
**πππππ
Hari berganti bulan, tak terasa kandungan Mila sudah mulai membesar. Bahkan tak jarang suami nya itu menceramahi Mila karna khawatir. Mila tak habis pikir sikap suaminya berubah 180 derajat.
Habil yang dahulu irit bicara sekarang bermetamorfosa menjadi cerewet dan posesive berlebih, menurut Mila. Seperti sekarang ini, Mila tal dibiarkan turun dari ranjang karna haus dan kehabisan minum yang biasa diletakkan diatas nakas.
Padahal Mila sudah sangat pelan bergerak turun dari ranjang, akan tetapi suaminya masih menyadarinya. Alhasil Habil yang mengambilkan air, bukan tanpa alasan Mila tak tega membangunkan suaminya karna Habil baru menyelesaikan tugas kantornya dini hari tadi.
Mila menghela napas halus kala memandang pintu sudah terbuka menampilka sosok gagah sang suami yang hanya berbalut boxer saja. Mila tak habis pikir semakin kesini suaminya terlihat hot dan sexy.
Sadar akan pikiran liarnya, Mila menggelengkan kepalanya guna menampik pikiran yang datang tak tahu waktu itu.
__ADS_1
"mas sudah bilang, lain kali bangunkan mas. Jangan bandel" ucap Habil seraya menyodorkan minum kepada Mila
"Mila kan bisa sendiri mas, hitung-hitung olahraga loh"
"olahraga, lihat sayang ini jam 2 dini hari. Harusnya kamu masih terlelap. Akh,,, ini juga salah mas tadi lupa mengontrol air minum kita" ucap Habil, membuat Mila menganga. Mengapa jadi menyalahkan dirnya sendiri pikir Mila. Jangan-jangan jikalau Mila bangun ingin buang air kecil suaminya juga akan menyalahkan dirinya juga. Mila menghela napas halus, ia juga bingung jarus bagaimana memberitahu suaminya bahwa dirinya sehat dan baik-baik saja.
"mas sini" ucap Mila menepuk samping kasurnya, Habil langsung duduk dan memijat pundak istrinya.
"memang ada apa, kamu pegal apa sakit atau apa??" tanya Habil
"mas, Mila cuma mau bilang kalau Mila sehat walafiat, Mila nggak merasa keluhan apapun jadi, apa mas bisa mengendalikan diri jangan terlalu protektif mas, Mila beneran sehat loh" ucap Mila menghadap suaminya. Ia sudah tak bisa memendam kekesalannya lagi.
__ADS_1
Habil yang mendengar hasil protesnya pun menatap Mila dalam, ia hanya khawatir terhadap istrinya. Memang berlebihan tapi Habil tak mau kecolongan seperti sebelumnya. Cukup kejadian dimana Maria ingin mencelakakan istrinya saja, bagi Habil itu yang terakhir ia tak mau lagi gagal menjaga tiga nyawa kesayangannya itu.
"sayang, tolong mengerti mas. Mas hanya khawatir, mas nggak mau sampai kamu dan baby kenapa-napa" ucap Habil seraya menangkup pipi chuby sang istri
Mila menatap dalam manik mata suaminya, Mila senang tapi ia juga risih jikalau ia tak boleh melakukan apapun, semuanya selalu di pantau. Jika suaminya pergi maka cctc pun tak bisa dielakkan Mila. Bahkan jika keluar sekejap pun Habil tak lupa membawa tablet guna memantau istri gemoy nya itu.
"iya mas, Mila paham mas sangat menyayangi kami, tapi Mila juga butuh olahraga mas, nas dengar sendiri bukan dokter bilang apa, Mila bisa susah melahirkan kalau Mila malas-malasan" jelas Mila
Habil paham bahkan sangat paham apa yang Mila sampaikan, entahlah rasa posesivenya seketika menjadi-jadi saat Mila hamil sekarang ini.
"baiklah, tapi jangan terlalu memaksakan diri. Kalau sampai kenapa-napa jangan salahkan mas jika mas akan mengurungmu di kamar" jawab Habil pasrah, Mila yang mendengarnya pun terkekeh. Hukuman macam apa itu dikurung dikamar, ditemani suami dan di beri makanan. Mila tertawa geli menatap suaminya itu.
__ADS_1
πππππππ**