Istriku Penyanyi Malam

Istriku Penyanyi Malam
Bab 23 Hujan Berlanjut


__ADS_3

*****


Mila ragu untuk menjawab pertanyaan bu Maryam, tetapi Mila tak mau menyembunyikan jati diri nya.


"Mila kerja nyanyi bu , ngisi panggung di kafe XX sampai malam" jawab Mila


"wahh,,, berarti suara mu bagus dong mila" balas bu Maryam antusias


"mamah juga suka loh dengar musik, papah juga iya kan pa" sambung bu Maryam di balas anggukan kecil sang suami.


"mamah jangan meragukan suara kak Mila mah ,, suara nya sangat merdu dan indah seperti orang nya" ucap Hana antusia


Twins sangat senang apalagi Mila memakai jam tangan yang mereka berikan.


Mereka berkumpul di meja makan dan mulai menyantap hidangan itu. Mila pun makan dengan serius , hanya keheningan yang ada di meja makan itu sampai mereka semua selesai.


"kak jam nya sangat pas dengan kakak, cantik dan cocok sekali" ucap Hani


Mila hanya tersenyum sambil meneguk air putih.


"iya , sangat cocok abang memang pandai menilih barang untuk wanita" balas Hana dengan suara yang sengaja di keraskan.


Mila yang sedang minum pun sampai tersedak.


,uhukk,,uhukkk,,,


"pelan-pelan kak ," ucap Hana yang berada di samping Mila.


Habil hanya menatap datar sang adik , sedangkan bu Maryam hanya tersenyum simpul.


Memang tak salah bersekutu dengan anak kembar nya itu pikir sang ibu.


Setelah bersantai Mila pun segera pamit melihat jam sudah menunjukkan pukul 9 lewat.


Mendengar Mila pamit twins segera mamanggil sang kakak di ruang kerja nya.


tok,,tok,,


"abang kak Mila mau pulang" ucap Hana sambil tersenyum penuh arti.

__ADS_1


Melihat sang adik tersenyum Habil hanya membuang nafas nya kasar , adik nya ini memang bersekongkol dengan ibu nya maka dari itu Habil tak bisa menolak.


Habil menaruh kaca mata baca nya dan mengambil jaket.


Twins yang sudah sampai duluan pun tak ingin ketinggalan momen romantis ini menurut nya.


Mila segera berpamitan dengan keluarga Habil.


Habil keluar lebih dulu , ia memilih menggunakan motor agar cepat sampai.


"hati-hati ya , lain waktu main lagi kesini pintu rumah mamah selalu terbuka untuk kamu" ucap bu Maryam antusias , di fikiran nya hanya ingin cepat memiliki menantu , ia tak berfikir Habil mau atau tidak , fokus nya hanya bagaimana cara nya srdikit memaksa mereka.


Soal cinta hanya perlu terbiasa menurut nya.


Bu Maryam pun masuk ke dalam rumah nya , ia melihat cuaca diluar tadi memang sangat gelap ia tersenyum melihat alam mendukung nya.


Habil melajukan motor nya sedikit kencang ia melihat malam sangat gelap tanda-tanda hujan akan segera turun.


Tak berselang lama hujan mulai turun dan semakin deras , tidak memungkinkan untuk berkendara Habil pun menepi di depan mini market.


Mereka turun setengah berlari menunggu hujan reda di tepian.


Habil yang melihat nya pun langsung melepaskan jaketnya dan menyelimuti tubuh Mila dengan jaket.


Mila terkejut mendapat perlakuan dari Habil , ia menerima jaket itu karna ia pun kedinginan.


"apa kau tak dingin mas?" tanya Mila pada Habil


"tak apa kau saja yang pakai" balas Habil singkat.


Habil hanya terbalut kaos oblong hitam ketat , dan terlihat jelas di mata Mila badan Habil sangat gagah Mila sedikit tercengang , ia biasa melihat Habil dengan pakaian formal ternyata menggunakan pakaian santai malah terlihat lebih macho.


Mila menggelengkan kepala nya menjauhi fikiran nya yang mulai mengganggu.


Hujan deras mulai berganti rintik-rintik mereka masih berdiri dan saling diam , sampai akhitnys Mila membuka suara.


"seperti nya sudah reda , kita bisa lanjut kan sudah tak seberapa jauh lagi" ucap Mila


"baiklah" jawab Habil

__ADS_1


Hanya itu batin Mila mendengar jawaban singkat Habil.


"seperti bicara bayar saja , irit sekali" gumam Mila tapi masih dapat didengar Habil.


Habil hanya tersenyum samar mendengar ucapan Mila.


Mila menyerahkan jaket yang ia kenakan tadi kepada Habil karna menurut nya Habil pasti lebih merasa kedinginan di bandingkan dengan diri nya yang berada di belakang Habil.


Habil sempat menolak nya karna ia merasa Mila lebih membutuhkannya.


"aku kan di belakangmu tak terlalu kena angin , kamu saja yang pakai mas" ucap Mila lembut


Habil yang malas berdebat panjang kali lebar pun mengalah dan mengambil jaket tersebut dan memakai nya.


Mereka mulai melajukan kendaraan tersebut sampai di kontrakan Mila , mereka setengah basah karna Mila memaksa menerabas hujan yang datang kembali.


Sampai dikontrakan Mila menawarkan Habil untuk masuk.


"mau masuk dulu mas" tanya Mila sungkan


"iya lah , hujan deras sperti itu bajuku pun basah" jawab Habil


Mila hanya mengerucutkan bibir nya saja mendengar jawaban Habil terkesan sinis.


Mila membuka kunci dan masuk di susul Habil.


Jika menunggu diluar pun sama saja karna hujan bercampur angin.


Mila masuk kedalam kamar dan mengambil handuk untuk Habil.


Mila pun sedikit sungkan karna tak pernah ada tamu laki-laki selama ini, beruntung tinggal di kota tak seperti tinggal di kampung. Jila di kampung di pastikan akan menjadi kabar hangat keesokannya.


"tak usah khawatir , aku masih memegang teguh ajaran agama ku , kau tak perlu takut" ucap Habil , ia melihat gelagat Mila yang memang terkesan takut.


"ti,,tidak , aku tidak takut , ini handuk keringkan lengan dan wajah mu" ucal Mila ,,


Kemudian ia melihat baju Habil lumayan basah , akhirnya Mila pun kembali ke kamarnya dan membuka lemari mengambil kaos oblong miliknya , daripada basah lebih baik pakai baju ini fikir Mila.


*********

__ADS_1


__ADS_2