan kembali tidur" jelas Habil seraya merapikan rambut Mila yang sedikit berantakan, Mila hanya diam memeluk suaminya. Ia juga kurang paham berjalan saja ia malas.


"mas, capek nggak?" tanya Mila mendongak mengahadap netra sang suami. Habil yang mendengar itu hanya menggeleng.


"kenapa?" tanya Habil


"mau gendong ya masuknya" ucap Mila seraya menenggelamkan wajahnya ke ceruk leher sang suami. Habil hanya tersenyum lalau membuka pintu mobil dan menggendong istrinya. Jarang sekali istrinya mau bermanja seperti ini.


"baiklah tuan putri, ayo kita masuk" ucap Habil menggoda Mila yang hanya tersenyum mendengar ucapan suaminya


(maaf ya banyak TYPO) πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™πŸ™


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•

__ADS_1


__ADS_2