
**πππππ
Setelah memastikan istri dan calon anaknya baik-baik saja, Habil segera menelpon Marko untuk mengetahui orang yang berniat jahat dengan istrinya. Habil yakin kejadian ini di sengaja dan Habil tak mau menanggung risiko kedepannya, semua harus tuntas hari ini.
"aku menuunggumu di ruang kerja" ucap Habil melalui sambungan telpon
Setelah menutup telpon, tak lama suara jetukan terdengar dan Habil mempersilahkan masuk.
Setelah mendapat laporan dari Marko tadi, ia segera menghubungi pengawal andalannya untuk mencari orang yang ingin menabrak tadi.
"jadi apa sudah di temukan?" tanya Habil, rasanya ia tidak tenang jika membiarkan orang jahat itu berkeliaran bebas.
"sudah tuan, ini rekaman cctv di taman tadi. Dan ini semua berkasnya, mereka hanya suruhan dan dalang nya nona muda dari keluarga arnold" jelas pengawal tersebut
"nona muda keluarga Arnold, bukankah Maria?" tanya Habil, karna ia tak pernah perduli dengan gadis-gadis kelas atas
"iya tuan, saya telah mengepung kediamannya karna ia tinggal sendiri"
__ADS_1
"baiklah, pertemukan aku dengan keluarganya. Aku tak bisa berdiam diri sementara nyawa istri dan anakku dalam bahaya!" tegas Habil
"baik tuan saya permisi" ucap pengawal itu dan berlalu.
Habil tak akan membiarkan istrinya tidak tenang, terlebih lagi ada 2 bayi di dalam perut istrinya. Habil melangkah ke kamar dan melihat istrinya tertidur, ia mendekati ranjang itu dan duduk di samping istrinya. Habil mengecup kening istrinya, sampai netra terpejam itu membuka sayup-sayup.
"masβ¦β¦
"maaf mas mengganggu tidurmu" ucap Habil karna sang istri terbangun akibat ulahnya
"mas dari mana, dari tadi Mila cariin" lirih Mila dengan suara pelan karna ia masih mengantuk
"sudahlah mas, mungkin orang tadi tidak sengaja" ucap Mila yang tak mau ambil pusing
"mas sudah tahu siapa dalangnya, dan mas mohon biarkan kali ini mas hukum mereka. Mereka pantas mendapatkannya sayang, mas nggak mau kehidupan kita terutama kamu terancam kedepannya" jelas Habil, ia paham istrinya tidak mau memperpanjang, akan tetapi ia paham Maria tak kan jera jika belum di beri pelajaran. Selama ini Habil selalu diam bukan berarti dia tidak mau melawan, tapi kali ini sekalpun istrinya memohon tak akan ia lepaskan penjahat berkeliaran begitu saja.
Melihat kekhawatiran di mata suaminya, Mila mengangguk saja. Apa yang di katakan suaminya memang benar, karna Habil tidak akan berada disisinya 24 jam.
__ADS_1
"tapi jangan keterlaluan ya mas" ucap Mila seraya mengelus perut keras suaminya.
Habil yang merasakan jemari lentik itu menari di perutnya hanya melirik istrinya dan mengangkat satu alisnya.
"apa masih sakit?" tanya Habil, Mila hanya menggeleng. Karna memang ia tak merasa sakit, hanya saja suaminya lebay nya itu sibuk membawanya ke rumah sakit padahal Mila sudah ngotot tidak mau.
"jangan memancing sayang" ucap Habil karna jemari lentik istrinya tak kunjung diam malah menambah kemana-mana.
Napas Habil sudah tak beraturan, apalagi jemari istrinya meraba dada kekarnya. Habil merasa kehamilan Mila ini menjadi daya tarik baginya. Bagi Habil melihat tubuh Mila yang sekarang membuatnya bergairah setiap saat, hanya ia selalu menahan karna takut terjadi sesuatu pada kandungan istrinya.
"sayang" lirih Habil, Mila mendongak melihat ke arah suaminya. Terlihatlah mata yang sudah tertutup kabut gairah, Mila tersenyum memandangi wajah istrinya.
"mas mau?" tanya Mila, Habil seperti kerbau di cucuk hidungnya. Ia hanya mengangguk saja, dengan semangat Habil mencecap bibir istrinya.
"jika sakit beri tahu mas okey" bisik Habil, Mila hanya mengangguk pasrah.
Entahlah semenjak hamil ini Mila merasa bergairah melihat tubuh suaminya yang semakin lama semakin kekar saja. Dengan senang hati Mila membalas semua yang Habil lakukan sore itu.
__ADS_1
πππππππ
(maafkan othor ya, kemaren2 othor rewang saudara hajatan πππππ**)