
*****
**Mila mengerjapkan mata nya ia meraba tangan nya yang sudah terpasang infus , mata nya mengitari ruangan yang hanya di huni nya sendiri. Mila mendapati sesosok pria duduk membelakangi nya menatap keluar jendela .
"emmm,,, maaf bisa bantu saya?" ucapa Mila lemah
Habil membalikkan badannya dan melangkah mendekati Mila.
"kau sudah sadar, apa mau minum?" tanya Habil
Mila hanya mengangguk kecil, Habil pun mengambilkan Mila minum.
Mila masih tertegun membayangkan kamar yang ia tempati, sampai Habil berada di dekat nya.
"ini minum nya" Habil menyodorkan gelas nya.
Mila pun meneguk air itu hingga tandas lalu memberikan gelas itu kembali .
"emmm ,,, maaf tuan,,,
"Habil namaku Habil kau bisa panggil apa saja" tegas Habil enggan di panggil tuan.
"i,,,iya apa aku boleh memanggil mu mas sepertinya kau lebih tua dariku" ucap MMila kikuk.
Habil mengangguk tanda persetujuan , tapi ia tak setuju kalau dikatakan lebih tua, Habil tak setua itu kan.
"emmm,,, mas apa bisa pindahkan saya di kamar yang biasa saja?" ucap Mila
"kenapa ??? bukan kah ini lebih nyaman" tanya Habil heran
'iya sihhh nyaman ,, tapi kan kamar ini bisa menguras tabungan ku malah nombok yang ada' batin Mila.
"maksudku ,, kamar ini terlalu mahal tuan ,,, ehhhh maaf maksud ku mas" jelas Mila ia tak mau menghabiskan uang nya yang susah payah ia kumpulkan.
"tak perlu memikirkan biaya , aku sudah mengurus semuanya , sekarang yang kau fokuskan hanya penyembuhan mu , kau terkena tipes" tegas Habil
"dan maafkan aku karna tak sengaja menamparmu malam itu, aku tak bermaksud" lanjut Habil
"tak apa mas saya paham dan saya tak tahu apa permasalahan kalian, yang jelas jangan gunakan kekerasan mas tak baik" ucap Mila lembut.
"maaf mas apa aku boleh meminjam HP mu , aku mau menghubungi no kafe" ucap Mila
Habil langsung memberikan HP nya kepada Mila.
Mila nenelpon no kafe dan diangkat oleh Jo.
"maaf bang Mila tak bisa mengisi panggung beberapa hari , Mila di rumah sakit bang Mila dirawat" ucap Mila pada bang Jo
__ADS_1
"hah,,, kau dirawat rumah sakit mana La , nanti aku akan kesana bersama istriku, soal pekerjaan tak masalah", seru Jovan di seberang sana,
"Mila di rumah sakit XX bang ,sekali lagi terima kasih ya bang"jawab Mila lalu sambungan itu pun mati.
Mila pun memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.
Sedari tadi Habil menyimak percakapan mereka , Habil baru sadar Mila adalah penyanyi yang pernah ia temui dan pernah tak sengaja menumbur nya juga.
"namamu Mila?" tanya Habil
"iya mas nama saya Mila maaf saya lupa memberitahu" jawab Mila menunduk
Hari itu benar-benar di habiskan Habil di rumah sakit, sore hari Habil meminta twins mengirimkan tas milik Mila yang tertinggal di rumah nya .
Di ruangan itu tak ada yang membuka suara , mereka saling diam tak ada yang berniat membuka percakapan.
"emmm, mas saya mau ke kamar mandi" ucap Mila
"sebentar saya panggilkan perawat wanita dulu , tunggu sebentar ya" Habil keluar memanggil perawat .
Setelah memanggil perawat Habil segera ke luar untuk membeli salin untuk Mila .
Habil tak paham pakaian wanita pun meminta bantuan pelayan itu untuk mencarikan perlengkapan wanita, sedangkan baju nya Habil memilih piyama berwana ping lengan pendek dan celana nya panjang.
