
**πΉπΉπΉ
Dentuman musik yang memaksa tubuh bergerak mengikuti irama, tak ada lelah dirasa para penikmat musik malam ini. Dikeremangan cahaya Mila pun tersulut suasana yang kian erotis tubuhnya bergerak disisi Habil, keterkejutan akan calon suaminya ia simpan nanti sekarang pun ia mulai menikmati setiap irama yang menerpa tubuhnya.
Mila tak jauh dari Habil yang berada di arena tertinggi, dua sosok yang juga menikmati permainan jemari Habil tersenyum penuh arti, ya orang itu adalah Zack dan Shena sudah mereka duga jika Mila tak mengetahui Habil keseluruhannya.
Mila bergoyang terbawa suasana yang memikat malam yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya, Mila tak bisa turun ke dance floor karna Habil todak mengizinkannya.
"lihatlah, gadis itu mulai menikmatinya" ucap Shena yabg menatap mereka dari jauh
"hem, tak ada yang mampu menolak pesonanya seperti aku yabg selalu tunduk kepadamu" ucap Zack seraya mencumbu leher mulus sang istri.
"berhentilah, lihat tempat sayang" ucap Shena lembut
"mereka tak melihat" pungkas Zack
__ADS_1
**
Di tempat lain di kediaman Dewanto sedang terjadi perdebatan yang menegang, entah apa yang di bahas sampai mereka semua tak ada yang mau mengalah.
"mah, twins nggak mau ya kalau abang sampai pindah dari sini!!" ucap Hana dengan Hani yang menyetujui saat hendak masuk ke kamar mereka tak sengaja mendengar orang tuanya berbicara jika rumah Habil telah siap.
"sayang jangan egois biarkan abang memilih jalannya sendiri, mereka juga tidak akan nyaman orang rumah tangga itu punya privasi sendiri" ucap Maryam lembut
"pokoknya abang nggak boleh pindah, kalau abang pindah kamu ikut" ucap Hani.
Mereka memang sangat menyayangi abangnya itu padahal jika sedang bersama mereka seringkali beradu argumen tapi itu semua hanya luarnya saja, mereka tak bisa membayangkan jika mansion besar Dewanto ini tak ada abangnya itu.
Percakapan unfaedah menurut tuan dan nyonya besar itu memang ringan permasalahan yang membuat tegang ialah twins yang seperti seorang intelejen negara, hingga sampai pukul 1 dini hari sang empu masih berdebat karna twins tak menerima nasehat dari Maryam dan Sultan.
"ini sudah malam kami mau tidur, kalian bilang sendiri sama abang mu itu" pungkas pak Sultan yang sudah jengah dengan drama yang di buat kedua putrinya itu.
__ADS_1
Dengan lesu twins meninggalkan ruangan itu, mereka melangkah gontai kekamar mereka. Mereka sangsi apakah abangnya mau menuruti permintaan mereka, jila mereka yang mengikuti abangnya maka orang tuanya akan kesepian ia juga tidak tega meninggalkannya. Dengan pikiran percaya dirinya seolah-olah abangnya akan mengajak mereka padahal Habil termasuk menghindari kedua adiknya yang berisik itu.
Sementara di kamar luas sepasang manusia yang tak lagi muda itu terkekeh geli mendengar twins yang melayangkan protes nya
"mereka pikir abangnya itu sudi di ganggu duo krucil itu" ucap pak Sultan masih dengan tawa renyahnya
"iya, mereka memang berisik" sambung Maryam juga ikut tertawa
"mereka sepertimu ma" ucap pak Sultan santai tidak tahu jika kalimat itu jadi bumerang baginya, seketika tawa Maryam itu sirna
"maksud papa apa!" ucapnya ketus
"e,,ee tak ada tidur sudah malam" pungkasnya tak mau meladeni singa yang mulai terusik bisa panjang kali lebar urusannya pikirnya.
πΉ
__ADS_1
πΉ
πΉ**