Istriku Penyanyi Malam

Istriku Penyanyi Malam
128 Meeting Menguras Kesabaran


__ADS_3

**πŸŒΉπŸŒΉπŸ’•πŸ’•πŸŒΉπŸŒΉπŸ’•πŸ’•


Malam itu Habil dan Mila tidur dengan lelap, lebih tepatnya Mila sangat lelap tidur di pelukam sang suami. Bahkan untuk bergerak pun Habil susah, ia menikmati kemanjaan isrinya. Habil berpikir mungkin karna efek oa hampir terjebak kemarin, hingga sang istri tak sungkan mengungkapkan cinta dengan sikap manjanya.


Seperti biasa Mila sudah bangun waktu dini hari, kebiasaan itu susah untuk di hilangkan. Dengan perlahan ia beranjak dari peraduan itu lalu menyiapkan perlengkapan suaminya. Pagi ini Habil akan mengadakan meeting dengan para petinggi dan juga karyawan perusahaan.


Mila juga menyiapkan pakaiannya, ia akan membuntuti suaminya kemanapun. Mila pun bingung ia tak bisa berjauhan dengan sang suami barang sekejap saja.


"nah, ini pakaian yang tidak bikin gerah" gumam Mila, setelah itu ia mandi. Seperti biasa ia akan menghabikan berjam-jam hanya untuk mandi saja. Setelah siap ia menyiapkan air untuk mandi suaminya.


Benar saja saat Mila keluar Habil telah duduk bersandar di kepala ranjang, ia menengok dan melambaikan tangannya pada Mila.


Dengan santai Mila mendekati suaminya dan duduk di pangkuan.


"kenapa bangun sendiri hem?" tanya Habil seraya mendusel di ceruk leher sang istri


"mas kan masih tidur"


"morning kiss" ucap Habil


Dengan senang hati Mila memberikannya bertubi-tubi. Setelah selesai manja-manjaan Mila beranjak dan menyuruh sang suami agar segera mandi.


"mandi mas, udag Mila siapkan airnya" ucap Mila yang sedang memoles wajahnya.


"masih pagi, sebentar lagi" jawab Habil

__ADS_1


"mas kan ada meeting, nanti kalau terlalu santai jadi terlambat kan" ucap Mila, Habil pun beranjak. Ia lupa kalau hari ini ia ada meeting dengan para petinggi dan karyawannya.


Setelah selesai Habil mengelap tubuh basahnya dan menvari istrinya, karna setiap hati Mila lah yang memakaiian kemeja dan dasi nya.


"sayang, sini cepat" ucap Mila sedikit keras, Habil segera kesana dan melihat istrinya yang sudah siap.


"kok pakai baju itu?" tanya Habil


"iya mas, Mila males pake baju yang ada lengannya panas mas" balas Mila, ia memang jujur karna ia merasa hawa panas dan gerah.


"kamu mau ikut mas kan?" tanya Habil lagi, Mila mengangguk


"ganti pakaiannya sayang" ucap Habil merayu


"mas, panas. Mila nggak tahan" ucap Mila yang sudah terpancing kesal


"oke, tapi pakai cardi ini oke. Kalau tidak tak boleh ikut" ucap Hanil final


"tapi nanti panas mas" rengek Mila


"sampai kantor nanti mas atur suhu ac nya, nurut ya. Mas gk rela loh kalau tubuhmu jadi santapan mata karyawan mas" ucap Habil lembut, Mila mengangguk saja menuruti kemauan suaminya.


Setelah selesai sarapan, Habil dan Mila langsung menuju mobil dan bergegas keperusahaan.


Setelah sampai parkiran khusus, drama kembali terjadi. Sang istri tak mau turun entah apa sebabnya, dengan sabar Habil merayu ratu hatinya itu.

__ADS_1


"sayang, ayo mas akan rapat loh. Nanti kalau telat gimana kata karyawan yang lain" ucap Habil selembut mungkin.


Mila hanya diam membuang muka,


'aku kan mau nya di gendong' batin Mila, ia sangat kesal suaminya tidak peka. Padahal dari kemarin Habil selalu peka.


Habil menelpon Marko agar datang dan membawa perlengkapan kantor Habil yang berada di mobil.


Setelah Marko datang Mila membuka pintu dengan kasar memanggil Marko.


"iya, nona. Ada yang bisa saya bantu" ucap Marko formal


"gendong aku sampai ke dalam" ucap Mila ketus. Habil yang mendengar itupun langsung membola.


"hei,, sayang kenapa minta sama jomlo itu. Kan ada mas disini" ucap Habil sedikit geram, ia menatap Marjo dengan tajam. Marko yang mengerti situasi segera mengambil perlengkapan Habil dan berlalu dari sana.


Tanpa basa-basi Habil langsung menggendong istrinya. Wajah Mila masih ditekuk membuat Habil sadar, bahwa Mila sedari tadi tak mau keluar karna nau di gendong.


'sepertinya aku harus belajar bahasa wanita, kode-kode seperti ini penting rupanya' batin Habil


"jangan marah ya, mas minta maaf tadi kurang peka" ucap Habil lembut.


Habil melangkah dengan pasti, ia tak menghiraukan banyak pasang mata menatap kearah mereka, banyak karyawan yang tertunduk malu. Yang terpenting ia selamat dari amukan singa betina di gendongannya ini.


(maaf ya jika banyak TYPO)

__ADS_1


πŸ’•πŸ’•πŸŒΉπŸŒΉπŸ’•πŸ’•πŸŒΉπŸŒΉ**


__ADS_2