Tak lama Habil mengetuk pitu kamar ternyata suster itu masih disana membantu Mila yang belum keluar dari kamar mandi.
"baik pak" ucap suster sopan
Didalam kamar mandi......
"mbak ini pakaian ganti nya " ucap suster menolong Mila memegang infus nya.
"dari siapa mbak," tanya Mila penasaran
"itu bapak yang menunggu mbak tadi pagi " jelas suster tersebut.
Mila melamun tak enak hati, rumah sakit sudah ia yang bayar masih di belikan salinan.
Mila keluar mengenakan piyama itu, suster itu pun keluar dan Habilpun langsung masuk kedalam ruangan itu.
Benar ,,,,, dilihat nya Mila sudah mengenakan piyama yang ia beli di seberang rumah sakit tadi , pakaian itu sangat pas ditubuh Mila.
"emmm,,,, mas terima kasih pakaian nya seharus nya tak perlu repot-repot begini" ucap Mila tak enak hati.
"tak apa anggap saja tanda permintaan maaf atas kejadia malam itu , jangan sungkan" lalas Habil
"tapi saya sakit bukan karna itu mas , saya memang ada penyakit bukan karna kejadian itu mas" tegas Mila ia tak mau nanti di kira memanfaatkan kejadia malam itu.
__ADS_1
"iya memang kamu ada penyakit tapi tetap saja kamu pingsan karna tamparanku yang terlalu kuat" sesal Habil
Mila yang ingat kejadian malam itu bergidik ngeri ,, ia tak menyangka sosok pria yang berwajah tampan dan hangat ini bisa berubah menjadi kelam ketika emosi..
Tak sadar Mila mengusap pipi nya yang sudah tak selebam seperti malam itu.
Mila hanya tersenyum memandang Habil yang menatap nya dengan perasaan bersalah.
Tak berselang lama pintu di buka , datang nya sepasang manusia dengan jalan yang tergesa-gesa.
"ya ampun La , mengapa tak mengabari ku kau ini , apa kata dokter La kau sakit apa?" tanya Retno bertubi-tubi.
Mila hanya tersenyum menanggapi sikap khawatis Retno.
"aku tak apa mbak sekarang sudah lebih baik" ucap Mila meyakinkan sepasang suami istri yang sudah ia anggap seperti saudara nya itu.
"tak apa bagaimana La wajah mu pucat sekali dan kau di pasang infus, kau sakit apa kata dokter La?" cas Retno
"hanya tipes mbak , kata dokter harus dirawat beberapa hari disini" jawab Mila
Mereka berbincang seperti biasa tanpa menyadari ada seorang pria yang menyaksikan percakapan mereka.
Ketika berbalik Retno mendapati seorang pria yang santai duduk di sofa.
"loh siapa ini La" tanya Retno dan Jovan
'dari tadi baru sadar' batin Habil menatap datar kearah mereka.
"kau tak bilang sudah memiliki kekasih La?"ucap Jovan tersenyum ke arah Habil.
"bukan bang dia......
"tak usah malu , tak apa kau sudah waktunya mengenal pria kau sudah dewasa La jangan malu begitu" sambar Retno yang belum mendengar penjelasan Mila
"buka begitu mbak,,,diaaaa
"kami tak akan menggoda mu Mila jangan tutupi apapun tak baik" ucap jovan
Habil yang mendengar pun kaget , belum mendengar penjelasan Mila tapi sudah menggiring opini yang bukan-bukan batin Habil.
"apa kalian tak mau mendengarkan penjelasan Mila" tegas Habil
Retno pun menatap Mila meminta penjelasan.
"dia yang menolong Mila mbak, bang " tegas Mila. Mila tak enak hati dengan Habil yang terlihat risih mendengar celotehan pemilik kafe tersebut**.
**********
__ADS_1